Catatan Kampus Cikabayan
Jika tikus hutan bisa berbicara,
mungkin ia punya alasan untuk cemburu kepada orangutan. Mereka sama-sama hidup
di hutan Kalimantan. Sama-sama kehilangan rumah ketika hutan ditebang.
Sama-sama menghadapi risiko ketika habitat terfragmentasi. Namun, nasib keduanya
sangat berbeda. Orangutan menjadi
wajah konservasi. Fotonya menghiasi poster, laporan tahunan, kampanye
lingkungan, dan proposal pendanaan. Ketika seekor orangutan terekam kamera
trap, para peneliti tersenyum. Ketika lembaga konservasi berbicara tentang
penyelamatan hutan, orangutan hampir selalu menjadi tokoh utama.
Sementara itu, tikus hutan tetap menjadi penghuni anonim. Fotonya sering terlewat begitu saja saat kartu memori kamera trap diperiksa. Namanya jarang disebut dalam laporan. Hampir tidak pernah menjadi alasan seseorang menyumbangkan dana untuk menyelamatkan hutan.
Penulis mulai memikirkan hal itu ketika memeriksa hasil kamera trap dari
beberapa lokasi di Kalimantan. Seperti banyak peneliti satwa liar lainnya, penulis
tentu berharap menemukan gambar satwa yang menarik. Orangutan, beruang
madu, atau mungkin macan dahan yang melintas pada malam hari. Namun, ketika
ratusan foto diperiksa, yang paling sering muncul justru mamalia-mamalia kecil.
Sebagian bergerak di permukaan tanah, sebagian memanjat batang pohon, sebagian
beraktivitas di tajuk. Mereka hadir siang dan malam, seolah ingin mengingatkan
bahwa sebagian besar kehidupan hutan berlangsung jauh dari perhatian manusia.
Saat itulah muncul pertanyaan
yang sederhana tetapi mengganggu. Mungkinkah kita terlalu sibuk memperhatikan
satwa yang terkenal sehingga lupa memahami bagaimana hutan sebenarnya bekerja?
Tidak ada yang salah dengan
orangutan. Justru sebaliknya. Orangutan adalah spesies yang luar biasa dan
telah berhasil membuat dunia peduli pada hutan Kalimantan. Dalam dunia
konservasi, orangutan termasuk apa yang disebut sebagai spesies karismatik (charismatic
species), yaitu satwa yang memiliki daya tarik kuat di mata manusia.
Wajahnya mudah dikenali. Perilakunya mudah membangkitkan empati, dan kisah
hidupnya mudah diceritakan kepada publik.
Karena daya tarik tersebut,
orangutan kemudian menjadi spesies unggulan (flagship species), yaitu
spesies yang digunakan sebagai simbol untuk menggalang dukungan publik,
membangun kampanye, dan menarik pendanaan konservasi. Pendekatan ini terbukti
efektif. Banyak kawasan hutan mungkin telah hilang lebih cepat jika tidak ada
perhatian global yang dibangun melalui spesies-spesies unggulan seperti
orangutan.
Dari sinilah persoalannya menjadi menarik. Dalam ekologi terdapat konsep spesies
kunci (keystone species). Jika spesies unggulan dipilih karena
kemampuannya menarik perhatian manusia, maka spesies kunci ditentukan oleh
perannya dalam menjaga fungsi ekosistem. Kedua kategori tersebut tidak selalu
bertemu pada spesies yang sama.
Kita sering menganggap bahwa spesies yang paling dikenal publik otomatis
merupakan spesies yang paling penting bagi ekosistem. Anggapan itu terdengar
masuk akal, tetapi sebenarnya cukup naif. Alam tidak bekerja mengikuti logika
popularitas.
Istilah spesies kunci dalam ekologi diambil dari batu pengunci pada sebuah
lengkungan bangunan. Batu tersebut tidak selalu paling besar, tetapi
jika dilepas, seluruh lengkungan dapat runtuh. Spesies kunci adalah spesies
yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kestabilan ekosistem, sering kali
jauh lebih besar dibandingkan ukuran tubuh atau jumlah individunya.
Pemahaman itu menjadi semakin
jelas ketika penulis mencoba melihat mamalia Kalimantan sebagai sebuah jejaring
makanan. Fokusnya bukan lagi berapa banyak spesies yang ada, melainkan
bagaimana mereka saling terhubung. Siapa
menjadi mangsa. Siapa menjadi predator. Siapa yang menghubungkan berbagai jalur
aliran energi.
