Rabu, 20 Mei 2026

Membaca Isyarat Langit untuk Kesehatan Padi

 Catatan Kampus Cikabayan

Di selasar Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, penulis berkesempatan berbincang santai dengan Pak Widodo dan Pak Bonjok. Keduanya adalah dosen yang sehari-hari bergelut dengan dinamika agroekosistem di berbagai lanskap pertanian Indonesia. Percakapan yang awalnya ringan, diselingi canda khas antar sejawat, perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih serius ketika topik beralih pada hama dan penyakit tanaman.

Dari obrolan itulah penulis kembali menyadari bahwa sawah sesungguhnya adalah ruang kehidupan yang sangat dinamis. Apa yang tampak tenang dari kejauhan ternyata menyimpan interaksi yang rumit antara tanaman, serangga, jamur, bakteri, air, tanah, dan atmosfer. Di balik setiap rumpun padi, berlangsung proses biologis yang dipengaruhi oleh perubahan suhu, kelembapan, curah hujan, intensitas radiasi matahari, dan angin. Dalam arti tertentu, langit di atas sawah selalu mengirimkan isyarat tentang apa yang sedang dan akan terjadi.

Gangsir: Si Tukang Gali Pengkabar Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat libur Lebaran Maret 2026 di Kepanjen, Malang, ingatan penulis melayang ke masa kecil di kebun jagung di depan rumah. Sebelum tanah digemburkan oleh bapak dengan cangkulnya, sesungguhnya telah ada makhluk kecil yang bekerja lebih dahulu. Di permukaan tanah tampak gundukan-gundukan mungil berbentuk kerucut, melebar di bagian bawah, menyerupai gunung-gunung mini. Jejak itu ditinggalkan oleh seekor serangga yang akrab dikenal masyarakat desa sebagai gangsir.

Bagi anak-anak kampung pada masa itu, gangsir bukan sekadar penghuni tanah. Ia adalah buruan yang mengasyikkan. Dengan tangan kecil dan sepotong kayu, kami membongkar liang-liangnya, menangkapnya, lalu memanggangnya sebagai santapan tambahan yang gurih dan kaya protein. Di balik kenangan sederhana itu, tersembunyi pelajaran yang baru penulis pahami bertahun-tahun kemudian: sebelum manusia mencangkul tanah, telah ada makhluk-makhluk kecil yang bekerja diam-diam menjaga kehidupan di dalamnya.

Selasa, 19 Mei 2026

Dari Sensor AWS Komunitas ke Gotong Royong Membangun Sistem Peringatan Dini HPT

Catatan Kampus Cikabayan

Di tengah hamparan sawah, sebuah tiang sederhana berdiri tegak. Pada bagian atasnya terpasang sensor yang secara rutin merekam suhu udara, kelembapan, curah hujan, arah dan kecepatan angin, serta radiasi matahari. Bagi sebagian orang, perangkat ini mungkin hanya tampak sebagai alat elektronik kecil yang tidak terlalu mencolok. Namun, bagi petani yang memahami maknanya, sensor tersebut ibarat mata dan telinga yang membantu membaca gejala-gejala atmosfer yang menentukan nasib tanaman.

Perubahan kecil pada suhu dan kelembapan sering kali menjadi pertanda awal meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman. Wereng batang cokelat, penggerek batang, penyakit blas, dan busuk bulir merupakan contoh HPT yang perkembangan populasinya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Atmosfer, yang selama ini terasa jauh dan abstrak, sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan di sawah.

Senin, 18 Mei 2026

Dari Hulu ke Hilir Brantas: Proto-Hidrometeorologi Airlangga dalam Prasasti Kamalagyan

Catatan Kampus Cikabayan

Dalam perjalanan arus balik akhir Maret 2026, melalui jalan tol Malang-Surabaya, penulis menikmati pemandangan menakjubkan di sebelah kiri jalan. Gugusan pegunungan membentang megah, mulai dari Gunung Arjuno hingga Gunung Penanggungan, berdiri kokoh di bawah langit pagi. Pemandangan itu seketika membawa ingatan penulis kepada Airlangga, sosok raja-begawan yang dalam tradisi Jawa dikaitkan erat dengan Gunung Penanggungan, gunung suci yang dipandang sebagai miniatur Gunung Mahameru. Di lereng gunung itulah, menurut ingatan budaya Jawa, Airlangga menempuh laku tapa dan pada akhir hidupnya memilih meninggalkan takhta untuk menjadi pertapa bergelar Resi Gentayu. Di bentang alam inilah, hampir seribu tahun lalu, Airlangga memahami bahwa kemakmuran kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuannya menata air yang turun dari pegunungan, mengalir melalui sungai, dan menghidupi sawah-sawah di DAS Brantas.

Jejak Hidrometeorologi 1.200 Tahun Lampau: Prasasti Harinjing dan Adaptasi Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan libur Lebaran akhir Maret 2026, penulis berkesempatan mengunjungi Desa Siman, sebuah desa di lereng barat Gunung Kelud yang menyimpan jejak panjang hubungan manusia dengan air. Di kawasan inilah Prasasti Harinjing ditemukan, sebuah batu bertulis bertarikh 726 Śaka atau 804 Masehi yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia. Prasasti ini mengabadikan kisah Bhagawanta Bari (sering juga ditulis Bhagawanta Dhari), tokoh yang memprakarsai pembangunan sistem pengendalian air di Sungai Harinjing. Tanggal yang tertera pada prasasti tersebut, 25 Maret 804 Masehi, kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri. Sebuah penanda bahwa sejarah daerah ini bertumpu bukan hanya pada kekuasaan, tetapi juga pada keberhasilan mengelola air demi kemakmuran masyarakat.

Prasasti Harinjing dibuat pada masa Kerajaan Medang, kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang sekitar tahun 732–1016 Masehi. Pada saat prasasti ini diterbitkan tahun 804 Masehi, kerajaan diperintah oleh Rakai Warak Dyah Manara (803–827 Masehi). Melalui prasasti tersebut, wilayah Harinjing ditetapkan sebagai “sima”. Sebuah tanah perdikan yang memperoleh pembebasan pajak dan hak istimewa tertentu. Anugerah ini diberikan kepada Bhagawanta Bari atas jasanya membangun sistem pengendalian air yang melindungi sawah dan masyarakat dari banjir.