Minggu, 07 Juni 2026

Pembakuan Pengetahuan Musim: Dari Tradisi ke Pranata Mangsa

Catatan Kampus Cikabayan

Percakapan tentang sistem iklim tradisional di Laboratorium Terpadu Departemen Geofisika dan Meteorologi pada September 2022 berujung pada pertanyaan seorang mahasiswa, “Kalau begitu, apakah sebelum ada raja itu orang Jawa belum tahu musim?” Saat itu kami sedang membahas Pranata Mangsa yang dibakukan pada masa Pakubuwana VII di Surakarta pada abad ke-19. Pertanyaan sederhana tersebut mengingatkan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal musim jauh sebelum Pranata Mangsa disusun. Mereka mengetahui kapan hujan biasanya datang, kapan angin timur mulai bertiup, kapan daun jati meranggas, serta berbagai pertanda alam yang menandai pergantian musim. Pengetahuan itu hidup dalam praktik sehari-hari dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui pengalaman dan pengamatan terhadap lingkungan.

Pranata Mangsa bukanlah titik awal lahirnya pengetahuan musim di Jawa, melainkan hasil pembakuan pengetahuan yang telah berkembang lama di tengah masyarakat agraris. Keraton tidak menciptakan musim ataupun tanda-tanda alam tersebut, tetapi menyusun dan mengodifikasikan pengetahuan yang telah hidup di masyarakat ke dalam bentuk yang lebih sistematis. Pemahaman ini sebenarnya telah dinyatakan secara jelas dalam Primbon Betaljemur Adammakna:

“Pranata Mangsa punika petangan mangsa wawaton lampahing surya. Petangan punika dede barang enggal, wiwit kina-makina inggih sampun wonten.”

Selasa, 02 Juni 2026

Embun Upas Dieng: Sesotya Murca ing Embanan

Catatan Kampus Cikabayan

"Sesotya murca ing embanan." Permata terlepas dari wadahnya. Demikian salah satu candra mangsa dalam Pranata Mangsa menggambarkan datangnya musim kemarau. Ungkapan itu terdengar seperti puisi, tetapi di Dataran Tinggi Dieng ia dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Menjelang pagi, ketika cahaya matahari mulai menyentuh hamparan ladang kentang dan rerumputan, ribuan kristal putih berkilauan di atas daun-daun tanaman, seperti serpihan intan yang berserakan di permukaan bumi. Pemandangan tersebut begitu indah hingga banyak orang rela datang ke Dieng hanya untuk menyaksikannya. Namun bagi petani setempat, keindahan itu sering kali membawa kecemasan. Kristal-kristal yang berkilauan tersebut adalah bun upas atau embun upas (racun). Setelah matahari meninggi dan kristal-kristal es mencair, daun-daun tanaman yang semula tampak sehat dapat berubah menjadi layu, mengering, bahkan menghitam. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin embun beku dapat muncul di wilayah tropis yang berada begitu dekat dengan garis khatulistiwa?

Senin, 01 Juni 2026

Kecemburuan Tikus Hutan pada Orangutan

Catatan Kampus Cikabayan

Jika tikus hutan bisa berbicara, mungkin ia punya alasan untuk cemburu kepada orangutan. Mereka sama-sama hidup di hutan Kalimantan. Sama-sama kehilangan rumah ketika hutan ditebang. Sama-sama menghadapi risiko ketika habitat terfragmentasi. Namun, nasib keduanya sangat berbeda. Orangutan menjadi wajah konservasi. Fotonya menghiasi poster, laporan tahunan, kampanye lingkungan, dan proposal pendanaan. Ketika seekor orangutan terekam kamera trap, para peneliti tersenyum. Ketika lembaga konservasi berbicara tentang penyelamatan hutan, orangutan hampir selalu menjadi tokoh utama.

Sementara itu, tikus hutan tetap menjadi penghuni anonim. Fotonya sering terlewat begitu saja saat kartu memori kamera trap diperiksa. Namanya jarang disebut dalam laporan. Hampir tidak pernah menjadi alasan seseorang menyumbangkan dana untuk menyelamatkan hutan.

Kamis, 28 Mei 2026

Nasib Ikan Sapu-Sapu: Martir Dosa Tata Kelola Sungai

Catatan Kampus Cikabayan

Pada April–Mei 2026, media sosial dipenuhi video sungai yang dipadati ikan sapu-sapu. Ribuan ekor ikan berzirah itu diangkut dengan jaring, ditumpuk di tepian sungai, lalu dimasukkan ke dalam karung dan truk pengangkut. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, operasi penangkapan massal itu berubah menjadi tontonan publik. Media arus utama pun ikut membangun narasi tentang “perang melawan spesies invasif” dan ancaman ikan sapu-sapu bagi sungai Jakarta.

Sejak saat itu, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis—Amazon sailfin catfish) perlahan berubah dari sekadar spesies invasif menjadi simbol politik-ekologis di Indonesia. Tubuhnya yang keras, wajahnya yang asing, serta kemampuannya bertahan hidup di air hitam penuh limbah menjadikannya representasi visual dari sungai yang tercemar sekaligus kegagalan tata kelola air. Pemerintah menyebutnya ancaman bagi ikan lokal. Warga menganggapnya hama sungai. Media menampilkan tumpukan bangkai ikan sebagai tanda bahwa negara sedang bekerja membersihkan sungai. Namun, di balik viralnya operasi pemusnahan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa justru ikan ini yang mampu bertahan hidup di sungai-sungai kita?

Sains Partisipatif di Antara Dinamika Tata Kelola Iklim dan Cuaca

Catatan Kampus Cikabayan


Beberapa tahun terakhir ini, cuaca dan iklim di Indonesia semakin ramai dibicarakan. Lembaga resmi negara mengumumkan prakiraan musim. Peneliti dari lembaga riset dan inovasi terkemuka di negara ini menjelaskan potensi bencana hidrometeorologi. Media sosial dipenuhi istilah-istilah atmosfer yang dahulu hanya dikenal di ruang seminar, El Niño, IOD, MJO, hingga cuaca ekstrem. Sementara itu, di banyak desa, mulai muncul inisiatif AWS komunitas dan gerakan sains partisipatif. Mereka mulai memasang sensor hujan dan cuaca mandiri di tepi sawah, lereng perbukitan, hingga halaman rumah warga.

Di tengah arus informasi itu, penulis teringat pada satu istilah yang sedang ramai memenuhi media, El Niño Godzilla. Sebuah diksi yang terdengar seperti judul film monster, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat dan berpotensi memicu kekeringan panjang di Indonesia. Istilah itu cepat menyebar ke grup WhatsApp petani, media daring, hingga percakapan warung kopi desa. Sebagian orang panik, sebagian lain menganggapnya berlebihan. Tidak sedikit pula yang bingung. Apakah itu informasi resmi negara, hasil riset ilmiah, atau sekadar dramatisasi media?