Sabtu, 16 Mei 2026

Agroklimatologi dalam Prosa "Slisir Marèng Tênggèrèng" (Menyusuri Tanda-Tanda)

Catatan Kampus Cikabayan

Pada ujung libur Lebaran 2026, penulis bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama di Desa Mangunrejo, sebuah desa di selatan Kepanjen yang namanya terdengar seperti harapan. Mangun berarti membangun, sedangkan rejo berarti kemakmuran. Sore itu, di beranda rumah yang menghadap hamparan sawah, kami berbincang tentang musim, tentang petani yang kini semakin sulit memahami cuaca, dan tentang pengetahuan lama yang perlahan terlupakan.

Di tengah percakapan, sahabat penulis berkata, “Orang Jawa dahulu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan agroklimatologi.” Ia lalu menunjukkan sebuah teks berbahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Kedjawen pada awal abad ke-20 berjudul Slisir Marèng Tênggèrèng. Judul itu dapat diterjemahkan sebagai “menyusuri tanda-tanda”. Bukan tanda dalam arti mistik, melainkan tênggèr (tengara atau penanda) alam seperti bintang, embun, angin, matahari, dan air.

Jumat, 15 Mei 2026

Mengingat Alm. Bapak Abu Yamin di Gerbang Tol Gending

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo pada minggu kedua bulan Mei, mobil yang dikendarai penulis melaju di sepanjang jalan tol Trans-Jawa dan keluar di gerbang tol Gending. Nama sebuah kecamatan di Probolinggo itu seketika mengetuk pintu ingatan, membawa penulis kembali kepada sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan cara memandang alam dengan penuh rasa hormat. Beliau adalah almarhum Bapak Abu Yamin, salah satu perintis Program Studi Agrometeorologi di Institut Pertanian Bogor, sebuah perguruan tinggi pertanian yang telah lama menjadi tempat tumbuh gagasan-gagasan penting bagi perkembangan ilmu pertanian di Indonesia.

Ingatan penulis pun melayang ke tahun kedua perkuliahan. Di ruang kuliah yang sederhana, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau menjelaskan bahwa atmosfer bukan sekadar kumpulan angka suhu, kelembapan, dan curah hujan, melainkan sistem hidup yang menentukan nasib tanaman serta kehidupan manusia. Pada suatu pertemuan, beliau mengajarkan sebuah fenomena angin lokal yang namanya terdengar puitis “Angin Gending”.

Selasa, 12 Mei 2026

Sasi: Menjaga Irama Musim dan Keberlanjutan

 Catatan Kampus Cikabayan

Di sebuah kampung pesisir di Pulau Seram ada ungkapan Ale samua mau ambe hasil hari ini, cucu-cucu tong besok so tara dapa apa-apa lai. ( “Kalau semua orang ingin memanen hari ini, maka anak cucu kita besok tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.”) Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung falsafah yang telah hidup ratusan tahun di kepulauan rempah. Alam harus diberi waktu untuk bernapas.

Di Kepulauan Maluku, masyarakat telah lama mengenal sebuah sistem hukum adat yang disebut Sasi. Tradisi ini merupakan seperangkat aturan sosial yang mengatur kapan sumber daya alam boleh dimanfaatkan dan kapan harus dibiarkan pulih. Sasi tidak hanya berlaku untuk hasil laut seperti ikan, teripang, dan lola, tetapi juga diterapkan pada hasil pertanian seperti kelapa, pala, cengkih, sagu, dan berbagai tanaman kebun lainnya.

Senin, 11 Mei 2026

Kesetiaan Burung Enggang: Pengetahuan Dayak Wehea Membaca Musim dan Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.

"Falo Laor" Kalender Hidup dari Laut Morotai

 Catatan Kampus Cikabayan

Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai, laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan ekologis yang mendalam.

Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.