Catatan Kampus Cikabayan
Penulis memanggilnya Pakde Widodo dan Pak Bonjok Istiaji, dosen Departemen
Proteksi Tanaman IPB yang lebih sering ditemui di antara kebun percobaan dan
percakapan petani daripada ruang kelas. Di kampus, ia dikenal sebagai
akademisi, tetapi di lapangan ia lebih sering menjadi pendengar daripada
pemberi ceramah.
Hari itu hujan turun pelan di Kampus Dramaga. Tidak deras, tapi cukup untuk
membuat selasar Klinik Tanaman menjadi tempat singgah yang nyaman. Kami bertiga
duduk di sana. Kopi sudah mulai dingin, tapi percakapan justru baru menghangat.
Petani, kata beliau-beliau sore itu, sebenarnya tidak pernah berhenti membaca
alam. Bukan dengan istilah ilmiah, tetapi melalui tanda-tanda yang terus
berulang. Dan mungkin justru di situlah letak pengetahuan yang sering kita
lupakan, bahwa membaca tanda adalah bagian dari cara manusia memahami dunia.
Percakapan sore itu tidak berhenti pada kalimat-kalimat yang diucapkan. Ia seperti berlanjut diam-diam, menyusup ke cara penulis melihat ulang hubungan manusia dengan musim. Jauh sebelum istilah prediksi cuaca dan model iklim digunakan, orang-orang di Nusantara telah hidup dalam cara membaca musim yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari.