Selasa, 16 Juni 2026

AWS Komunitas: Membaca Cadangan Air Sebelum Tanaman Layu

Catatan Kampus Cikabayan

Beberapa hari lalu, sahabat penulis, Pak Sudargo, mengirimkan beberapa foto melalui WhatsApp. Ia bukan hanya seorang petani lahan kering di Pati Selatan, tetapi juga bagian dari jejaring AWS Komunitas, sebuah gerakan petani pengamat iklim yang tumbuh melalui gotong royong dan berbagi pengetahuan. Foto-foto yang ia kirim memperlihatkan hamparan padi yang masih tampak hijau di tengah musim kemarau.

Pada salah satu foto, ia menuliskan keterangan singkat: “Padi IPB 10, sudah 79 HST di lahan extrem kering. Saat ini hanya mengandalkan embun n keajaiban Tuhan lurr."

Pada foto berikutnya ia kembali mengirim kabar: "Ini IPB 9 luas 0,25 ha umur 88 HST. Insyaallah 100 HST kalo gak ad halangan panen lurr."

Lalu satu kalimat pendek yang membuat penulis berhenti sejenak: "Hujan terakhir tgl 24 Mei."

Kalimat itu menarik, bukan hanya karena datang dari seorang petani, tetapi juga dari seorang pengamat iklim yang setiap hari memantau cuaca di lahannya sendiri. Jika hujan terakhir turun pada 24 Mei, lalu dari mana tanaman-tanaman itu memperoleh air hingga mampu bertahan mendekati masa panen? Berapa banyak cadangan air yang masih tersimpan di dalam tanah? Sampai kapan tanaman mampu bertahan sebelum mulai mengalami cekaman kekeringan?

Minggu, 14 Juni 2026

Pelajaran Musim Kemarau dari Burung Raja Udang di Sungai Ciparigi-Bogor

Catatan Kampus Cikabayan

Awal kemarau tahun ini datang bersama seekor burung kecil berwarna biru kecoklatan. Penulis pertama kali menyadari kehadirannya dari teras rumah yang langsung menghadap Sungai Ciparigi. Burung itu bertengger di rumpun bambu yang menggantung di atas aliran sungai, lalu melesat mengikuti aliran sebelum sempat mengenalinya lebih dekat.

Mula-mula penulis mengira itu hanya perjumpaan sesaat. Namun, beberapa hari kemudian penulis melihatnya lagi. Lalu lagi. Hampir selalu pada pagi hari ketika cahaya matahari mulai menembus sela-sela dedaunan dan memantul di permukaan air. Kadang ia hinggap cukup lama di ujung bambu yang menjulur ke sungai. Kadang hanya lewat sebagai kilatan biru yang bergerak cepat menyusuri aliran air.

Kemunculan yang berulang itu menimbulkan pertanyaan sederhana. Mengapa justru pada awal kemarau burung itu lebih sering terlihat?

Sabtu, 13 Juni 2026

Gembili, Uwi, dan Musim yang Tidak Tergesa-gesa

Catatan Kampus Cikabayan


Bu Parjiyem, pegiat tanaman pangan lokal di Gunung Kidul, menunjukkan kepada penulis pohon Gembili dan Uwi yang tumbuh di pekarangan dan kebun lahan kering desanya. Dalam penuturannya, kedua tanaman umbi itu bukan sekadar sumber pangan alternatif, melainkan telah lama menjadi semacam “modal hidup” yang menopang ketahanan pangan masyarakat setempat di musim-musim yang tidak menentu. Yang menarik, penjelasan beliau tidak berhenti pada aspek budidaya atau konsumsi, tetapi meluas ke cara membaca alam: iklim, hujan, dan pergeseran kualitas musim.

Gembili (Dioscorea esculenta) dan uwi (Dioscorea alata) bagi Bu Parjiyem seperti “primbon hidup” musim tanam. Perilaku tumbuhnya, kapan mulai tumbuh stabil, kapan merambat kuat, dan kapan mulai mengisi umbi, dibaca sebagai tanda-tanda alam yang membantu petani menilai apakah musim hujan benar-benar berjalan baik atau hanya datang sebentar lalu hilang.

Minggu, 07 Juni 2026

Pembakuan Pengetahuan Musim: Dari Tradisi ke Pranata Mangsa

Catatan Kampus Cikabayan

Percakapan tentang sistem iklim tradisional di Laboratorium Terpadu Departemen Geofisika dan Meteorologi pada September 2022 berujung pada pertanyaan seorang mahasiswa, “Kalau begitu, apakah sebelum ada raja itu orang Jawa belum tahu musim?” Saat itu kami sedang membahas Pranata Mangsa yang dibakukan pada masa Pakubuwana VII di Surakarta pada abad ke-19. Pertanyaan sederhana tersebut mengingatkan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal musim jauh sebelum Pranata Mangsa disusun. Mereka mengetahui kapan hujan biasanya datang, kapan angin timur mulai bertiup, kapan daun jati meranggas, serta berbagai pertanda alam yang menandai pergantian musim. Pengetahuan itu hidup dalam praktik sehari-hari dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui pengalaman dan pengamatan terhadap lingkungan.

Pranata Mangsa bukanlah titik awal lahirnya pengetahuan musim di Jawa, melainkan hasil pembakuan pengetahuan yang telah berkembang lama di tengah masyarakat agraris. Keraton tidak menciptakan musim ataupun tanda-tanda alam tersebut, tetapi menyusun dan mengodifikasikan pengetahuan yang telah hidup di masyarakat ke dalam bentuk yang lebih sistematis. Pemahaman ini sebenarnya telah dinyatakan secara jelas dalam Primbon Betaljemur Adammakna:

“Pranata Mangsa punika petangan mangsa wawaton lampahing surya. Petangan punika dede barang enggal, wiwit kina-makina inggih sampun wonten.”

Selasa, 02 Juni 2026

Embun Upas Dieng: Sesotya Murca ing Embanan

Catatan Kampus Cikabayan

"Sesotya murca ing embanan." Permata terlepas dari wadahnya. Demikian salah satu candra mangsa dalam Pranata Mangsa menggambarkan datangnya musim kemarau. Ungkapan itu terdengar seperti puisi, tetapi di Dataran Tinggi Dieng ia dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Menjelang pagi, ketika cahaya matahari mulai menyentuh hamparan ladang kentang dan rerumputan, ribuan kristal putih berkilauan di atas daun-daun tanaman, seperti serpihan intan yang berserakan di permukaan bumi. Pemandangan tersebut begitu indah hingga banyak orang rela datang ke Dieng hanya untuk menyaksikannya. Namun bagi petani setempat, keindahan itu sering kali membawa kecemasan. Kristal-kristal yang berkilauan tersebut adalah bun upas atau embun upas (racun). Setelah matahari meninggi dan kristal-kristal es mencair, daun-daun tanaman yang semula tampak sehat dapat berubah menjadi layu, mengering, bahkan menghitam. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin embun beku dapat muncul di wilayah tropis yang berada begitu dekat dengan garis khatulistiwa?