Catatan Kampus Cikabayan
Pada perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo pada minggu kedua bulan Mei, mobil yang dikendarai penulis melaju di sepanjang jalan tol Trans-Jawa dan keluar di gerbang tol Gending. Nama sebuah kecamatan di Probolinggo itu seketika mengetuk pintu ingatan, membawa penulis kembali kepada sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan cara memandang alam dengan penuh rasa hormat. Beliau adalah almarhum Bapak Abu Yamin, salah satu perintis Program Studi Agrometeorologi di Institut Pertanian Bogor, sebuah perguruan tinggi pertanian yang telah lama menjadi tempat tumbuh gagasan-gagasan penting bagi perkembangan ilmu pertanian di Indonesia.
Ingatan penulis pun melayang ke tahun kedua perkuliahan. Di ruang kuliah yang sederhana, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau menjelaskan bahwa atmosfer bukan sekadar kumpulan angka suhu, kelembapan, dan curah hujan, melainkan sistem hidup yang menentukan nasib tanaman serta kehidupan manusia. Pada suatu pertemuan, beliau mengajarkan sebuah fenomena angin lokal yang namanya terdengar puitis “Angin Gending”.