Minggu, 21 Juni 2026

Ketika Mangga di Tapal Kuda Menunda Musim Bunga

Catatan Kampus Cikabayan

Pertengahan Mei 2026, setelah keluar dari pintu tol Gending Probolinggo menuju arah Situbondo, jalan Pantura Tapal Kuda terbentang mengikuti garis pesisir utara Jawa bagian timur, pada bentang yang lebih tepat disebut koridor Probolinggo–Situbondo. Di sepanjang ruas jalan itu, lanskap tidak pernah benar-benar seragam. Ada kebun campuran, pekarangan rumah warga, lahan kering, dan deretan pohon mangga yang berdiri di batas-batas ruang itu tanpa pola tanam yang rapi, seolah tumbuh mengikuti kesepakatan lama antara manusia dan musim.

Biasanya pada pertengahan Mei, pohon-pohon mangga mulai menunjukkan tanda yang cukup jelas. Ujung ranting mengeras, daun berhenti tumbuh terlalu aktif, lalu muncul malai bunga yang pelan-pelan membuka diri seperti kabut tipis di dalam tajuk. Namun pada perjalanan kali itu, tanda itu tidak tampak dominan. Daun masih penuh, hijau masih kuat, dan bunga justru jarang terlihat. Seakan-akan pohon-pohon itu sedang menunda sesuatu yang dalam siklus tahunan biasanya sudah mulai berjalan.

Kamis, 18 Juni 2026

Jati dan Bahasa Kemarau

Catatan Kampus Cikabayan

Penulis menyaksikan perubahan lanskap yang sangat mencolok dalam sebuah perjalanan menyusuri bentang alam selatan Jawa, mulai dari Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan hingga Trenggalek pada medio Agustus 2021.  Perbukitan yang beberapa bulan sebelumnya tampak hijau perlahan berubah warna. Pohon-pohon jati mulai meranggas dan menggugurkan daunnya. Tajuk yang semula rimbun menjadi lebih terbuka, memperlihatkan cabang-cabang yang sebelumnya tersembunyi di balik hamparan daun hijau. Pemandangan ini sangat berbeda dengan kondisi yang penulis saksikan sekitar enam bulan sebelumnya, sekitar bulan Februari. Di lokasi yang sama, pohon-pohon jati sedang berada pada puncak kehijauannya. Daun-daunnya tampak segar, membentuk kanopi yang rapat dan memberi kesan bahwa air tersedia melimpah di dalam tanah.

Perubahan tersebut bukanlah kebetulan. Ia merupakan bagian dari ritme tahunan yang menghubungkan iklim, tanah, dan tumbuhan. Di wilayah selatan Jawa, masyarakat tidak perlu menunggu data curah hujan atau laporan musim untuk mengetahui bahwa kemarau sedang berlangsung. Cukup memandang lereng-lereng yang ditumbuhi jati, mereka dapat melihat bagaimana musim sedang bekerja. Lanskap yang menghijau pada puncak musim hujan perlahan berubah menjadi hamparan batang dan ranting ketika kemarau menguat. Jati seolah memiliki bahasanya sendiri untuk menyampaikan perubahan musim.

Selasa, 16 Juni 2026

AWS Komunitas: Membaca Cadangan Air Sebelum Tanaman Layu

Catatan Kampus Cikabayan

Beberapa hari lalu, sahabat penulis, Pak Sudargo, mengirimkan beberapa foto melalui WhatsApp. Ia bukan hanya seorang petani lahan kering di Pati Selatan, tetapi juga bagian dari jejaring AWS Komunitas, sebuah gerakan petani pengamat iklim yang tumbuh melalui gotong royong dan berbagi pengetahuan. Foto-foto yang ia kirim memperlihatkan hamparan padi yang masih tampak hijau di tengah musim kemarau.

Pada salah satu foto, ia menuliskan keterangan singkat: “Padi IPB 10, sudah 79 HST di lahan extrem kering. Saat ini hanya mengandalkan embun n keajaiban Tuhan lurr."

Pada foto berikutnya ia kembali mengirim kabar: "Ini IPB 9 luas 0,25 ha umur 88 HST. Insyaallah 100 HST kalo gak ad halangan panen lurr."

Lalu satu kalimat pendek yang membuat penulis berhenti sejenak: "Hujan terakhir tgl 24 Mei."

Kalimat itu menarik, bukan hanya karena datang dari seorang petani, tetapi juga dari seorang pengamat iklim yang setiap hari memantau cuaca di lahannya sendiri. Jika hujan terakhir turun pada 24 Mei, lalu dari mana tanaman-tanaman itu memperoleh air hingga mampu bertahan mendekati masa panen? Berapa banyak cadangan air yang masih tersimpan di dalam tanah? Sampai kapan tanaman mampu bertahan sebelum mulai mengalami cekaman kekeringan?

Minggu, 14 Juni 2026

Pelajaran Musim Kemarau dari Burung Raja Udang di Sungai Ciparigi-Bogor

Catatan Kampus Cikabayan

Awal kemarau tahun ini datang bersama seekor burung kecil berwarna biru kecoklatan. Penulis pertama kali menyadari kehadirannya dari teras rumah yang langsung menghadap Sungai Ciparigi. Burung itu bertengger di rumpun bambu yang menggantung di atas aliran sungai, lalu melesat mengikuti aliran sebelum sempat mengenalinya lebih dekat.

Mula-mula penulis mengira itu hanya perjumpaan sesaat. Namun, beberapa hari kemudian penulis melihatnya lagi. Lalu lagi. Hampir selalu pada pagi hari ketika cahaya matahari mulai menembus sela-sela dedaunan dan memantul di permukaan air. Kadang ia hinggap cukup lama di ujung bambu yang menjulur ke sungai. Kadang hanya lewat sebagai kilatan biru yang bergerak cepat menyusuri aliran air.

Kemunculan yang berulang itu menimbulkan pertanyaan sederhana. Mengapa justru pada awal kemarau burung itu lebih sering terlihat?

Sabtu, 13 Juni 2026

Gembili, Uwi, dan Musim yang Tidak Tergesa-gesa

Catatan Kampus Cikabayan


Bu Parjiyem, pegiat tanaman pangan lokal di Gunung Kidul, menunjukkan kepada penulis pohon Gembili dan Uwi yang tumbuh di pekarangan dan kebun lahan kering desanya. Dalam penuturannya, kedua tanaman umbi itu bukan sekadar sumber pangan alternatif, melainkan telah lama menjadi semacam “modal hidup” yang menopang ketahanan pangan masyarakat setempat di musim-musim yang tidak menentu. Yang menarik, penjelasan beliau tidak berhenti pada aspek budidaya atau konsumsi, tetapi meluas ke cara membaca alam: iklim, hujan, dan pergeseran kualitas musim.

Gembili (Dioscorea esculenta) dan uwi (Dioscorea alata) bagi Bu Parjiyem seperti “primbon hidup” musim tanam. Perilaku tumbuhnya, kapan mulai tumbuh stabil, kapan merambat kuat, dan kapan mulai mengisi umbi, dibaca sebagai tanda-tanda alam yang membantu petani menilai apakah musim hujan benar-benar berjalan baik atau hanya datang sebentar lalu hilang.