Catatan Kampus Cikabayan
Pak Sudargo, petani tadah hujan
yang tangguh dan tekun dari Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, tidak pernah
menyebut dirinya ahli iklim. Namun dari caranya bercerita tentang sawah, jelas
ia membaca musim dengan ketelitian yang tak kalah dari alat modern. Suatu hari,
ia berkisah kepada penulis tentang “runduk yuyu”, liang kecil di tanah sawah
yang digali oleh yuyu sebagai tempat berlindung. Bagi orang awam, runduk mungkin hanya tampak
seperti lubang biasa di pematang. Tetapi bagi Pak Sudargo, kemunculan runduk
dalam jumlah banyak adalah tanda yang tak pernah meleset: “kalau runduk yuyu
mulai banyak,” katanya pelan, “itu tandanya kemarau akan datang.”
Di banyak sawah tadah hujan di Pati bagian selatan, kemarau memang tidak datang sebagai tanggal di kalender. Ia muncul pelan-pelan, merambat dari tanah yang mulai mengeras, dari air yang perlahan menghilang. Dan sebelum manusia menyadarinya, seekor hewan kecil sudah lebih dulu tahu: yuyu.