Catatan Kampus Cikabayan
Penulis menyaksikan
perubahan lanskap yang sangat mencolok dalam sebuah perjalanan menyusuri
bentang alam selatan Jawa, mulai dari Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan hingga
Trenggalek pada medio Agustus 2021. Perbukitan
yang beberapa bulan sebelumnya tampak hijau perlahan berubah warna. Pohon-pohon
jati mulai meranggas dan menggugurkan daunnya. Tajuk yang semula rimbun menjadi
lebih terbuka, memperlihatkan cabang-cabang yang sebelumnya tersembunyi di
balik hamparan daun hijau. Pemandangan ini sangat berbeda dengan kondisi
yang penulis saksikan sekitar enam bulan sebelumnya, sekitar bulan Februari. Di
lokasi yang sama, pohon-pohon jati sedang berada pada puncak kehijauannya.
Daun-daunnya tampak segar, membentuk kanopi yang rapat dan memberi kesan bahwa
air tersedia melimpah di dalam tanah.
Perubahan tersebut bukanlah kebetulan. Ia merupakan bagian dari ritme tahunan yang menghubungkan iklim, tanah, dan tumbuhan. Di wilayah selatan Jawa, masyarakat tidak perlu menunggu data curah hujan atau laporan musim untuk mengetahui bahwa kemarau sedang berlangsung. Cukup memandang lereng-lereng yang ditumbuhi jati, mereka dapat melihat bagaimana musim sedang bekerja. Lanskap yang menghijau pada puncak musim hujan perlahan berubah menjadi hamparan batang dan ranting ketika kemarau menguat. Jati seolah memiliki bahasanya sendiri untuk menyampaikan perubahan musim.