Minggu, 21 Juni 2026

Ketika Mangga di Tapal Kuda Menunda Musim Bunga

Catatan Kampus Cikabayan

Pertengahan Mei 2026, setelah keluar dari pintu tol Gending Probolinggo menuju arah Situbondo, jalan Pantura Tapal Kuda terbentang mengikuti garis pesisir utara Jawa bagian timur, pada bentang yang lebih tepat disebut koridor Probolinggo–Situbondo. Di sepanjang ruas jalan itu, lanskap tidak pernah benar-benar seragam. Ada kebun campuran, pekarangan rumah warga, lahan kering, dan deretan pohon mangga yang berdiri di batas-batas ruang itu tanpa pola tanam yang rapi, seolah tumbuh mengikuti kesepakatan lama antara manusia dan musim.

Biasanya pada pertengahan Mei, pohon-pohon mangga mulai menunjukkan tanda yang cukup jelas. Ujung ranting mengeras, daun berhenti tumbuh terlalu aktif, lalu muncul malai bunga yang pelan-pelan membuka diri seperti kabut tipis di dalam tajuk. Namun pada perjalanan kali itu, tanda itu tidak tampak dominan. Daun masih penuh, hijau masih kuat, dan bunga justru jarang terlihat. Seakan-akan pohon-pohon itu sedang menunda sesuatu yang dalam siklus tahunan biasanya sudah mulai berjalan.

Pertanyaan sederhana muncul tanpa perlu dicari, apakah kemarau tahun ini akan datang lebih lambat dan akan berlangsung lebih lama? , ataukah pohon-pohon mangga sedang merespons musim yang tidak lagi memiliki ketegasan seperti dulu? Sebab mangga tidak bekerja dengan kalender. Ia bekerja dengan jeda. Ia menunggu ruang kering yang cukup stabil, ketika hujan benar-benar berhenti dalam rentang waktu tertentu dan tanah mulai kehilangan kelembapannya secara konsisten. Dalam jeda itu, pohon mengubah arah energinya: bukan lagi memperpanjang daun, tetapi mempersiapkan bunga.

Jika jeda itu tidak terbentuk dengan jelas, atau jika hujan masih datang selang-seling seperti gangguan kecil yang berulang, maka pohon sering mengambil keputusan yang tidak terlihat sebagai keputusan: tetap vegetatif, tetap hijau, dan menunda pembungaan tanpa penjelasan. Dalam bahasa pohon, tidak berbunga bukan kegagalan, tetapi respons terhadap atmosfer yang belum memberi sinyal cukup tegas.

Dari sisi fenologi, mangga menyusun waktunya sendiri dalam urutan yang cukup konsisten. Setelah periode kering yang memadai, biasanya beberapa minggu, pohon memasuki fase induksi bunga. Tidak lama kemudian muncul kuncup-kuncup kecil di ujung ranting, lalu berkembang menjadi malai bunga dalam waktu sekitar satu sampai dua minggu. Masa pembungaan sendiri relatif singkat, hanya sekitar satu hingga dua minggu, seperti peristiwa yang cepat tetapi menentukan seluruh siklus berikutnya. Setelah itu sebagian besar bunga gugur secara alami, menyisakan sebagian kecil yang berhasil menjadi buah muda. Mulai dari sini waktu berjalan lebih panjang dan pelan.

Buah berkembang pada fase awal selama sekitar dua bulan, kemudian memasuki fase pembesaran hingga bulan ketiga atau keempat, sebelum akhirnya mencapai kematangan fisiologis pada kisaran bulan keempat hingga kelima setelah pembungaan. Dalam kondisi normal di wilayah Probolinggo–Situbondo, siklus ini biasanya bermuara pada musim panen antara Agustus hingga Oktober.

Namun kata “normal” dalam siklus ini selalu bergantung pada satu syarat yang tidak selalu stabil: ketegasan musim kering. Jika kemarau tidak benar-benar kering, atau jika transisi hujan ke kemarau berlangsung terlalu lembap dan tidak tegas, maka seluruh urutan itu ikut bergeser. Pembungaan bisa terlambat, fruit set tidak seragam, dan panen menjadi lebih acak daripada siklus yang rapi.

Di sepanjang koridor Pantura Tapal Kuda itu, keterlambatan kecil pada pembungaan mangga tidak berdiri sebagai peristiwa tunggal. Ia menjadi semacam pola yang tersebar, dibaca dari satu pohon ke pohon lain, dari satu halaman ke halaman berikutnya. Dalam diamnya, pohon-pohon itu seperti sedang menyampaikan sesuatu yang tidak pernah ditulis: bahwa batas musim tidak lagi selalu hadir sebagai garis yang tegas, melainkan kadang hanya sebagai pergeseran yang halus tetapi konsisten.

Pada Mei itu, mangga-mangga di sepanjang Probolinggo–Situbondo seperti sedang bekerja sebagai stasiun cuaca yang tidak pernah diumumkan keberadaannya. Tidak ada alat ukur, tidak ada angka, tidak ada laporan. Tetapi ada keputusan biologis yang sangat sensitif terhadap atmosfer. Berbunga, menunda, atau tetap hijau. Dan dalam keputusan-keputusan kecil itu, pohon menyimpan catatan tentang langit yang tidak selalu tertangkap oleh cara kita membaca musim hari ini.

(SiBu Bayan)