Catatan Kampus Cikabayan
Percakapan tentang
sistem iklim tradisional di Laboratorium Terpadu Departemen Geofisika dan
Meteorologi pada September 2022 berujung pada pertanyaan seorang mahasiswa,
“Kalau begitu, apakah sebelum ada raja itu orang Jawa belum tahu musim?” Saat
itu kami sedang membahas Pranata Mangsa yang dibakukan pada masa Pakubuwana VII
di Surakarta pada abad ke-19. Pertanyaan sederhana tersebut mengingatkan bahwa
masyarakat Jawa telah mengenal musim jauh sebelum Pranata Mangsa disusun.
Mereka mengetahui kapan hujan biasanya datang, kapan angin timur mulai bertiup,
kapan daun jati meranggas, serta berbagai pertanda alam yang menandai
pergantian musim. Pengetahuan itu hidup dalam praktik sehari-hari dan
diwariskan dari generasi ke generasi melalui pengalaman dan pengamatan terhadap
lingkungan.
Pranata Mangsa
bukanlah titik awal lahirnya pengetahuan musim di Jawa, melainkan hasil
pembakuan pengetahuan yang telah berkembang lama di tengah masyarakat agraris. Keraton
tidak menciptakan musim ataupun tanda-tanda alam tersebut, tetapi menyusun dan
mengodifikasikan pengetahuan yang telah hidup di masyarakat ke dalam bentuk
yang lebih sistematis. Pemahaman
ini sebenarnya telah dinyatakan secara jelas dalam Primbon Betaljemur
Adammakna:
“Pranata Mangsa punika petangan mangsa wawaton lampahing surya. Petangan punika dede barang enggal, wiwit kina-makina inggih sampun wonten.”