Kamis, 21 Mei 2026

Dam Blobo, Irigasi Molek, dan Senjakala Agraris Lembah Brantas

 Catatan Kampus Cikabayan

Saat berjalan-jalan di sekitar Kepanjen, Malang, pada libur Lebaran Maret 2026, sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Kabupaten Malang dahulu merupakan bentang sawah luas. Hamparan kantor pemerintahan, jalan raya, dan permukiman yang berdiri hari ini pernah dialiri air dari Saluran Molek. Di pagi hari tertentu, ketika kabut turun dari arah Gunung Kawi dan angin membawa aroma lumpur sawah yang baru dibajak, lanskap itu seakan masih menyimpan ingatan lama tentang hubungan manusia dan air di lembah Brantas. Kawasan yang kini tumbuh sebagai pusat pemerintahan tersebut pernah hidup dari aliran Sungai Brantas dan denyut pertanian sawah. Di balik wajah modern Kepanjen hari ini, tersembunyi kisah panjang tentang air, pertanian, teknik kolonial, serta perubahan ruang yang perlahan menggeser fungsi tanah paling subur di lembah Brantas.

Kisah itu bermula dari sebuah tempat bernama Blobo, sebuah kawasan di tepian Sungai Brantas yang berada di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kini Dam Blobo dikenal sebagai titik pengambilan air utama Daerah Irigasi Molek. Namun, sangat mungkin nama Blobo telah ada jauh sebelum Dam permanen dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Rabu, 20 Mei 2026

Membaca Isyarat Langit untuk Kesehatan Padi

 Catatan Kampus Cikabayan

Di selasar Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, penulis berkesempatan berbincang santai dengan Pak Widodo dan Pak Bonjok. Keduanya adalah dosen yang sehari-hari bergelut dengan dinamika agroekosistem di berbagai lanskap pertanian Indonesia. Percakapan yang awalnya ringan, diselingi canda khas antar sejawat, perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih serius ketika topik beralih pada hama dan penyakit tanaman.

Dari obrolan itulah penulis kembali menyadari bahwa sawah sesungguhnya adalah ruang kehidupan yang sangat dinamis. Apa yang tampak tenang dari kejauhan ternyata menyimpan interaksi yang rumit antara tanaman, serangga, jamur, bakteri, air, tanah, dan atmosfer. Di balik setiap rumpun padi, berlangsung proses biologis yang dipengaruhi oleh perubahan suhu, kelembapan, curah hujan, intensitas radiasi matahari, dan angin. Dalam arti tertentu, langit di atas sawah selalu mengirimkan isyarat tentang apa yang sedang dan akan terjadi.

Gangsir: Si Tukang Gali Pengkabar Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat libur Lebaran Maret 2026 di Kepanjen, Malang, ingatan penulis melayang ke masa kecil di kebun jagung di depan rumah. Sebelum tanah digemburkan oleh bapak dengan cangkulnya, sesungguhnya telah ada makhluk kecil yang bekerja lebih dahulu. Di permukaan tanah tampak gundukan-gundukan mungil berbentuk kerucut, melebar di bagian bawah, menyerupai gunung-gunung mini. Jejak itu ditinggalkan oleh seekor serangga yang akrab dikenal masyarakat desa sebagai gangsir.

Bagi anak-anak kampung pada masa itu, gangsir bukan sekadar penghuni tanah. Ia adalah buruan yang mengasyikkan. Dengan tangan kecil dan sepotong kayu, kami membongkar liang-liangnya, menangkapnya, lalu memanggangnya sebagai santapan tambahan yang gurih dan kaya protein. Di balik kenangan sederhana itu, tersembunyi pelajaran yang baru penulis pahami bertahun-tahun kemudian: sebelum manusia mencangkul tanah, telah ada makhluk-makhluk kecil yang bekerja diam-diam menjaga kehidupan di dalamnya.

