Selasa, 12 Mei 2026

Sasi: Menjaga Irama Musim dan Keberlanjutan

 Catatan Kampus Cikabayan

Di sebuah kampung pesisir di Pulau Seram ada ungkapan Ale samua mau ambe hasil hari ini, cucu-cucu tong besok so tara dapa apa-apa lai. ( “Kalau semua orang ingin memanen hari ini, maka anak cucu kita besok tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.”) Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung falsafah yang telah hidup ratusan tahun di kepulauan rempah. Alam harus diberi waktu untuk bernapas.

Di Kepulauan Maluku, masyarakat telah lama mengenal sebuah sistem hukum adat yang disebut Sasi. Tradisi ini merupakan seperangkat aturan sosial yang mengatur kapan sumber daya alam boleh dimanfaatkan dan kapan harus dibiarkan pulih. Sasi tidak hanya berlaku untuk hasil laut seperti ikan, teripang, dan lola, tetapi juga diterapkan pada hasil pertanian seperti kelapa, pala, cengkih, sagu, dan berbagai tanaman kebun lainnya.

Senin, 11 Mei 2026

Kesetiaan Burung Enggang: Pengetahuan Dayak Wehea Membaca Musim dan Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.

"Falo Laor" Kalender Hidup dari Laut Morotai

 Catatan Kampus Cikabayan

Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai, laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan ekologis yang mendalam.

Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.

Gadung: Tunas Sebelum Musim Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat penulis bersilaturahmi di Desa Wareng, Gunung Kidul, penulis bertemu dengan Ibu Parjiyem, seorang petani perempuan yang tangguh dan mandiri. Sore itu, beliau menyuguhkan camilan berupa irisan tipis berwarna putih pucat, renyah saat digigit, dan gurih menemani secangkir kopi. “Keripik gadung,” katanya singkat.

Gadung (Dioscorea hispida) adalah umbi yang akrab dengan lanskap pedesaan di Tanah Jawa. Tumbuhan ini tumbuh liar, mudah ditemukan, tetapi menyimpan racun apabila tidak diolah dengan kesabaran dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Di tangan yang terampil, gadung bertransformasi dari umbi beracun menjadi sumber pangan yang aman dan lezat. Namun, gadung bukan semata-mata soal apa yang dimakan. Ia juga menyimpan pengetahuan tentang waktu, tentang kapan tanah mulai menerima kembali air, kapan tunas-tunas muda muncul, dan kapan siklus kehidupan dimulai lagi. Dengan demikian, gadung bukan hanya bagian dari kuliner tradisional, melainkan juga penanda ekologis yang membantu masyarakat Jawa membaca pergantian musim, setidaknya di Desa Wareng, Gunung Kidul.

Jumat, 08 Mei 2026

Dari Srengenge (matahari) ke Musim: Pelajaran Iklim dari Desa di Pasuruan

 Catatan kampus Cikabayan

Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.

Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit dari hari ke hari.

“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)