Catatan Kampus Cikabayan
Penulis menyaksikan
perubahan lanskap yang sangat mencolok dalam sebuah perjalanan menyusuri
bentang alam selatan Jawa, mulai dari Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan hingga
Trenggalek pada medio Agustus 2021. Perbukitan
yang beberapa bulan sebelumnya tampak hijau perlahan berubah warna. Pohon-pohon
jati mulai meranggas dan menggugurkan daunnya. Tajuk yang semula rimbun menjadi
lebih terbuka, memperlihatkan cabang-cabang yang sebelumnya tersembunyi di
balik hamparan daun hijau. Pemandangan ini sangat berbeda dengan kondisi
yang penulis saksikan sekitar enam bulan sebelumnya, sekitar bulan Februari. Di
lokasi yang sama, pohon-pohon jati sedang berada pada puncak kehijauannya.
Daun-daunnya tampak segar, membentuk kanopi yang rapat dan memberi kesan bahwa
air tersedia melimpah di dalam tanah.
Perubahan tersebut bukanlah kebetulan. Ia merupakan bagian dari ritme tahunan yang menghubungkan iklim, tanah, dan tumbuhan. Di wilayah selatan Jawa, masyarakat tidak perlu menunggu data curah hujan atau laporan musim untuk mengetahui bahwa kemarau sedang berlangsung. Cukup memandang lereng-lereng yang ditumbuhi jati, mereka dapat melihat bagaimana musim sedang bekerja. Lanskap yang menghijau pada puncak musim hujan perlahan berubah menjadi hamparan batang dan ranting ketika kemarau menguat. Jati seolah memiliki bahasanya sendiri untuk menyampaikan perubahan musim.
Pohon jati (Tectona grandis) merupakan salah satu
spesies pohon tropis yang paling dikenal di Indonesia. Pohon ini dapat tumbuh
hingga lebih dari tiga puluh meter dengan batang lurus dan tajuk yang relatif
terbuka. Daunnya besar, berbentuk lonjong, bertekstur kasar, dan pada pohon
muda dapat mencapai panjang lebih dari tiga puluh sentimeter. Kayunya terkenal
kuat, awet, serta tahan terhadap pelapukan sehingga sejak lama menjadi bahan
penting untuk bangunan, perahu, hingga berbagai perabot rumah tangga. Namun di
balik nilai ekonominya, jati sesungguhnya merupakan contoh menarik tentang
bagaimana tumbuhan beradaptasi terhadap iklim musiman.
Asal-usul jati di Jawa masih menjadi bahan diskusi di kalangan
ahli. Sebagian peneliti berpendapat bahwa jati berasal dari India dan daratan
Asia Tenggara, lalu menyebar ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan
interaksi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Apa pun asalnya, jati telah lama menjadi bagian
dari bentang alam Jawa. Selama ratusan tahun, pohon ini tidak hanya ditanam
untuk menghasilkan kayu, tetapi juga karena sangat sesuai dengan kondisi
lingkungan yang dijumpainya.
Kesesuaian itu tampak jelas pada wilayah selatan Jawa. Dari
Gunungkidul hingga Trenggalek terbentang kawasan perbukitan yang banyak
tersusun oleh batuan kapur, napal, dan batuan sedimen tua. Curah hujan tahunan
sebenarnya tidak selalu rendah, tetapi sebagian besar hujan terkonsentrasi pada
musim penghujan yang berlangsung beberapa bulan. Setelah itu datang kemarau
yang cukup tegas, ketika hujan berkurang drastis dan cadangan air di permukaan
mulai menurun. Pada kawasan karst, sebagian besar air hujan segera meresap
melalui rekahan-rekahan batuan sehingga tanah di permukaan lebih cepat
mengalami kekeringan.
Lingkungan semacam ini sangat cocok bagi jati. Sistem
perakarannya mampu menjangkau lapisan tanah yang lebih dalam untuk mencari air.
Selain itu, jati memiliki kemampuan fisiologis yang membuatnya mampu bertahan
menghadapi kekurangan air musiman. Ketika ketersediaan air mulai menurun, pohon
ini tidak memaksakan diri mempertahankan seluruh daunnya. Sebaliknya, ia
memasuki fase penghematan.
Secara fisiologis, jati tergolong tumbuhan gugur daun atau deciduous
tree. Saat musim hujan berlangsung, pohon ini aktif membentuk daun baru,
memperbesar batang, dan meningkatkan pertumbuhan. Namun ketika kemarau
berkembang, jati mulai mengurangi aktivitas yang membutuhkan banyak air. Hormon
tumbuhan memicu terbentuknya lapisan pemisah pada tangkai daun sehingga
daun-daun tua mulai rontok. Proses ini bukan tanda kematian, melainkan strategi
bertahan hidup. Dengan mengurangi jumlah daun, pohon dapat menekan kehilangan
air melalui transpirasi dan mempertahankan keseimbangan air di dalam tubuhnya.
Apa yang terjadi pada jati sebenarnya merupakan respons
terhadap kondisi lingkungan yang terakumulasi selama berminggu-minggu hingga
berbulan-bulan. Pohon ini tidak merespons satu hari tanpa hujan, melainkan
merespons penurunan kelembapan tanah yang berlangsung terus-menerus. Karena
itu, perubahan pada tajuk jati dapat dipandang sebagai rekaman biologis dari
perkembangan musim kemarau.
Ketika seorang klimatolog melihat grafik curah hujan yang
menurun dari bulan Mei hingga Agustus, pohon jati menunjukkan informasi yang
sama melalui bahasa yang berbeda. Grafik menampilkan angka, sedangkan jati
menampilkan daun yang gugur. Keduanya menggambarkan proses yang sama:
berkurangnya ketersediaan air dalam lingkungan.
Bagi masyarakat pedesaan yang hidup berdampingan dengan hutan
jati, gejala meranggas ini lebih dari sekadar proses biologis. Ia merupakan salah satu penanda musim yang dapat
diamati secara langsung. Semakin banyak pohon yang menggugurkan daun,
semakin jelas pesan yang disampaikan oleh lanskap bahwa kemarau sedang menguat.
Tanah mulai kehilangan kelembapannya, sumber-sumber air mengecil, dan musim
hujan masih jauh di depan.
Bahasa kemarau yang disampaikan jati tidak hadir dalam bentuk
angka. Tidak ada satu pun daun yang menjelaskan berapa milimeter hujan yang
telah turun atau berapa persen kadar air tanah yang tersisa. Namun melalui
perubahan warna lanskap, kerapatan tajuk, dan banyaknya daun yang gugur, jati
menyampaikan informasi yang dapat dibaca oleh siapa saja yang terbiasa
memperhatikannya. Ia menjadi salah satu contoh bagaimana iklim meninggalkan
jejak yang nyata pada ekosistem.
Jati menjadi begitu akrab dengan selatan
Jawa. Ia tidak sekadar ditanam manusia, tetapi menemukan lingkungan yang sesuai
dengan watak biologisnya. Musim hujan memberinya kesempatan untuk tumbuh,
sementara kemarau memaksanya menghemat air. Di antara kedua musim itulah jati
menuliskan bahasa kemarau yang dapat dibaca oleh siapa pun yang memperhatikan
perubahan lanskap dari tahun ke tahun. Ketika daun-daun mulai berguguran, pohon
ini sesungguhnya sedang memperlihatkan bagaimana iklim bekerja melalui
tumbuhan. Apa yang tampak sebagai perubahan warna perbukitan pada bulan Agustus
sebenarnya merupakan ekspresi dari hubungan yang panjang antara atmosfer,
tanah, air, dan kehidupan.
(SiBu Bayan)