Catatan Kampus Cikabayan
Awal kemarau
tahun ini datang bersama seekor burung kecil berwarna biru kecoklatan. Penulis
pertama kali menyadari kehadirannya dari teras rumah yang langsung menghadap
Sungai Ciparigi. Burung itu bertengger di rumpun bambu yang menggantung di atas
aliran sungai, lalu melesat mengikuti aliran sebelum sempat mengenalinya lebih
dekat.
Mula-mula penulis
mengira itu hanya perjumpaan sesaat. Namun, beberapa hari kemudian penulis
melihatnya lagi. Lalu lagi. Hampir selalu pada pagi hari ketika cahaya matahari
mulai menembus sela-sela dedaunan dan memantul di permukaan air. Kadang
ia hinggap cukup lama di ujung bambu yang menjulur ke sungai. Kadang hanya
lewat sebagai kilatan biru yang bergerak cepat menyusuri aliran air.
Kemunculan yang berulang itu menimbulkan pertanyaan sederhana. Mengapa justru pada awal kemarau burung itu lebih sering terlihat?
Teras rumah yang menghadap Sungai Ciparigi sering menjadi
tempat penulis memperhatikan perubahan-perubahan kecil di sekitar. Dari sana
terdengar gemuruh sungai saat hujan deras, riuh katak pada malam hari, serta
terlihat pohon-pohon sempadan yang berbunga dan berbuah silih berganti.
Pengamatan itu berlangsung tanpa rencana khusus, sering kali hanya di sela
menikmati kopi pagi atau beristirahat dari pekerjaan.
Sungai Ciparigi
mengalir di tengah kawasan perkotaan Kota Bogor. Namun, pada segmen di sekitar rumah penulis, sempadannya masih ditumbuhi beragam vegetasi. Rumpun
bambu tumbuh rapat di beberapa bagian. Pohon kecapi, mindi, alpukat, durian,
pisang, dan mangga membentuk lorong hijau yang menaungi aliran air. Di
sela-selanya hidup berbagai jenis serangga, capung, katak, dan burung.
Sulit
membayangkan bahwa kehidupan kecil yang penulis saksikan dari teras rumah itu
bergantung pada sebuah sungai yang hulunya mengalir dari kawasan yang kini
telah berubah menjadi permukiman padat. Hulu Sungai Ciparigi berada di sekitar
tepian Jalan Tol Jagorawi, melintasi kawasan Cidangiang dan Babakan Fakultas di
belakang Kampus IPB Baranangsiang. Ruang terbuka hijau di wilayah itu semakin
berkurang, bangunan dan permukiman terus bertambah, sementara sungai harus
berbagi ruang dengan berbagai aktivitas perkotaan.
Kehadiran burung
kecil yang penulis amati hampir setiap pagi terasa semakin menarik. Di
tengah lanskap kota yang terus berubah, masih ada kehidupan yang bertahan
mengikuti iramanya sendiri.
Belakangan penulis mengetahui bahwa burung itu kemungkinan
merupakan burung raja udang kecil dari marga Alcedo. Panjang tubuhnya
hanya sekitar 16 hingga 18 sentimeter. Ukurannya yang mungil seolah
tertutupi oleh warna bulunya yang mencolok. Punggungnya memantulkan warna biru
kehijauan ketika terkena cahaya matahari, sementara bagian bawah tubuhnya
berwarna jingga kecoklatan.
Burung raja udang adalah pemburu yang mengandalkan
penglihatan. Ia biasa bertengger
diam di atas ranting atau bambu yang menggantung di atas air. Dari tempat itu
ia mengamati pergerakan mangsa di bawahnya. Ketika saat yang tepat tiba, tubuh
kecil itu meluncur dengan kecepatan yang mengagumkan. Ikan kecil, udang, atau
serangga air menjadi sasarannya.
Penulis tidak memiliki jawaban pasti mengapa burung raja
udang itu lebih sering terlihat pada awal kemarau. Namun, alam sering kali
memberi petunjuk melalui perubahan-perubahan kecil yang terjadi seiring
pergantian musim.
