Catatan Kampus Cikabayan
Saat
berjalan-jalan di sekitar Kepanjen, Malang, pada libur Lebaran Maret 2026,
sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Kabupaten Malang
dahulu merupakan bentang sawah luas. Hamparan kantor pemerintahan, jalan raya,
dan permukiman yang berdiri hari ini pernah dialiri air dari Saluran Molek. Di
pagi hari tertentu, ketika kabut turun dari arah Gunung Kawi dan angin membawa
aroma lumpur sawah yang baru dibajak, lanskap itu seakan masih menyimpan
ingatan lama tentang hubungan manusia dan air di lembah Brantas. Kawasan yang
kini tumbuh sebagai pusat pemerintahan tersebut pernah hidup dari aliran Sungai
Brantas dan denyut pertanian sawah. Di balik wajah modern Kepanjen hari ini,
tersembunyi kisah panjang tentang air, pertanian, teknik kolonial, serta
perubahan ruang yang perlahan menggeser fungsi tanah paling subur di lembah
Brantas.
Kisah itu bermula dari sebuah tempat bernama Blobo, sebuah kawasan di tepian Sungai Brantas yang berada di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kini Dam Blobo dikenal sebagai titik pengambilan air utama Daerah Irigasi Molek. Namun, sangat mungkin nama Blobo telah ada jauh sebelum Dam permanen dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.