Minggu, 14 Juni 2026

Pelajaran Musim Kemarau dari Burung Raja Udang di Sungai Ciparigi-Bogor

Catatan Kampus Cikabayan

Awal kemarau tahun ini datang bersama seekor burung kecil berwarna biru kecoklatan. Penulis pertama kali menyadari kehadirannya dari teras rumah yang langsung menghadap Sungai Ciparigi. Burung itu bertengger di rumpun bambu yang menggantung di atas aliran sungai, lalu melesat mengikuti aliran sebelum sempat mengenalinya lebih dekat.

Mula-mula penulis mengira itu hanya perjumpaan sesaat. Namun, beberapa hari kemudian penulis melihatnya lagi. Lalu lagi. Hampir selalu pada pagi hari ketika cahaya matahari mulai menembus sela-sela dedaunan dan memantul di permukaan air. Kadang ia hinggap cukup lama di ujung bambu yang menjulur ke sungai. Kadang hanya lewat sebagai kilatan biru yang bergerak cepat menyusuri aliran air.

Kemunculan yang berulang itu menimbulkan pertanyaan sederhana. Mengapa justru pada awal kemarau burung itu lebih sering terlihat?

Teras rumah yang menghadap Sungai Ciparigi sering menjadi tempat penulis memperhatikan perubahan-perubahan kecil di sekitar. Dari sana terdengar gemuruh sungai saat hujan deras, riuh katak pada malam hari, serta terlihat pohon-pohon sempadan yang berbunga dan berbuah silih berganti. Pengamatan itu berlangsung tanpa rencana khusus, sering kali hanya di sela menikmati kopi pagi atau beristirahat dari pekerjaan.

Sungai Ciparigi mengalir di tengah kawasan perkotaan Kota Bogor. Namun, pada segmen di sekitar rumah penulis, sempadannya masih ditumbuhi beragam vegetasi. Rumpun bambu tumbuh rapat di beberapa bagian. Pohon kecapi, mindi, alpukat, durian, pisang, dan mangga membentuk lorong hijau yang menaungi aliran air. Di sela-selanya hidup berbagai jenis serangga, capung, katak, dan burung.

Sulit membayangkan bahwa kehidupan kecil yang penulis saksikan dari teras rumah itu bergantung pada sebuah sungai yang hulunya mengalir dari kawasan yang kini telah berubah menjadi permukiman padat. Hulu Sungai Ciparigi berada di sekitar tepian Jalan Tol Jagorawi, melintasi kawasan Cidangiang dan Babakan Fakultas di belakang Kampus IPB Baranangsiang. Ruang terbuka hijau di wilayah itu semakin berkurang, bangunan dan permukiman terus bertambah, sementara sungai harus berbagi ruang dengan berbagai aktivitas perkotaan.

Kehadiran burung kecil yang penulis amati hampir setiap pagi terasa semakin menarik. Di tengah lanskap kota yang terus berubah, masih ada kehidupan yang bertahan mengikuti iramanya sendiri.

Belakangan penulis mengetahui bahwa burung itu kemungkinan merupakan burung raja udang kecil dari marga Alcedo. Panjang tubuhnya hanya sekitar 16 hingga 18 sentimeter. Ukurannya yang mungil seolah tertutupi oleh warna bulunya yang mencolok. Punggungnya memantulkan warna biru kehijauan ketika terkena cahaya matahari, sementara bagian bawah tubuhnya berwarna jingga kecoklatan.

Burung raja udang adalah pemburu yang mengandalkan penglihatan. Ia biasa bertengger diam di atas ranting atau bambu yang menggantung di atas air. Dari tempat itu ia mengamati pergerakan mangsa di bawahnya. Ketika saat yang tepat tiba, tubuh kecil itu meluncur dengan kecepatan yang mengagumkan. Ikan kecil, udang, atau serangga air menjadi sasarannya.

Penulis tidak memiliki jawaban pasti mengapa burung raja udang itu lebih sering terlihat pada awal kemarau. Namun, alam sering kali memberi petunjuk melalui perubahan-perubahan kecil yang terjadi seiring pergantian musim.

