Catatan Kampus Cikabayan
Dalam perjalanan arus balik akhir Maret 2026, melalui jalan tol Malang-Surabaya, penulis menikmati pemandangan menakjubkan di sebelah kiri jalan. Gugusan pegunungan membentang megah, mulai dari Gunung Arjuno hingga Gunung Penanggungan, berdiri kokoh di bawah langit pagi. Pemandangan itu seketika membawa ingatan penulis kepada Airlangga, sosok raja-begawan yang dalam tradisi Jawa dikaitkan erat dengan Gunung Penanggungan, gunung suci yang dipandang sebagai miniatur Gunung Mahameru. Di lereng gunung itulah, menurut ingatan budaya Jawa, Airlangga menempuh laku tapa dan pada akhir hidupnya memilih meninggalkan takhta untuk menjadi pertapa bergelar Resi Gentayu. Di bentang alam inilah, hampir seribu tahun lalu, Airlangga memahami bahwa kemakmuran kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuannya menata air yang turun dari pegunungan, mengalir melalui sungai, dan menghidupi sawah-sawah di DAS Brantas.