Jumat, 08 Mei 2026

Dari Srengenge (matahari) ke Musim: Pelajaran Iklim dari Desa di Pasuruan

 Catatan kampus Cikabayan

Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.

Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit dari hari ke hari.

“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)

Embun Upas dan Waring: Cara Petani Pesisir Kulon Progo Membaca Mikroklimat

 Catatan Kampus Cikabayan


Bu Etik, petani perempuan tangguh di pesisir selatan Kulon Progo, mengajak penulis menyusuri kawasan pantai dari Bugel hingga Trisik. Sepanjang mata memandang, hamparan lahan pasir hitam di kawasan itu dimanfaatkan masyarakat untuk menanam beragam komoditas hortikultura seperti cabai, semangka, melon, kacang panjang, dan berbagai tanaman lainnya. Di tengah lanskap pertanian pesisir tersebut, perhatian penulis tertuju pada bentangan waring yang dipasang di antara lahan-lahan tanaman. Menurut Bu Etik, waring itu digunakan untuk melindungi tanaman dari sesuatu yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “embun upas”.

Istilah “embun upas” terdengar seperti mitos pertanian lama. Namun bagi petani pesisir selatan, gejalanya nyata, daun dapat menguning, terbakar, bahkan tanaman muda bisa mati setelah malam-malam tertentu.

Selasa, 05 Mei 2026

Membaca Kemarau dari Runduk Yuyu: Kisah Petani Tangguh di Pati Selatan

 Catatan Kampus Cikabayan


Pak Sudargo, petani tadah hujan yang tangguh dan tekun dari Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, tidak pernah menyebut dirinya ahli iklim. Namun dari caranya bercerita tentang sawah, jelas ia membaca musim dengan ketelitian yang tak kalah dari alat modern. Suatu hari, ia berkisah kepada penulis tentang “runduk yuyu”, liang kecil di tanah sawah yang digali oleh yuyu sebagai tempat berlindung. Bagi orang awam, runduk mungkin hanya tampak seperti lubang biasa di pematang. Tetapi bagi Pak Sudargo, kemunculan runduk dalam jumlah banyak adalah tanda yang tak pernah meleset: “kalau runduk yuyu mulai banyak,” katanya pelan, “itu tandanya kemarau akan datang.”

Di banyak sawah tadah hujan di Pati bagian selatan, kemarau memang tidak datang sebagai tanggal di kalender. Ia muncul pelan-pelan, merambat dari tanah yang mulai mengeras, dari air yang perlahan menghilang. Dan sebelum manusia menyadarinya, seekor hewan kecil sudah lebih dulu tahu: yuyu.

Senin, 04 Mei 2026

Dari El Nino ke “Godzilla”: Ketika Komunikasi Sains Kehilangan Arah

Catatan Kampus Cikabayan

Akhir-akhir ini, jagat maya digegerkan oleh satu istilah yang terdengar mengerikan: “El Nino Godzilla.” Kata “Godzilla”. Monster raksasa perusak kota dari layar perak Jepang, seolah menjadi kiasan yang pas menggambarkan kekeringan panjang, gagal panen, dan kebakaran hutan yang akan melanda Indonesia. Media sosial ramai, ada yang waspada, tak sedikit pula yang panik dan berbondong-bondong menyimpan persediaan air dan beras.

Istilah ini sendiri mulai mencuat ke ruang publik pada pertengahan Maret 2026, ketika peneliti dari lembaga ternama negeri ini mempublikasikan peringatan awal melalui kanal media sosialnya. Momentum paling kuat terjadi pada 19–20 Maret 2026, saat unggahan di akun X dan Instagram menyinggung potensi kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode April–Oktober 2026. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh peneliti ternama dari lembaga beken di negeri ini , dan segera meluas setelah diberitakan media nasional pada hari berikutnya.

Minggu, 03 Mei 2026

“Bediding Asem Kemledak: Membaca Kemarau dari Pohon Asam”

 Catatan Kampus Cikabayan

Pada sebuah kesempatan acara kumpul petani ASEAN di Science Techno Park IPB, Kampus Taman Kencana, Bogor, penulis berkesempatan bertemu perempuan-perempuan petani tangguh di Indonesia. Salah satunya adalah Bu Rum Zaenab, petani tangguh dari Tuban, Jawa Timur. Beliau bercerita tentang buah asam yang mulai ranum hingga matang sebagai pertanda musim kemarau telah tiba, dengan istilah yang khas “Bediding Asem Kemledak”. Dengan gayanya yang lugas, ia mengisahkan bahwa di jalan masuk desanya dulu berdiri pohon-pohon asam raksasa. Kini tinggal empat pohon saja, itu pun buahnya tak lagi lebat seperti dulu, dan sebagian tumbang dimakan usia. Sambil menerawang ke masa kecilnya, ia mengenang siang hari sepulang sekolah, berteduh di bawah rindangnya asam, menunggu buah jatuh ditiup angin, lalu memungutnya dengan riang. Bagi Bu Rum, pohon asam bukan sekadar tanaman, melainkan penanda waktu, ruang bermain, sekaligus saksi perubahan desa.