Setelah berbulan-bulan diguyur hujan, aliran sungai mulai
berangsur-angsur lebih tenang. Air yang sebelumnya keruh perlahan menjadi lebih
jernih. Matahari lebih sering muncul dan menembus tajuk pepohonan. Permukaan
air tidak lagi terus-menerus terganggu oleh percikan hujan.
Bagi manusia, perubahan itu mungkin tidak terlalu berarti.
Namun, bagi seekor burung raja udang yang mengandalkan ketajaman mata untuk
berburu, sungai yang lebih jernih adalah ruang berburu yang lebih mudah dibaca.
Mangsa menjadi lebih mudah terlihat. Aktivitas berburu menjadi lebih efektif.
Pada saat yang sama, keberadaannya pun menjadi lebih mudah diamati oleh penulis
yang duduk di teras rumah.
Barangkali burung itu sebenarnya tidak datang bersama musim
kemarau. Mungkin ia telah hidup di sepanjang Sungai Ciparigi selama ini. Hanya
saja, musim kemarau menciptakan keadaan yang membuat kami lebih sering saling
bertemu.
Dari pengamatan sederhana itu, penulis kembali diingatkan
bahwa pergantian musim sesungguhnya tidak hanya berlangsung di atmosfer. Musim
tidak hanya mengubah curah hujan, suhu udara, atau kelembapan. Musim juga
mengubah perilaku makhluk hidup.
Ia memengaruhi kapan tumbuhan berbunga, kapan buah matang,
kapan serangga bermunculan, dan kapan burung tertentu menjadi lebih mudah
dijumpai. Dengan kata lain, musim tidak hanya tercatat dalam data meteorologi,
tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari berbagai makhluk yang berbagi
ruang dengan kita.
Penulis merasa kehadiran burung raja udang di Sungai
Ciparigi lebih menarik daripada sekadar catatan tentang seekor burung. Ia
mengingatkan penulis pada kemampuan yang perlahan memudar dalam kehidupan
modern, "kemampuan mendengar, melihat dan memperhatikan". Kita lebih
sering memandang sungai sebagai saluran air, bukan sebagai ruang hidup. Kita mengenali musim dari prakiraan cuaca
di layar telepon genggam, tetapi jarang memperhatikan tanda-tanda yang muncul
di halaman rumah sendiri.
Padahal kehidupan
terus berlangsung di sana.
Rumpun bambu yang
menggantung di atas Sungai Ciparigi bukan sekadar vegetasi liar. Bagi burung
raja udang, itu adalah tempat mengintai mangsa. Pohon-pohon yang tumbuh di
sempadan sungai bukan hanya peneduh, melainkan bagian dari habitat yang
memungkinkan berbagai makhluk hidup bertahan di tengah kota.
Keberadaan burung
raja udang kecil di Sungai Ciparigi menunjukkan bahwa fungsi-fungsi ekologis
itu masih bekerja. Tidak sempurna, mungkin. Tidak seluas dahulu, barangkali.
Tetapi masih ada. Koridor vegetasi yang tersisa di sepanjang sempadan sungai
masih menyediakan ruang bagi kehidupan untuk bertahan.
Kehadiran seekor burung
raja udang kecil di Sungai Ciparigi memberi pelajaran yang lebih luas daripada
sekadar pengetahuan tentang burung. Ia mengingatkan bahwa sungai kecil di
tengah kota masih dapat menyimpan kehidupan yang kaya. Ia juga mengingatkan
bahwa perubahan musim dapat dibaca melalui perilaku makhluk hidup yang ada di
sekitar kita.
Dari teras rumah
yang menghadap sungai itu, penulis belajar bahwa musim kemarau tidak selalu
datang dengan tanda-tanda yang besar. Kadang ia hadir melalui
perubahan-perubahan halus yang hanya terlihat oleh mereka yang bersedia
memperhatikan.
Dan pada awal kemarau tahun ini, salah satu pembawa kabar
itu adalah seekor burung raja udang kecil yang bertengger di rumpun bambu di
atas Sungai Ciparigi. Di tengah kota yang terus berubah, burung itu bukan hanya
membawa kabar tentang datangnya kemarau, tetapi juga kabar bahwa Sungai
Ciparigi masih hidup.
(SiBu Bayan)