Kamis, 28 Mei 2026

Nasib Ikan Sapu-Sapu: Martir Dosa Tata Kelola Sungai

Catatan Kampus Cikabayan

Pada April–Mei 2026, media sosial dipenuhi video sungai yang dipadati ikan sapu-sapu. Ribuan ekor ikan berzirah itu diangkut dengan jaring, ditumpuk di tepian sungai, lalu dimasukkan ke dalam karung dan truk pengangkut. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, operasi penangkapan massal itu berubah menjadi tontonan publik. Media arus utama pun ikut membangun narasi tentang “perang melawan spesies invasif” dan ancaman ikan sapu-sapu bagi sungai Jakarta.

Sejak saat itu, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis—Amazon sailfin catfish) perlahan berubah dari sekadar spesies invasif menjadi simbol politik-ekologis di Indonesia. Tubuhnya yang keras, wajahnya yang asing, serta kemampuannya bertahan hidup di air hitam penuh limbah menjadikannya representasi visual dari sungai yang tercemar sekaligus kegagalan tata kelola air. Pemerintah menyebutnya ancaman bagi ikan lokal. Warga menganggapnya hama sungai. Media menampilkan tumpukan bangkai ikan sebagai tanda bahwa negara sedang bekerja membersihkan sungai. Namun, di balik viralnya operasi pemusnahan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa justru ikan ini yang mampu bertahan hidup di sungai-sungai kita?

Sains Partisipatif di Antara Dinamika Tata Kelola Iklim dan Cuaca

Catatan Kampus Cikabayan


Beberapa tahun terakhir ini, cuaca dan iklim di Indonesia semakin ramai dibicarakan. Lembaga resmi negara mengumumkan prakiraan musim. Peneliti dari lembaga riset dan inovasi terkemuka di negara ini menjelaskan potensi bencana hidrometeorologi. Media sosial dipenuhi istilah-istilah atmosfer yang dahulu hanya dikenal di ruang seminar, El Niño, IOD, MJO, hingga cuaca ekstrem. Sementara itu, di banyak desa, mulai muncul inisiatif AWS komunitas dan gerakan sains partisipatif. Mereka mulai memasang sensor hujan dan cuaca mandiri di tepi sawah, lereng perbukitan, hingga halaman rumah warga.

Di tengah arus informasi itu, penulis teringat pada satu istilah yang sedang ramai memenuhi media, El Niño Godzilla. Sebuah diksi yang terdengar seperti judul film monster, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat dan berpotensi memicu kekeringan panjang di Indonesia. Istilah itu cepat menyebar ke grup WhatsApp petani, media daring, hingga percakapan warung kopi desa. Sebagian orang panik, sebagian lain menganggapnya berlebihan. Tidak sedikit pula yang bingung. Apakah itu informasi resmi negara, hasil riset ilmiah, atau sekadar dramatisasi media?

Rabu, 27 Mei 2026

Manganan: Peta Jalan Ketahanan Iklim Desa Gesing-Tuban

Catatan Kampus Cikabayan


Siang itu sebuah pesan WAG masuk dari Bu Rum di Tuban. Isinya sederhana, nyaris seperti pengumuman di grup Gerakan Petani Nusantara.

“Manganan atau sedekah bumi pak, dilaksanakan setelah panen raya sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas rejeki yg diberikan kepada masyarakat desa. Dimulai hari Kamis tanggal 21 Mei 2025 dari punden/makam nenek moyang tertua di desa (makam Mbah Sunan Geseng), hari ini putaran kedua di makam Mbah Menak Cenggereng, putaran ketiga tanggal 28 Mei di makam desa, terakhir tanggal 24 Juni di sendang desa/sumur gede.”

Pesan singkat itu datang dari Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Awalnya penulis menganggap pesan itu tampak seperti informasi biasa tentang tradisi sedekah bumi masyarakat desa. Namun, semakin dibaca, susunan tempat yang disebutkan di dalamnya justru terasa seperti sebuah peta. Ada makam leluhur, makam tokoh desa, makam desa, lalu berakhir di sendang desa atau sumur gede. Sebuah urutan ruang yang seolah memperlihatkan simpul-simpul utama kehidupan masyarakat Desa Gesing.

Di tengah berbagai diskusi modern tentang perubahan iklim, kecerdasan buatan, prediksi cuaca, dan ketahanan pangan, masyarakat Desa Gesing ternyata telah lama memiliki cara sendiri untuk menjaga keberlanjutan hidup mereka. Cara itu tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi canggih, tetapi tersimpan dalam ritual, tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun.

Manganan adalah salah satunya.

Senin, 25 Mei 2026

Dari Bergen-Norwegia ke “Ojhung” : Menuju Teknologi Modifikasi Cuaca

Catatan Kampus Cikabayan

Penulis sedang menyiapkan bahan kuliah klimatologi. Di salah satu slide presentasi, terdapat potongan video suasana kota Bergen, Norwegia, sebuah kota di pesisir barat Skandinavia yang terkenal sebagai salah satu kota paling basah di Eropa. Hujan turun hampir sepanjang tahun dan perlahan membentuk budaya masyarakatnya. Di sana ada ungkapan, “Det finnes ikke dårlig vær, bare dårlige klær.” Tidak ada cuaca buruk, yang ada hanya pakaian yang buruk. Tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari sahabat muda penulis, Mas Elvara, seorang aktivis muda pertanian dan kehutanan. “Pak, besok kita ke Situbondo.”

Pesan singkat itu segera mengalihkan ingatan penulis pada satu tradisi lama di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, “Ojhung”, termasuk di Situbondo. Sebuah ritual rakyat ketika dua lelaki saling mencambuk menggunakan rotan di tengah lapangan desa, diiringi kendang dan sorak warga yang berharap hujan segera datang. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Nemor: Saat Kemarau Datang Membawa Kegembiraan

Catatan Kampus Cikabayan:

Siang itu, saat penulis sedang mencermati kode-kode program simulasi atmosfer di Laboratorium Terpadu, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor, perhatian penulis tiba-tiba teralihkan oleh sebuah pesan WhatsApp yang masuk. Pesan itu datang dari Mas Nanta, sahabat muda penulis yang aktif mendampingi gerakan kedaulatan pangan. Ia mengirimkan pertanyaan sederhana: “Mas, nemor itu ada hubungannya dengan angin timur ya?”

Bersamaan dengan pertanyaan itu, ia mengirimkan tautan lagu Nemor (Kemarau) dari grup band indie Madura, Lorjhu’ feat Rifan. Dari layar ponsel mengalun musik riang berbahasa Madura yang menggambarkan kemarau bukan sebagai ancaman, melainkan musim yang dinanti. Musiknya sederhana namun hangat, dekat dengan kehidupan pesisir dan pedesaan Madura, sekaligus menghadirkan sesuatu yang berbeda di tengah dominasi lagu populer yang kerap kehilangan akar lokalnya. Lorjhu’ menghadirkan bahasa Madura, laut, petani, garam, dan musim dalam musik modern yang jujur dan membumi, sehingga Nemor terasa seperti arsip kecil tentang hubungan manusia dengan iklim dan lingkungannya.