Setelah berbulan-bulan diguyur hujan, aliran sungai mulai berangsur-angsur lebih tenang. Air yang sebelumnya keruh perlahan menjadi lebih jernih. Matahari lebih sering muncul dan menembus tajuk pepohonan. Permukaan air tidak lagi terus-menerus terganggu oleh percikan hujan.

Bagi manusia, perubahan itu mungkin tidak terlalu berarti. Namun, bagi seekor burung raja udang yang mengandalkan ketajaman mata untuk berburu, sungai yang lebih jernih adalah ruang berburu yang lebih mudah dibaca. Mangsa menjadi lebih mudah terlihat. Aktivitas berburu menjadi lebih efektif. Pada saat yang sama, keberadaannya pun menjadi lebih mudah diamati oleh penulis yang duduk di teras rumah.

Barangkali burung itu sebenarnya tidak datang bersama musim kemarau. Mungkin ia telah hidup di sepanjang Sungai Ciparigi selama ini. Hanya saja, musim kemarau menciptakan keadaan yang membuat kami lebih sering saling bertemu.

Dari pengamatan sederhana itu, penulis kembali diingatkan bahwa pergantian musim sesungguhnya tidak hanya berlangsung di atmosfer. Musim tidak hanya mengubah curah hujan, suhu udara, atau kelembapan. Musim juga mengubah perilaku makhluk hidup.

Ia memengaruhi kapan tumbuhan berbunga, kapan buah matang, kapan serangga bermunculan, dan kapan burung tertentu menjadi lebih mudah dijumpai. Dengan kata lain, musim tidak hanya tercatat dalam data meteorologi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari berbagai makhluk yang berbagi ruang dengan kita.

Penulis merasa kehadiran burung raja udang di Sungai Ciparigi lebih menarik daripada sekadar catatan tentang seekor burung. Ia mengingatkan penulis pada kemampuan yang perlahan memudar dalam kehidupan modern, "kemampuan mendengar, melihat dan memperhatikan". Kita lebih sering memandang sungai sebagai saluran air, bukan sebagai ruang hidup. Kita mengenali musim dari prakiraan cuaca di layar telepon genggam, tetapi jarang memperhatikan tanda-tanda yang muncul di halaman rumah sendiri.

Padahal kehidupan terus berlangsung di sana.

Rumpun bambu yang menggantung di atas Sungai Ciparigi bukan sekadar vegetasi liar. Bagi burung raja udang, itu adalah tempat mengintai mangsa. Pohon-pohon yang tumbuh di sempadan sungai bukan hanya peneduh, melainkan bagian dari habitat yang memungkinkan berbagai makhluk hidup bertahan di tengah kota.

Keberadaan burung raja udang kecil di Sungai Ciparigi menunjukkan bahwa fungsi-fungsi ekologis itu masih bekerja. Tidak sempurna, mungkin. Tidak seluas dahulu, barangkali. Tetapi masih ada. Koridor vegetasi yang tersisa di sepanjang sempadan sungai masih menyediakan ruang bagi kehidupan untuk bertahan.

Kehadiran seekor burung raja udang kecil di Sungai Ciparigi memberi pelajaran yang lebih luas daripada sekadar pengetahuan tentang burung. Ia mengingatkan bahwa sungai kecil di tengah kota masih dapat menyimpan kehidupan yang kaya. Ia juga mengingatkan bahwa perubahan musim dapat dibaca melalui perilaku makhluk hidup yang ada di sekitar kita.

Dari teras rumah yang menghadap sungai itu, penulis belajar bahwa musim kemarau tidak selalu datang dengan tanda-tanda yang besar. Kadang ia hadir melalui perubahan-perubahan halus yang hanya terlihat oleh mereka yang bersedia memperhatikan.

Dan pada awal kemarau tahun ini, salah satu pembawa kabar itu adalah seekor burung raja udang kecil yang bertengger di rumpun bambu di atas Sungai Ciparigi. Di tengah kota yang terus berubah, burung itu bukan hanya membawa kabar tentang datangnya kemarau, tetapi juga kabar bahwa Sungai Ciparigi masih hidup.

(SiBu Bayan)