Senin, 11 Mei 2026

Kesetiaan Burung Enggang: Pengetahuan Dayak Wehea Membaca Musim dan Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.

"Falo Laor" Kalender Hidup dari Laut Morotai

 Catatan Kampus Cikabayan

Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai, laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan ekologis yang mendalam.

Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.

Gadung: Tunas Sebelum Musim Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat penulis bersilaturahmi di Desa Wareng, Gunung Kidul, penulis bertemu dengan Ibu Parjiyem, seorang petani perempuan yang tangguh dan mandiri. Sore itu, beliau menyuguhkan camilan berupa irisan tipis berwarna putih pucat, renyah saat digigit, dan gurih menemani secangkir kopi. “Keripik gadung,” katanya singkat.

Gadung (Dioscorea hispida) adalah umbi yang akrab dengan lanskap pedesaan di Tanah Jawa. Tumbuhan ini tumbuh liar, mudah ditemukan, tetapi menyimpan racun apabila tidak diolah dengan kesabaran dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Di tangan yang terampil, gadung bertransformasi dari umbi beracun menjadi sumber pangan yang aman dan lezat. Namun, gadung bukan semata-mata soal apa yang dimakan. Ia juga menyimpan pengetahuan tentang waktu, tentang kapan tanah mulai menerima kembali air, kapan tunas-tunas muda muncul, dan kapan siklus kehidupan dimulai lagi. Dengan demikian, gadung bukan hanya bagian dari kuliner tradisional, melainkan juga penanda ekologis yang membantu masyarakat Jawa membaca pergantian musim, setidaknya di Desa Wareng, Gunung Kidul.

Jumat, 08 Mei 2026

Dari Srengenge (matahari) ke Musim: Pelajaran Iklim dari Desa di Pasuruan

 Catatan kampus Cikabayan

Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.

Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit dari hari ke hari.

“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)

Embun Upas dan Waring: Cara Petani Pesisir Kulon Progo Membaca Mikroklimat

 Catatan Kampus Cikabayan


Bu Etik, petani perempuan tangguh di pesisir selatan Kulon Progo, mengajak penulis menyusuri kawasan pantai dari Bugel hingga Trisik. Sepanjang mata memandang, hamparan lahan pasir hitam di kawasan itu dimanfaatkan masyarakat untuk menanam beragam komoditas hortikultura seperti cabai, semangka, melon, kacang panjang, dan berbagai tanaman lainnya. Di tengah lanskap pertanian pesisir tersebut, perhatian penulis tertuju pada bentangan waring yang dipasang di antara lahan-lahan tanaman. Menurut Bu Etik, waring itu digunakan untuk melindungi tanaman dari sesuatu yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “embun upas”.

Istilah “embun upas” terdengar seperti mitos pertanian lama. Namun bagi petani pesisir selatan, gejalanya nyata, daun dapat menguning, terbakar, bahkan tanaman muda bisa mati setelah malam-malam tertentu.