"Sesotya
murca ing embanan."
Permata terlepas dari wadahnya. Demikian salah satu candra mangsa dalam
Pranata Mangsa menggambarkan datangnya musim kemarau. Ungkapan itu terdengar
seperti puisi, tetapi di Dataran Tinggi Dieng ia dapat disaksikan dengan mata
kepala sendiri.
Menjelang pagi, ketika cahaya matahari mulai menyentuh hamparan ladang kentang dan rerumputan, ribuan kristal putih berkilauan di atas daun-daun tanaman, seperti serpihan intan yang berserakan di permukaan bumi. Pemandangan tersebut begitu indah hingga banyak orang rela datang ke Dieng hanya untuk menyaksikannya. Namun bagi petani setempat, keindahan itu sering kali membawa kecemasan. Kristal-kristal yang berkilauan tersebut adalah bun upas atau embun upas (racun). Setelah matahari meninggi dan kristal-kristal es mencair, daun-daun tanaman yang semula tampak sehat dapat berubah menjadi layu, mengering, bahkan menghitam. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin embun beku dapat muncul di wilayah tropis yang berada begitu dekat dengan garis khatulistiwa?
Jawabannya tidak hanya terletak pada suhu udara, tetapi juga
pada bentang alam Dieng itu sendiri. Meskipun dikenal sebagai dataran tinggi,
Dieng sesungguhnya merupakan kawasan vulkanik yang terdiri atas
cekungan-cekungan luas yang dikelilingi perbukitan dan gunung. Bentuk lahannya
menyerupai mangkuk raksasa yang mampu menampung udara dingin.
Pada malam hari, lereng-lereng pegunungan mengalami
pendinginan lebih cepat dibandingkan siang hari. Udara yang menjadi dingin akan
bertambah berat dan bergerak turun mengikuti gravitasi. Proses ini dikenal
sebagai aliran katabatik. Udara dingin kemudian berkumpul di dasar-dasar
cekungan dan membentuk semacam "danau udara dingin" yang tidak
terlihat. Akibatnya, suhu di beberapa lembah dapat menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu di lokasi lain yang hanya berjarak ratusan meter, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang berada pada elevasi lebih tinggi.
Karena itu embun
upas tidak muncul secara merata di seluruh Dieng. Ada lahan yang hampir setiap
tahun mengalami embun upas, sementara lahan lain yang letaknya tidak terlalu
jauh relatif lebih aman. Perbedaan tersebut sering kali ditentukan oleh posisi
lahan terhadap jalur aliran dan akumulasi udara dingin. Namun, bentang alam
hanya menyediakan wadah. Pemicu utama kemunculan embun upas adalah kondisi
atmosfer yang berkembang pada musim kemarau.
Ketika monsun
timur mulai mendominasi Nusantara (umumnya sekitar Juni hingga September),
massa udara yang bergerak dari Australia cenderung lebih kering. Curah
hujan berkurang, awan semakin sedikit, dan langit malam menjadi sangat jernih.
Bagi banyak orang, langit yang cerah hanyalah pertanda cuaca baik. Akan tetapi
bagi atmosfer, hilangnya awan berarti hilangnya "selimut" yang
menahan panas bumi. Kondisi inilah yang di Dieng memperkuat proses pendinginan
malam, sehingga permukaan tanah dan daun dapat turun hingga mendekati titik
beku dan memicu terbentuknya frost atau bun upas pada puncak musim
kemarau.
Pada siang hari,
tanah dan vegetasi menyerap energi matahari. Setelah matahari terbenam, energi
tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi panas. Jika
langit dipenuhi awan, sebagian panas dipantulkan kembali ke permukaan. Ketika langit cerah, panas dapat lepas langsung ke angkasa. Akibatnya,
permukaan tanah, rerumputan, dan daun-daun tanaman mendingin dengan cepat
sepanjang malam.
Menjelang fajar, suhu permukaan tanaman dapat turun hingga
mendekati atau bahkan melewati titik beku. Pada saat itulah uap air berubah
menjadi kristal es yang menempel pada daun dan permukaan tanah. Dalam ilmu
meteorologi, fenomena ini dikenal sebagai frost. Masyarakat Dieng mengenalnya
sebagai bun upas.
