Catatan Kampus Cikabayan
Pada April–Mei 2026, media sosial dipenuhi video sungai yang dipadati ikan sapu-sapu. Ribuan ekor ikan berzirah itu diangkut dengan jaring, ditumpuk di tepian sungai, lalu dimasukkan ke dalam karung dan truk pengangkut. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, operasi penangkapan massal itu berubah menjadi tontonan publik. Media arus utama pun ikut membangun narasi tentang “perang melawan spesies invasif” dan ancaman ikan sapu-sapu bagi sungai Jakarta.
Sejak saat itu, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis—Amazon sailfin catfish) perlahan berubah dari sekadar spesies invasif menjadi simbol politik-ekologis di Indonesia. Tubuhnya yang keras, wajahnya yang asing, serta kemampuannya bertahan hidup di air hitam penuh limbah menjadikannya representasi visual dari sungai yang tercemar sekaligus kegagalan tata kelola air. Pemerintah menyebutnya ancaman bagi ikan lokal. Warga menganggapnya hama sungai. Media menampilkan tumpukan bangkai ikan sebagai tanda bahwa negara sedang bekerja membersihkan sungai. Namun, di balik viralnya operasi pemusnahan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa justru ikan ini yang mampu bertahan hidup di sungai-sungai kita?