Senin, 01 Juni 2026

Kecemburuan Tikus Hutan pada Orangutan

Catatan Kampus Cikabayan

Jika tikus hutan bisa berbicara, mungkin ia punya alasan untuk cemburu kepada orangutan. Mereka sama-sama hidup di hutan Kalimantan. Sama-sama kehilangan rumah ketika hutan ditebang. Sama-sama menghadapi risiko ketika habitat terfragmentasi. Namun, nasib keduanya sangat berbeda. Orangutan menjadi wajah konservasi. Fotonya menghiasi poster, laporan tahunan, kampanye lingkungan, dan proposal pendanaan. Ketika seekor orangutan terekam kamera trap, para peneliti tersenyum. Ketika lembaga konservasi berbicara tentang penyelamatan hutan, orangutan hampir selalu menjadi tokoh utama.

Sementara itu, tikus hutan tetap menjadi penghuni anonim. Fotonya sering terlewat begitu saja saat kartu memori kamera trap diperiksa. Namanya jarang disebut dalam laporan. Hampir tidak pernah menjadi alasan seseorang menyumbangkan dana untuk menyelamatkan hutan.

Penulis mulai memikirkan hal itu ketika memeriksa hasil kamera trap dari beberapa lokasi di Kalimantan. Seperti banyak peneliti satwa liar lainnya, penulis tentu berharap menemukan gambar satwa yang menarik. Orangutan, beruang madu, atau mungkin macan dahan yang melintas pada malam hari. Namun, ketika ratusan foto diperiksa, yang paling sering muncul justru mamalia-mamalia kecil. Sebagian bergerak di permukaan tanah, sebagian memanjat batang pohon, sebagian beraktivitas di tajuk. Mereka hadir siang dan malam, seolah ingin mengingatkan bahwa sebagian besar kehidupan hutan berlangsung jauh dari perhatian manusia.

Saat itulah muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mengganggu. Mungkinkah kita terlalu sibuk memperhatikan satwa yang terkenal sehingga lupa memahami bagaimana hutan sebenarnya bekerja?

Tidak ada yang salah dengan orangutan. Justru sebaliknya. Orangutan adalah spesies yang luar biasa dan telah berhasil membuat dunia peduli pada hutan Kalimantan. Dalam dunia konservasi, orangutan termasuk apa yang disebut sebagai spesies karismatik (charismatic species), yaitu satwa yang memiliki daya tarik kuat di mata manusia. Wajahnya mudah dikenali. Perilakunya mudah membangkitkan empati, dan kisah hidupnya mudah diceritakan kepada publik.

Karena daya tarik tersebut, orangutan kemudian menjadi spesies unggulan (flagship species), yaitu spesies yang digunakan sebagai simbol untuk menggalang dukungan publik, membangun kampanye, dan menarik pendanaan konservasi. Pendekatan ini terbukti efektif. Banyak kawasan hutan mungkin telah hilang lebih cepat jika tidak ada perhatian global yang dibangun melalui spesies-spesies unggulan seperti orangutan.

Dari sinilah persoalannya menjadi menarik. Dalam ekologi terdapat konsep spesies kunci (keystone species). Jika spesies unggulan dipilih karena kemampuannya menarik perhatian manusia, maka spesies kunci ditentukan oleh perannya dalam menjaga fungsi ekosistem. Kedua kategori tersebut tidak selalu bertemu pada spesies yang sama.

Kita sering menganggap bahwa spesies yang paling dikenal publik otomatis merupakan spesies yang paling penting bagi ekosistem. Anggapan itu terdengar masuk akal, tetapi sebenarnya cukup naif. Alam tidak bekerja mengikuti logika popularitas.

Istilah spesies kunci dalam ekologi diambil dari batu pengunci pada sebuah lengkungan bangunan. Batu tersebut tidak selalu paling besar, tetapi jika dilepas, seluruh lengkungan dapat runtuh. Spesies kunci adalah spesies yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kestabilan ekosistem, sering kali jauh lebih besar dibandingkan ukuran tubuh atau jumlah individunya.

Pemahaman itu menjadi semakin jelas ketika penulis mencoba melihat mamalia Kalimantan sebagai sebuah jejaring makanan. Fokusnya bukan lagi berapa banyak spesies yang ada, melainkan bagaimana mereka saling terhubung. Siapa menjadi mangsa. Siapa menjadi predator. Siapa yang menghubungkan berbagai jalur aliran energi.

