Selasa, 02 Juni 2026

Embun Upas Dieng: Sesotya Murca ing Embanan

Catatan Kampus Cikabayan

"Sesotya murca ing embanan." Permata terlepas dari wadahnya. Demikian salah satu candra mangsa dalam Pranata Mangsa menggambarkan datangnya musim kemarau. Ungkapan itu terdengar seperti puisi, tetapi di Dataran Tinggi Dieng ia dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Menjelang pagi, ketika cahaya matahari mulai menyentuh hamparan ladang kentang dan rerumputan, ribuan kristal putih berkilauan di atas daun-daun tanaman, seperti serpihan intan yang berserakan di permukaan bumi. Pemandangan tersebut begitu indah hingga banyak orang rela datang ke Dieng hanya untuk menyaksikannya. Namun bagi petani setempat, keindahan itu sering kali membawa kecemasan. Kristal-kristal yang berkilauan tersebut adalah bun upas atau embun upas (racun). Setelah matahari meninggi dan kristal-kristal es mencair, daun-daun tanaman yang semula tampak sehat dapat berubah menjadi layu, mengering, bahkan menghitam. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin embun beku dapat muncul di wilayah tropis yang berada begitu dekat dengan garis khatulistiwa?

Jawabannya tidak hanya terletak pada suhu udara, tetapi juga pada bentang alam Dieng itu sendiri. Meskipun dikenal sebagai dataran tinggi, Dieng sesungguhnya merupakan kawasan vulkanik yang terdiri atas cekungan-cekungan luas yang dikelilingi perbukitan dan gunung. Bentuk lahannya menyerupai mangkuk raksasa yang mampu menampung udara dingin.

Pada malam hari, lereng-lereng pegunungan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan siang hari. Udara yang menjadi dingin akan bertambah berat dan bergerak turun mengikuti gravitasi. Proses ini dikenal sebagai aliran katabatik. Udara dingin kemudian berkumpul di dasar-dasar cekungan dan membentuk semacam "danau udara dingin" yang tidak terlihat. Akibatnya, suhu di beberapa lembah dapat menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu di lokasi lain yang hanya berjarak ratusan meter, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang berada pada elevasi lebih tinggi.

Karena itu embun upas tidak muncul secara merata di seluruh Dieng. Ada lahan yang hampir setiap tahun mengalami embun upas, sementara lahan lain yang letaknya tidak terlalu jauh relatif lebih aman. Perbedaan tersebut sering kali ditentukan oleh posisi lahan terhadap jalur aliran dan akumulasi udara dingin. Namun, bentang alam hanya menyediakan wadah. Pemicu utama kemunculan embun upas adalah kondisi atmosfer yang berkembang pada musim kemarau.

Ketika monsun timur mulai mendominasi Nusantara (umumnya sekitar Juni hingga September), massa udara yang bergerak dari Australia cenderung lebih kering. Curah hujan berkurang, awan semakin sedikit, dan langit malam menjadi sangat jernih. Bagi banyak orang, langit yang cerah hanyalah pertanda cuaca baik. Akan tetapi bagi atmosfer, hilangnya awan berarti hilangnya "selimut" yang menahan panas bumi. Kondisi inilah yang di Dieng memperkuat proses pendinginan malam, sehingga permukaan tanah dan daun dapat turun hingga mendekati titik beku dan memicu terbentuknya frost atau bun upas pada puncak musim kemarau.

Pada siang hari, tanah dan vegetasi menyerap energi matahari. Setelah matahari terbenam, energi tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi panas. Jika langit dipenuhi awan, sebagian panas dipantulkan kembali ke permukaan. Ketika langit cerah, panas dapat lepas langsung ke angkasa. Akibatnya, permukaan tanah, rerumputan, dan daun-daun tanaman mendingin dengan cepat sepanjang malam.

Menjelang fajar, suhu permukaan tanaman dapat turun hingga mendekati atau bahkan melewati titik beku. Pada saat itulah uap air berubah menjadi kristal es yang menempel pada daun dan permukaan tanah. Dalam ilmu meteorologi, fenomena ini dikenal sebagai frost. Masyarakat Dieng mengenalnya sebagai bun upas.

