Minggu, 03 Mei 2026

“Bediding Asem Kemledak: Membaca Kemarau dari Pohon Asam”

 Catatan Kampus Cikabayan

Pada sebuah kesempatan acara kumpul petani ASEAN di Science Techno Park IPB, Kampus Taman Kencana, Bogor, penulis berkesempatan bertemu perempuan-perempuan petani tangguh di Indonesia. Salah satunya adalah Bu Rum Zaenab, petani tangguh dari Tuban, Jawa Timur. Beliau bercerita tentang buah asam yang mulai ranum hingga matang sebagai pertanda musim kemarau telah tiba, dengan istilah yang khas “Bediding Asem Kemledak”. Dengan gayanya yang lugas, ia mengisahkan bahwa di jalan masuk desanya dulu berdiri pohon-pohon asam raksasa. Kini tinggal empat pohon saja, itu pun buahnya tak lagi lebat seperti dulu, dan sebagian tumbang dimakan usia. Sambil menerawang ke masa kecilnya, ia mengenang siang hari sepulang sekolah, berteduh di bawah rindangnya asam, menunggu buah jatuh ditiup angin, lalu memungutnya dengan riang. Bagi Bu Rum, pohon asam bukan sekadar tanaman, melainkan penanda waktu, ruang bermain, sekaligus saksi perubahan desa.

Jumat, 01 Mei 2026

Turi: Mekar Ketika Air Mulai Berkurang

 Catatan Kampus Cikabayan


“Kembang turi yo mas tibo lemah, mlebu omah ojo karo mlayu. Seneng ati ojo susah, timbang susah ayo podo ngguyu.” Penggalan langgam Jawa “Ayo Ngguyu” yang dipopulerkan oleh ibu Waldjinah itu tiba-tiba membawa ingatan penulis kembali ke masa kecil, berlarian di pematang sawah, di antara deretan pohon turi yang tumbuh sebagai pagar hidup. Bunganya yang putih menggantung, sesekali jatuh ke tanah, menjadi bagian dari lanskap yang dulu terasa biasa, tetapi kini justru terasa seperti isyarat yang pernah luput dibaca.

Di mata anak kecil, turi mungkin hanya pohon tempat berteduh atau sekadar latar bermain. Namun seiring waktu, ingatan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan: mengapa bunga turi sering bermekaran ketika sawah mulai kehilangan airnya? Mengapa ia tidak menunggu puncak musim hujan, ketika segala sesuatu tampak lebih subur? Dari sana, turi (Sesbania grandiflora) tidak lagi sekadar tanaman pagar, melainkan penanda yang diam-diam berbicara tentang peralihan musim.

Menggembala Iklim di Selasar Klinik Tanaman

 Catatan Kampus Cikabayan


Penulis memanggilnya Pakde Widodo dan Pak Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yang lebih sering ditemui di antara kebun percobaan dan percakapan petani daripada ruang kelas. Di kampus, ia dikenal sebagai akademisi, tetapi di lapangan ia lebih sering menjadi pendengar daripada pemberi ceramah.

Hari itu hujan turun pelan di Kampus Dramaga. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat selasar Klinik Tanaman menjadi tempat singgah yang nyaman. Kami bertiga duduk di sana. Kopi sudah mulai dingin, tapi percakapan justru baru menghangat.

Petani, kata beliau-beliau sore itu, sebenarnya tidak pernah berhenti membaca alam. Bukan dengan istilah ilmiah, tetapi melalui tanda-tanda yang terus berulang. Dan mungkin justru di situlah letak pengetahuan yang sering kita lupakan, bahwa membaca tanda adalah bagian dari cara manusia memahami dunia.

Percakapan sore itu tidak berhenti pada kalimat-kalimat yang diucapkan. Ia seperti berlanjut diam-diam, menyusup ke cara penulis melihat ulang hubungan manusia dengan musim. Jauh sebelum istilah prediksi cuaca dan model iklim digunakan, orang-orang di Nusantara telah hidup dalam cara membaca musim yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Minggu, 17 Agustus 2025

AWS Komunitas: Manifesto Sains Partisipatif untuk Kedaulatan Pangan

Catatan Kampus Cikabayan


Sistem pertanian nasional menghadapi tantangan berlapis seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, lemahnya sistem data, hingga minimnya akses teknologi dan peringatan dini yang menjangkau petani kecil. Di tengah kondisi tersebut, muncul inisiatif komunitas berupa stasiun cuaca otomatis (AWS) berbasis komunitas yang memungkinkan produksi data iklim secara mandiri, transparan, dan sesuai kebutuhan lokal. Data iklim pun berubah menjadi pengetahuan bersama yang memperkuat kapasitas adaptasi petani.

Dari semangat itu lahirlah gagasan membangun wadah bersama yang menampung, mengolah, dan membagikan data komunitas, yang diwujudkan melalui platform map.sinaubumi.org dan sinoptik.ipb.ac.id. Platform ini memanifestasikan sains partisipatif dengan mempertemukan data iklim global dan lokal, sekaligus menempatkan petani sebagai produsen maupun pengguna pengetahuan. Kebutuhan prediksi iklim, seperti awal musim tanam, panjang musim hujan, dan potensi periode kering, dapat dijawab melalui jaringan AWS komunitas, yang memberikan informasi lebih spesifik pada skala lokal dan membantu petani mengambil keputusan tepat dalam waktu tanam, pemilihan varietas, hingga strategi pengendalian hama dan penyakit dan budidaya.

Kamis, 07 Agustus 2025

Menyemai Awan, Mengabaikan Akar

(Refleksi atas Teknologi Modifikasi Cuaca di Indonesia, sebuah catatan dari Kampus Cikabayan)


Beberapa tahun terakhir, langit Indonesia semakin sering disentuh tangan manusia. Di negeri yang sejak lama menjadikan hujan sebagai lambang keberkahan dan musim sebagai penentu hidup-mati panen, kini awan diperlakukan seperti mesin yang bisa dikendalikan dengan perintah sains. Doa-doa yang dulu dilantunkan di sawah, nyanyian musim yang diwariskan para leluhur, dan pengetahuan lokal yang membaca arah angin dan tingkah hewan, perlahan tersisih oleh deru pesawat penyemaian dan angka curah hujan dalam spreadsheet. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hadir dengan janji pengendalian, bukan penghayatan. Dari banjir Jakarta hingga kebakaran lahan di Kalimantan, dari krisis air bersih hingga kekeringan sawah, TMC tampil sebagai “senjata pintar” negara untuk menjinakkan krisis hidrometeorologi. Klaim keberhasilannya pun terdengar mengesankan: hujan berhasil diturunkan di kawasan waduk, banjir berhasil dihindari, asap kebakaran hutan berhasil ditekan. Namun di balik semua itu, tersisa pertanyaan yang makin mendesak, benarkah kita sedang mengatasi masalah, atau justru sedang menyiram permukaan sambil membiarkan akar persoalan membusuk?