Pada ujung libur
Lebaran 2026, penulis bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama di Desa
Mangunrejo, sebuah desa di selatan Kepanjen yang namanya terdengar seperti
harapan. Mangun berarti membangun, sedangkan rejo berarti
kemakmuran. Sore itu, di beranda rumah yang menghadap hamparan sawah, kami
berbincang tentang musim, tentang petani yang kini semakin sulit memahami cuaca,
dan tentang pengetahuan lama yang perlahan terlupakan.
Di tengah percakapan, sahabat penulis berkata, “Orang Jawa dahulu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan agroklimatologi.” Ia lalu menunjukkan sebuah teks berbahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Kedjawen pada awal abad ke-20 berjudul Slisir Marèng Tênggèrèng. Judul itu dapat diterjemahkan sebagai “menyusuri tanda-tanda”. Bukan tanda dalam arti mistik, melainkan tênggèr (tengara atau penanda) alam seperti bintang, embun, angin, matahari, dan air.