Catatan Kampus Cikabayan
Pertengahan Mei
2026, setelah keluar dari pintu tol Gending Probolinggo menuju arah Situbondo,
jalan Pantura Tapal Kuda terbentang mengikuti garis pesisir utara Jawa bagian
timur, pada bentang yang lebih tepat disebut koridor Probolinggo–Situbondo. Di
sepanjang ruas jalan itu, lanskap tidak pernah benar-benar seragam. Ada kebun
campuran, pekarangan rumah warga, lahan kering, dan deretan pohon mangga yang
berdiri di batas-batas ruang itu tanpa pola tanam yang rapi, seolah tumbuh
mengikuti kesepakatan lama antara manusia dan musim.
Biasanya pada pertengahan Mei, pohon-pohon mangga mulai menunjukkan tanda yang cukup jelas. Ujung ranting mengeras, daun berhenti tumbuh terlalu aktif, lalu muncul malai bunga yang pelan-pelan membuka diri seperti kabut tipis di dalam tajuk. Namun pada perjalanan kali itu, tanda itu tidak tampak dominan. Daun masih penuh, hijau masih kuat, dan bunga justru jarang terlihat. Seakan-akan pohon-pohon itu sedang menunda sesuatu yang dalam siklus tahunan biasanya sudah mulai berjalan.
Pertanyaan sederhana muncul tanpa perlu dicari, apakah kemarau
tahun ini akan datang lebih lambat dan akan berlangsung lebih lama? , ataukah
pohon-pohon mangga sedang merespons musim yang tidak lagi memiliki ketegasan
seperti dulu? Sebab mangga tidak bekerja dengan kalender. Ia bekerja dengan
jeda. Ia menunggu ruang kering yang cukup stabil, ketika hujan benar-benar
berhenti dalam rentang waktu tertentu dan tanah mulai kehilangan kelembapannya
secara konsisten. Dalam jeda itu, pohon mengubah arah energinya: bukan lagi
memperpanjang daun, tetapi mempersiapkan bunga.
Jika jeda itu tidak terbentuk dengan jelas, atau jika hujan
masih datang selang-seling seperti gangguan kecil yang berulang, maka pohon
sering mengambil keputusan yang tidak terlihat sebagai keputusan: tetap
vegetatif, tetap hijau, dan menunda pembungaan tanpa penjelasan. Dalam bahasa
pohon, tidak berbunga bukan kegagalan, tetapi respons terhadap atmosfer yang
belum memberi sinyal cukup tegas.
Dari sisi fenologi,
mangga menyusun waktunya sendiri dalam urutan yang cukup konsisten. Setelah
periode kering yang memadai, biasanya beberapa minggu, pohon memasuki fase
induksi bunga. Tidak lama kemudian muncul kuncup-kuncup kecil di ujung ranting,
lalu berkembang menjadi malai bunga dalam waktu sekitar satu sampai dua minggu.
Masa pembungaan sendiri relatif singkat, hanya sekitar satu hingga dua minggu,
seperti peristiwa yang cepat tetapi menentukan seluruh siklus berikutnya.
Setelah itu sebagian besar bunga gugur secara alami, menyisakan sebagian kecil
yang berhasil menjadi buah muda. Mulai dari sini waktu berjalan lebih panjang
dan pelan.
Buah berkembang
pada fase awal selama sekitar dua bulan, kemudian memasuki fase pembesaran
hingga bulan ketiga atau keempat, sebelum akhirnya mencapai kematangan
fisiologis pada kisaran bulan keempat hingga kelima setelah pembungaan. Dalam
kondisi normal di wilayah Probolinggo–Situbondo, siklus ini biasanya bermuara
pada musim panen antara Agustus hingga Oktober.
Namun kata “normal”
dalam siklus ini selalu bergantung pada satu syarat yang tidak selalu stabil:
ketegasan musim kering. Jika kemarau tidak benar-benar kering, atau jika
transisi hujan ke kemarau berlangsung terlalu lembap dan tidak tegas, maka
seluruh urutan itu ikut bergeser. Pembungaan bisa terlambat, fruit set tidak
seragam, dan panen menjadi lebih acak daripada siklus yang rapi.
Di sepanjang
koridor Pantura Tapal Kuda itu, keterlambatan kecil pada pembungaan mangga
tidak berdiri sebagai peristiwa tunggal. Ia menjadi semacam pola yang tersebar,
dibaca dari satu pohon ke pohon lain, dari satu halaman ke halaman berikutnya.
Dalam diamnya, pohon-pohon itu seperti sedang menyampaikan sesuatu yang tidak
pernah ditulis: bahwa batas musim tidak lagi selalu hadir sebagai garis yang
tegas, melainkan kadang hanya sebagai pergeseran yang halus tetapi konsisten.
Pada Mei itu,
mangga-mangga di sepanjang Probolinggo–Situbondo seperti sedang bekerja sebagai
stasiun cuaca yang tidak pernah diumumkan keberadaannya. Tidak ada alat ukur,
tidak ada angka, tidak ada laporan. Tetapi ada keputusan biologis yang
sangat sensitif terhadap atmosfer. Berbunga, menunda, atau tetap hijau. Dan
dalam keputusan-keputusan kecil itu, pohon menyimpan catatan tentang langit
yang tidak selalu tertangkap oleh cara kita membaca musim hari ini.
(SiBu Bayan)