Catatan Kampus Cikabayan
Awal kemarau
tahun ini datang bersama seekor burung kecil berwarna biru kecoklatan. Penulis
pertama kali menyadari kehadirannya dari teras rumah yang langsung menghadap
Sungai Ciparigi. Burung itu bertengger di rumpun bambu yang menggantung di atas
aliran sungai, lalu melesat mengikuti aliran sebelum sempat mengenalinya lebih
dekat.
Mula-mula penulis
mengira itu hanya perjumpaan sesaat. Namun, beberapa hari kemudian penulis
melihatnya lagi. Lalu lagi. Hampir selalu pada pagi hari ketika cahaya matahari
mulai menembus sela-sela dedaunan dan memantul di permukaan air. Kadang
ia hinggap cukup lama di ujung bambu yang menjulur ke sungai. Kadang hanya
lewat sebagai kilatan biru yang bergerak cepat menyusuri aliran air.
Kemunculan yang berulang itu menimbulkan pertanyaan sederhana. Mengapa justru pada awal kemarau burung itu lebih sering terlihat?