Jumat, 01 Mei 2026

Menggembala Iklim di Selasar Klinik Tanaman

 Catatan Kampus Cikabayan


Penulis memanggilnya Pakde Widodo dan Pak Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yang lebih sering ditemui di antara kebun percobaan dan percakapan petani daripada ruang kelas. Di kampus, ia dikenal sebagai akademisi, tetapi di lapangan ia lebih sering menjadi pendengar daripada pemberi ceramah.

Hari itu hujan turun pelan di Kampus Dramaga. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat selasar Klinik Tanaman menjadi tempat singgah yang nyaman. Kami bertiga duduk di sana. Kopi sudah mulai dingin, tapi percakapan justru baru menghangat.

Petani, kata beliau-beliau sore itu, sebenarnya tidak pernah berhenti membaca alam. Bukan dengan istilah ilmiah, tetapi melalui tanda-tanda yang terus berulang. Dan mungkin justru di situlah letak pengetahuan yang sering kita lupakan, bahwa membaca tanda adalah bagian dari cara manusia memahami dunia.

Percakapan sore itu tidak berhenti pada kalimat-kalimat yang diucapkan. Ia seperti berlanjut diam-diam, menyusup ke cara penulis melihat ulang hubungan manusia dengan musim. Jauh sebelum istilah prediksi cuaca dan model iklim digunakan, orang-orang di Nusantara telah hidup dalam cara membaca musim yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari.