Catatan Kampus Cikabayan
“Kembang turi yo mas tibo
lemah, mlebu omah ojo karo mlayu. Seneng ati ojo susah, timbang susah ayo podo
ngguyu.” Penggalan langgam Jawa “Ayo Ngguyu” yang dipopulerkan oleh ibu Waldjinah
itu tiba-tiba membawa ingatan penulis kembali ke masa kecil, berlarian di
pematang sawah, di antara deretan pohon turi yang tumbuh sebagai pagar hidup.
Bunganya yang putih menggantung, sesekali jatuh ke tanah, menjadi bagian dari
lanskap yang dulu terasa biasa, tetapi kini justru terasa seperti isyarat yang
pernah luput dibaca.
Di mata anak kecil, turi mungkin hanya pohon tempat berteduh atau sekadar latar bermain. Namun seiring waktu, ingatan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan: mengapa bunga turi sering bermekaran ketika sawah mulai kehilangan airnya? Mengapa ia tidak menunggu puncak musim hujan, ketika segala sesuatu tampak lebih subur? Dari sana, turi (Sesbania grandiflora) tidak lagi sekadar tanaman pagar, melainkan penanda yang diam-diam berbicara tentang peralihan musim.


