Catatan Kampus Cikabayan
Pada sebuah kesempatan acara kumpul petani ASEAN di Science Techno Park IPB, Kampus Taman Kencana, Bogor, penulis berkesempatan bertemu perempuan-perempuan petani tangguh di Indonesia. Salah satunya adalah Bu Rum Zaenab, petani tangguh dari Tuban, Jawa Timur. Beliau bercerita tentang buah asam yang mulai ranum hingga matang sebagai pertanda musim kemarau telah tiba, dengan istilah yang khas “Bediding Asem Kemledak”. Dengan gayanya yang lugas, ia mengisahkan bahwa di jalan masuk desanya dulu berdiri pohon-pohon asam raksasa. Kini tinggal empat pohon saja, itu pun buahnya tak lagi lebat seperti dulu, dan sebagian tumbang dimakan usia. Sambil menerawang ke masa kecilnya, ia mengenang siang hari sepulang sekolah, berteduh di bawah rindangnya asam, menunggu buah jatuh ditiup angin, lalu memungutnya dengan riang. Bagi Bu Rum, pohon asam bukan sekadar tanaman, melainkan penanda waktu, ruang bermain, sekaligus saksi perubahan desa.