Masyarakat Jawa telah lama mengenali tanda-tanda fenomena ini jauh sebelum istilah frost, monsun, atau pendinginan radiasi dikenal, sebagaimana terekam dalam Pranata Mangsa sebagai sistem pengetahuan musim berbasis pengalaman panjang berinteraksi dengan alam. Berbeda dengan kalender modern yang bertumpu pada angka dan tanggal, Pranata Mangsa membaca waktu melalui perubahan gejala alam—dari langit yang semakin jernih, embun yang menguat, tanah yang mengering, hingga perilaku tumbuhan dan hewan.

Dalam konteks inilah candra mangsa "Sesotya murca ing embanan" menjadi menarik. Ungkapan tersebut sering dimaknai sebagai gambaran sesuatu yang berkilauan dan berserakan seperti permata yang terlepas dari tempatnya. Ketika dikaitkan dengan bun upas, metafora itu terasa sangat hidup. Pada malam-malam kemarau, lintang tampak bersinar terang di langit yang jernih. Menjelang pagi, dedaunan dipenuhi kristal-kristal embun yang berkilauan. Seolah-olah permata-permata langit turun dan menempel di permukaan bumi.

Bagi petani Dieng, bun upas bukan sekadar fenomena cuaca, tetapi ancaman nyata bagi tanaman. Kristal es yang terbentuk pada daun dapat merusak jaringan sel, menyebabkan daun layu, mengering, hingga mati. Tanaman hortikultura seperti kentang sangat rentan, karena kerusakan daun mengganggu fotosintesis dan dapat menurunkan hasil panen secara signifikan, sehingga berdampak pada kerugian ekonomi petani. Meski demikian, masyarakat Dieng tidak hanya menjadi korban; mereka telah lama mengembangkan berbagai bentuk adaptasi berbasis pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.

Adaptasi petani Dieng terhadap bun upas bertumpu pada kemampuan membaca musim, yaitu mengenali tanda-tanda seperti langit malam yang semakin jernih, udara dini hari yang sangat dingin, dan menguatnya kemarau untuk menentukan waktu tanam dan jenis tanaman. Mereka juga memahami perbedaan risiko antar lahan berdasarkan mikroklimat, terutama posisi terhadap cekungan dan aliran udara dingin. Saat bun upas terjadi, petani melakukan tindakan sederhana seperti penyiraman pagi untuk mempercepat pencairan es atau penggunaan mulsa untuk mengurangi kehilangan panas tanah, yang semuanya lahir dari pengalaman panjang dan pengamatan turun-temurun terhadap lingkungan.

Fenomena bun upas menunjukkan bahwa adaptasi iklim bukanlah konsep baru; jauh sebelum istilah perubahan iklim atau prakiraan cuaca modern dikenal, masyarakat telah membaca risiko melalui tanda-tanda alam di sekitarnya. Menariknya, istilah “embun upas” tidak hanya muncul di Dieng, tetapi juga di wilayah lain seperti pesisir selatan Kulon Progo, meskipun dengan proses meteorologis yang berbeda. Di Dieng didominasi pendinginan radiasi dan akumulasi udara dingin, sementara di pesisir Kulonprogo dipengaruhi oleh kelembapan, angin, dan stres salinitas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa “embun upas” bukan satu fenomena tunggal, melainkan kategori pengetahuan lokal untuk membaca titik kritis ketika atmosfer malam menimbulkan tekanan bagi tanaman, baik di pegunungan maupun di pesisir.

Di balik kristal-kristal es yang berkilauan pada pagi hari, tersimpan kisah tentang bentang alam Dieng, perjalanan angin musim, kecermatan membaca gejala alam, serta kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup. Apa yang tampak sebagai permata yang jatuh dari langit sesungguhnya adalah pelajaran panjang tentang iklim, pertanian, dan kebijaksanaan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

(SiBu Bayan)