Ketika jejaring tersebut dianalisis, hasilnya menunjukkan bahwa beberapa
mamalia kecil justru memiliki tingkat keterhubungan yang tinggi dalam jaringan
makanan. Mereka menempati posisi sentral yang menghubungkan banyak komponen
ekosistem sekaligus. Sebagian memakan buah dan biji, sebagian memanfaatkan
serangga, dan sebagian menjadi sumber makanan bagi berbagai predator. Melalui
mereka, energi berpindah dari satu bagian sistem ke bagian lainnya.
Temuan itu mengingatkan penulis bahwa ukuran tubuh tidak selalu
mencerminkan besarnya peran ekologis. Seekor mamalia kecil mungkin tidak pernah
menjadi maskot kampanye lingkungan, tetapi hilangnya spesies tersebut dapat
memutus banyak hubungan sekaligus. Dalam sebuah jaringan, yang penting
bukan hanya siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling banyak
menghubungkan bagian-bagian sistem.
Ironisnya, spesies-spesies
seperti inilah yang jarang mendapat perhatian. Kita lebih mudah mengingat
jumlah orangutan daripada memahami komunitas mamalia kecil yang hidup bersama
mereka. Kita lebih sering
membicarakan sarang orangutan daripada organisme-organisme yang membantu
menjaga regenerasi hutan. Kita lebih tertarik pada spesies yang mudah difoto
daripada hubungan ekologis yang membuat hutan tetap berfungsi.
Sampai di sini muncul pertanyaan yang membuat penulis tidak nyaman. Mengapa
konservasi begitu mudah berbicara tentang orangutan, tetapi jarang berbicara
tentang mamalia kecil dan jejaring kehidupan yang menopangnya?
Barangkali ada jawaban yang sederhana. Orangutan adalah spesies karismatik
sekaligus spesies unggulan. Ia lebih mudah masuk berita, lebih mudah menjadi
wajah kampanye, dan lebih mudah membuka pintu pendanaan dibandingkan penjelasan
tentang jejaring makanan atau fungsi ekologis mamalia kecil. Dalam dunia yang
semakin bergantung pada perhatian publik, karisma sering kali menjadi mata uang
yang tidak kalah penting dibandingkan data ilmiah.
Penulis tidak meragukan pentingnya orangutan bagi hutan. Namun, apakah
perhatian kita kepada orangutan sepenuhnya lahir karena kepentingan hutan, atau
sebagian juga karena kepentingan kita sendiri.
Siapa sesungguhnya yang sedang
diselamatkan? Apakah kita menyelamatkan orangutan, atau justru orangutan yang
selama ini memungkinkan berbagai penelitian, proyek konservasi, kampanye
lingkungan, seminar, laporan, dan sumber penghidupan para pegiatnya terus
berjalan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar
tidak nyaman. Namun, ketika perhatian, pendanaan, dan program konservasi terlalu
terpusat pada satu spesies, ada risiko bahwa kita melupakan sistem yang
menopang spesies tersebut. Kita menjaga simbolnya, tetapi kurang memahami
fondasinya.
Padahal orangutan sendiri tidak hidup sendirian. Ia membutuhkan
hutan yang mampu beregenerasi. Ia membutuhkan pohon-pohon yang menghasilkan
buah. Ia membutuhkan rantai makanan yang tetap berjalan. Ia membutuhkan
ekosistem yang sehat dari permukaan tanah hingga tajuk pohon tertinggi. Dengan
kata lain, ia juga bergantung pada keberadaan banyak spesies lain yang jarang
masuk poster konservasi.
Barangkali kecemburuan tikus
hutan pada orangutan bukan karena orangutan terlalu banyak mendapat perhatian.
Ia hanya heran mengapa manusia begitu sering mengukur pentingnya suatu spesies
dari kemampuannya menarik kamera, donor, dan berita, sementara hutan memiliki
cara penilaiannya sendiri.
Di mata hutan, yang paling
penting belum tentu yang paling besar, paling terkenal, atau paling sering
muncul dalam poster konservasi. Sering kali yang paling penting adalah mereka
yang diam-diam menghubungkan kehidupan satu dengan yang lain.
Konservasi mungkin membutuhkan
spesies unggulan. Manusia mungkin membutuhkan spesies karismatik. Tetapi hutan,
pada akhirnya, bergantung pada spesies-spesies kunci yang sering kali tidak
pernah kita kenal namanya. Bisa jadi salah satunya adalah seekor tikus hutan
yang fotonya baru saja kita lewatkan.
(SiBu Bayan)