Rabu, 27 Mei 2026

Manganan: Peta Jalan Ketahanan Iklim Desa Gesing-Tuban

Catatan Kampus Cikabayan


Siang itu sebuah pesan WAG masuk dari Bu Rum di Tuban. Isinya sederhana, nyaris seperti pengumuman di grup Gerakan Petani Nusantara.

“Manganan atau sedekah bumi pak, dilaksanakan setelah panen raya sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas rejeki yg diberikan kepada masyarakat desa. Dimulai hari Kamis tanggal 21 Mei 2025 dari punden/makam nenek moyang tertua di desa (makam Mbah Sunan Geseng), hari ini putaran kedua di makam Mbah Menak Cenggereng, putaran ketiga tanggal 28 Mei di makam desa, terakhir tanggal 24 Juni di sendang desa/sumur gede.”

Pesan singkat itu datang dari Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Awalnya penulis menganggap pesan itu tampak seperti informasi biasa tentang tradisi sedekah bumi masyarakat desa. Namun, semakin dibaca, susunan tempat yang disebutkan di dalamnya justru terasa seperti sebuah peta. Ada makam leluhur, makam tokoh desa, makam desa, lalu berakhir di sendang desa atau sumur gede. Sebuah urutan ruang yang seolah memperlihatkan simpul-simpul utama kehidupan masyarakat Desa Gesing.

Di tengah berbagai diskusi modern tentang perubahan iklim, kecerdasan buatan, prediksi cuaca, dan ketahanan pangan, masyarakat Desa Gesing ternyata telah lama memiliki cara sendiri untuk menjaga keberlanjutan hidup mereka. Cara itu tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi canggih, tetapi tersimpan dalam ritual, tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun.

Manganan adalah salah satunya.

Senin, 25 Mei 2026

Dari Bergen-Norwegia ke “Ojhung” : Menuju Teknologi Modifikasi Cuaca

Catatan Kampus Cikabayan

Penulis sedang menyiapkan bahan kuliah klimatologi. Di salah satu slide presentasi, terdapat potongan video suasana kota Bergen, Norwegia, sebuah kota di pesisir barat Skandinavia yang terkenal sebagai salah satu kota paling basah di Eropa. Hujan turun hampir sepanjang tahun dan perlahan membentuk budaya masyarakatnya. Di sana ada ungkapan, “Det finnes ikke dårlig vær, bare dårlige klær.” Tidak ada cuaca buruk, yang ada hanya pakaian yang buruk. Tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari sahabat muda penulis, Mas Elvara, seorang aktivis muda pertanian dan kehutanan. “Pak, besok kita ke Situbondo.”

Pesan singkat itu segera mengalihkan ingatan penulis pada satu tradisi lama di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, “Ojhung”, termasuk di Situbondo. Sebuah ritual rakyat ketika dua lelaki saling mencambuk menggunakan rotan di tengah lapangan desa, diiringi kendang dan sorak warga yang berharap hujan segera datang. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Nemor: Saat Kemarau Datang Membawa Kegembiraan

Catatan Kampus Cikabayan:

Siang itu, saat penulis sedang mencermati kode-kode program simulasi atmosfer di Laboratorium Terpadu, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor, perhatian penulis tiba-tiba teralihkan oleh sebuah pesan WhatsApp yang masuk. Pesan itu datang dari Mas Nanta, sahabat muda penulis yang aktif mendampingi gerakan kedaulatan pangan. Ia mengirimkan pertanyaan sederhana: “Mas, nemor itu ada hubungannya dengan angin timur ya?”

Bersamaan dengan pertanyaan itu, ia mengirimkan tautan lagu Nemor (Kemarau) dari grup band indie Madura, Lorjhu’ feat Rifan. Dari layar ponsel mengalun musik riang berbahasa Madura yang menggambarkan kemarau bukan sebagai ancaman, melainkan musim yang dinanti. Musiknya sederhana namun hangat, dekat dengan kehidupan pesisir dan pedesaan Madura, sekaligus menghadirkan sesuatu yang berbeda di tengah dominasi lagu populer yang kerap kehilangan akar lokalnya. Lorjhu’ menghadirkan bahasa Madura, laut, petani, garam, dan musim dalam musik modern yang jujur dan membumi, sehingga Nemor terasa seperti arsip kecil tentang hubungan manusia dengan iklim dan lingkungannya.

Jumat, 22 Mei 2026

Angin Kumbang: Napas Panas di Tanah Pantura

Catatan Kampus Cikabayan

Keluar dari gerbang Tol Cikedung pada awal Agustus 2022, penulis seperti memasuki ruang musim yang berbeda. Angin panas langsung menerpa wajah begitu pintu mobil terbuka. Langit tampak pucat kebiruan tanpa awan, sementara hamparan tanah di kiri-kanan jalan terlihat kusam, retak, dan berdebu. Pepohonan berdiri lunglai diterpa hembusan angin kering yang datang berulang-ulang, membawa bau jerami tua, tanah panas, dan sisa musim yang perlahan mengering.

Perjalanan siang itu menuju Kampung Darim, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, untuk bersilaturahmi dengan masyarakat sekaligus menengok mahasiswa-mahasiswa IPB yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut. Namun sepanjang perjalanan, perhatian penulis tertuju pada lanskap kemarau yang terasa begitu ganjil. Debu beterbangan melintasi jalan desa setiap kali sepeda motor lewat. Daun-daun tampak menggulung kelelahan. Udara panas seolah tidak hanya datang dari matahari di atas kepala, tetapi juga memancar dari tanah dan dinding rumah yang seolah menyimpan bara siang.

Kamis, 21 Mei 2026

Dam Blobo, Irigasi Molek, dan Senjakala Agraris Lembah Brantas

 Catatan Kampus Cikabayan

Saat berjalan-jalan di sekitar Kepanjen, Malang, pada libur Lebaran Maret 2026, sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Kabupaten Malang dahulu merupakan bentang sawah luas. Hamparan kantor pemerintahan, jalan raya, dan permukiman yang berdiri hari ini pernah dialiri air dari Saluran Molek. Di pagi hari tertentu, ketika kabut turun dari arah Gunung Kawi dan angin membawa aroma lumpur sawah yang baru dibajak, lanskap itu seakan masih menyimpan ingatan lama tentang hubungan manusia dan air di lembah Brantas. Kawasan yang kini tumbuh sebagai pusat pemerintahan tersebut pernah hidup dari aliran Sungai Brantas dan denyut pertanian sawah. Di balik wajah modern Kepanjen hari ini, tersembunyi kisah panjang tentang air, pertanian, teknik kolonial, serta perubahan ruang yang perlahan menggeser fungsi tanah paling subur di lembah Brantas.

Kisah itu bermula dari sebuah tempat bernama Blobo, sebuah kawasan di tepian Sungai Brantas yang berada di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kini Dam Blobo dikenal sebagai titik pengambilan air utama Daerah Irigasi Molek. Namun, sangat mungkin nama Blobo telah ada jauh sebelum Dam permanen dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.