Catatan kampus Cikabayan
Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan
tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi
pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom
yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak
petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang
diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit
dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.
Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit
dari hari ke hari.
“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)