Catatan Kampus Cikabayan
Beberapa hari lalu, sahabat penulis, Pak Sudargo, mengirimkan beberapa foto melalui WhatsApp. Ia bukan hanya seorang petani lahan kering di Pati Selatan, tetapi juga bagian dari jejaring AWS Komunitas, sebuah gerakan petani pengamat iklim yang tumbuh melalui gotong royong dan berbagi pengetahuan. Foto-foto yang ia kirim memperlihatkan hamparan padi yang masih tampak hijau di tengah musim kemarau.
Pada salah satu foto, ia menuliskan keterangan singkat: “Padi IPB 10, sudah 79 HST di lahan extrem kering. Saat ini hanya mengandalkan embun n keajaiban Tuhan lurr."
Pada foto berikutnya ia kembali mengirim kabar: "Ini IPB 9 luas
0,25 ha umur 88 HST. Insyaallah 100 HST kalo gak ad halangan
panen lurr."
Lalu satu kalimat pendek yang
membuat penulis berhenti sejenak: "Hujan terakhir tgl 24 Mei."
Kalimat itu menarik, bukan hanya karena datang dari seorang petani, tetapi juga dari seorang pengamat iklim yang setiap hari memantau cuaca di lahannya sendiri. Jika hujan terakhir turun pada 24 Mei, lalu dari mana tanaman-tanaman itu memperoleh air hingga mampu bertahan mendekati masa panen? Berapa banyak cadangan air yang masih tersimpan di dalam tanah? Sampai kapan tanaman mampu bertahan sebelum mulai mengalami cekaman kekeringan?