Ketika jejaring tersebut dianalisis, hasilnya menunjukkan bahwa beberapa mamalia kecil justru memiliki tingkat keterhubungan yang tinggi dalam jaringan makanan. Mereka menempati posisi sentral yang menghubungkan banyak komponen ekosistem sekaligus. Sebagian memakan buah dan biji, sebagian memanfaatkan serangga, dan sebagian menjadi sumber makanan bagi berbagai predator. Melalui mereka, energi berpindah dari satu bagian sistem ke bagian lainnya.

Temuan itu mengingatkan penulis bahwa ukuran tubuh tidak selalu mencerminkan besarnya peran ekologis. Seekor mamalia kecil mungkin tidak pernah menjadi maskot kampanye lingkungan, tetapi hilangnya spesies tersebut dapat memutus banyak hubungan sekaligus. Dalam sebuah jaringan, yang penting bukan hanya siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling banyak menghubungkan bagian-bagian sistem.

Ironisnya, spesies-spesies seperti inilah yang jarang mendapat perhatian. Kita lebih mudah mengingat jumlah orangutan daripada memahami komunitas mamalia kecil yang hidup bersama mereka. Kita lebih sering membicarakan sarang orangutan daripada organisme-organisme yang membantu menjaga regenerasi hutan. Kita lebih tertarik pada spesies yang mudah difoto daripada hubungan ekologis yang membuat hutan tetap berfungsi.

Sampai di sini muncul pertanyaan yang membuat penulis tidak nyaman. Mengapa konservasi begitu mudah berbicara tentang orangutan, tetapi jarang berbicara tentang mamalia kecil dan jejaring kehidupan yang menopangnya?

Barangkali ada jawaban yang sederhana. Orangutan adalah spesies karismatik sekaligus spesies unggulan. Ia lebih mudah masuk berita, lebih mudah menjadi wajah kampanye, dan lebih mudah membuka pintu pendanaan dibandingkan penjelasan tentang jejaring makanan atau fungsi ekologis mamalia kecil. Dalam dunia yang semakin bergantung pada perhatian publik, karisma sering kali menjadi mata uang yang tidak kalah penting dibandingkan data ilmiah.

Penulis tidak meragukan pentingnya orangutan bagi hutan. Namun, apakah perhatian kita kepada orangutan sepenuhnya lahir karena kepentingan hutan, atau sebagian juga karena kepentingan kita sendiri.

Siapa sesungguhnya yang sedang diselamatkan? Apakah kita menyelamatkan orangutan, atau justru orangutan yang selama ini memungkinkan berbagai penelitian, proyek konservasi, kampanye lingkungan, seminar, laporan, dan sumber penghidupan para pegiatnya terus berjalan?

Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak nyaman. Namun, ketika perhatian, pendanaan, dan program konservasi terlalu terpusat pada satu spesies, ada risiko bahwa kita melupakan sistem yang menopang spesies tersebut. Kita menjaga simbolnya, tetapi kurang memahami fondasinya.

Padahal orangutan sendiri tidak hidup sendirian. Ia membutuhkan hutan yang mampu beregenerasi. Ia membutuhkan pohon-pohon yang menghasilkan buah. Ia membutuhkan rantai makanan yang tetap berjalan. Ia membutuhkan ekosistem yang sehat dari permukaan tanah hingga tajuk pohon tertinggi. Dengan kata lain, ia juga bergantung pada keberadaan banyak spesies lain yang jarang masuk poster konservasi.

Barangkali kecemburuan tikus hutan pada orangutan bukan karena orangutan terlalu banyak mendapat perhatian. Ia hanya heran mengapa manusia begitu sering mengukur pentingnya suatu spesies dari kemampuannya menarik kamera, donor, dan berita, sementara hutan memiliki cara penilaiannya sendiri.

Di mata hutan, yang paling penting belum tentu yang paling besar, paling terkenal, atau paling sering muncul dalam poster konservasi. Sering kali yang paling penting adalah mereka yang diam-diam menghubungkan kehidupan satu dengan yang lain.

Konservasi mungkin membutuhkan spesies unggulan. Manusia mungkin membutuhkan spesies karismatik. Tetapi hutan, pada akhirnya, bergantung pada spesies-spesies kunci yang sering kali tidak pernah kita kenal namanya. Bisa jadi salah satunya adalah seekor tikus hutan yang fotonya baru saja kita lewatkan.

(SiBu Bayan)