Masyarakat Jawa telah lama mengenali tanda-tanda fenomena
ini jauh sebelum istilah frost, monsun, atau pendinginan radiasi dikenal,
sebagaimana terekam dalam Pranata Mangsa sebagai sistem pengetahuan musim
berbasis pengalaman panjang berinteraksi dengan alam. Berbeda dengan kalender
modern yang bertumpu pada angka dan tanggal, Pranata Mangsa membaca waktu
melalui perubahan gejala alam—dari langit yang semakin jernih, embun yang
menguat, tanah yang mengering, hingga perilaku tumbuhan dan hewan.
Dalam konteks
inilah candra mangsa "Sesotya murca ing embanan" menjadi
menarik. Ungkapan tersebut sering dimaknai sebagai gambaran sesuatu yang
berkilauan dan berserakan seperti permata yang terlepas dari tempatnya. Ketika
dikaitkan dengan bun upas, metafora itu terasa sangat hidup. Pada malam-malam
kemarau, lintang tampak bersinar terang di langit yang jernih. Menjelang pagi,
dedaunan dipenuhi kristal-kristal embun yang berkilauan. Seolah-olah
permata-permata langit turun dan menempel di permukaan bumi.
Bagi petani
Dieng, bun upas bukan sekadar fenomena cuaca, tetapi ancaman nyata bagi
tanaman. Kristal es yang terbentuk pada daun dapat merusak jaringan sel,
menyebabkan daun layu, mengering, hingga mati. Tanaman hortikultura seperti
kentang sangat rentan, karena kerusakan daun mengganggu fotosintesis dan dapat
menurunkan hasil panen secara signifikan, sehingga berdampak pada kerugian
ekonomi petani. Meski demikian, masyarakat Dieng tidak hanya menjadi korban;
mereka telah lama mengembangkan berbagai bentuk adaptasi berbasis pengalaman
dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
Adaptasi petani Dieng terhadap bun upas bertumpu pada
kemampuan membaca musim, yaitu mengenali tanda-tanda seperti langit malam yang
semakin jernih, udara dini hari yang sangat dingin, dan menguatnya kemarau
untuk menentukan waktu tanam dan jenis tanaman. Mereka juga memahami perbedaan
risiko antar lahan berdasarkan mikroklimat, terutama posisi terhadap cekungan
dan aliran udara dingin. Saat bun upas terjadi, petani melakukan tindakan
sederhana seperti penyiraman pagi untuk mempercepat pencairan es atau penggunaan
mulsa untuk mengurangi kehilangan panas tanah, yang semuanya lahir dari
pengalaman panjang dan pengamatan turun-temurun terhadap lingkungan.
Fenomena bun upas menunjukkan bahwa adaptasi iklim bukanlah
konsep baru; jauh sebelum istilah perubahan iklim atau prakiraan cuaca modern
dikenal, masyarakat telah membaca risiko melalui tanda-tanda alam di
sekitarnya. Menariknya, istilah “embun upas” tidak hanya muncul di Dieng,
tetapi juga di wilayah lain seperti pesisir selatan Kulon Progo, meskipun
dengan proses meteorologis yang berbeda. Di Dieng didominasi pendinginan radiasi dan akumulasi udara dingin,
sementara di pesisir Kulonprogo dipengaruhi oleh kelembapan, angin, dan stres
salinitas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa “embun upas” bukan satu fenomena
tunggal, melainkan kategori pengetahuan lokal untuk membaca titik kritis ketika
atmosfer malam menimbulkan tekanan bagi tanaman, baik di pegunungan maupun di
pesisir.
Di balik
kristal-kristal es yang berkilauan pada pagi hari, tersimpan kisah tentang
bentang alam Dieng, perjalanan angin musim, kecermatan membaca gejala alam,
serta kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup. Apa yang
tampak sebagai permata yang jatuh dari langit sesungguhnya adalah pelajaran
panjang tentang iklim, pertanian, dan kebijaksanaan ekologis yang diwariskan
dari generasi ke generasi.
(SiBu Bayan)