Selasa, 19 Mei 2026

Dari Sensor AWS Komunitas ke Gotong Royong Membangun Sistem Peringatan Dini HPT

Catatan Kampus Cikabayan

Di tengah hamparan sawah, sebuah tiang sederhana berdiri tegak. Pada bagian atasnya terpasang sensor yang secara rutin merekam suhu udara, kelembapan, curah hujan, arah dan kecepatan angin, serta radiasi matahari. Bagi sebagian orang, perangkat ini mungkin hanya tampak sebagai alat elektronik kecil yang tidak terlalu mencolok. Namun, bagi petani yang memahami maknanya, sensor tersebut ibarat mata dan telinga yang membantu membaca gejala-gejala atmosfer yang menentukan nasib tanaman.

Perubahan kecil pada suhu dan kelembapan sering kali menjadi pertanda awal meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman. Wereng batang cokelat, penggerek batang, penyakit blas, dan busuk bulir merupakan contoh HPT yang perkembangan populasinya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Atmosfer, yang selama ini terasa jauh dan abstrak, sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan di sawah.

Senin, 18 Mei 2026

Dari Hulu ke Hilir Brantas: Proto-Hidrometeorologi Airlangga dalam Prasasti Kamalagyan

Catatan Kampus Cikabayan

Dalam perjalanan arus balik akhir Maret 2026, melalui jalan tol Malang-Surabaya, penulis menikmati pemandangan menakjubkan di sebelah kiri jalan. Gugusan pegunungan membentang megah, mulai dari Gunung Arjuno hingga Gunung Penanggungan, berdiri kokoh di bawah langit pagi. Pemandangan itu seketika membawa ingatan penulis kepada Airlangga, sosok raja-begawan yang dalam tradisi Jawa dikaitkan erat dengan Gunung Penanggungan, gunung suci yang dipandang sebagai miniatur Gunung Mahameru. Di lereng gunung itulah, menurut ingatan budaya Jawa, Airlangga menempuh laku tapa dan pada akhir hidupnya memilih meninggalkan takhta untuk menjadi pertapa bergelar Resi Gentayu. Di bentang alam inilah, hampir seribu tahun lalu, Airlangga memahami bahwa kemakmuran kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuannya menata air yang turun dari pegunungan, mengalir melalui sungai, dan menghidupi sawah-sawah di DAS Brantas.

Jejak Hidrometeorologi 1.200 Tahun Lampau: Prasasti Harinjing dan Adaptasi Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan libur Lebaran akhir Maret 2026, penulis berkesempatan mengunjungi Desa Siman, sebuah desa di lereng barat Gunung Kelud yang menyimpan jejak panjang hubungan manusia dengan air. Di kawasan inilah Prasasti Harinjing ditemukan, sebuah batu bertulis bertarikh 726 Śaka atau 804 Masehi yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia. Prasasti ini mengabadikan kisah Bhagawanta Bari (sering juga ditulis Bhagawanta Dhari), tokoh yang memprakarsai pembangunan sistem pengendalian air di Sungai Harinjing. Tanggal yang tertera pada prasasti tersebut, 25 Maret 804 Masehi, kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri. Sebuah penanda bahwa sejarah daerah ini bertumpu bukan hanya pada kekuasaan, tetapi juga pada keberhasilan mengelola air demi kemakmuran masyarakat.

Prasasti Harinjing dibuat pada masa Kerajaan Medang, kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang sekitar tahun 732–1016 Masehi. Pada saat prasasti ini diterbitkan tahun 804 Masehi, kerajaan diperintah oleh Rakai Warak Dyah Manara (803–827 Masehi). Melalui prasasti tersebut, wilayah Harinjing ditetapkan sebagai “sima”. Sebuah tanah perdikan yang memperoleh pembebasan pajak dan hak istimewa tertentu. Anugerah ini diberikan kepada Bhagawanta Bari atas jasanya membangun sistem pengendalian air yang melindungi sawah dan masyarakat dari banjir.

Minggu, 17 Mei 2026

Agroklimatologi dalam Prosa "Slisir Marèng Tênggèrèng" (Menyusuri Tanda-Tanda)

Catatan Kampus Cikabayan

Pada ujung libur Lebaran 2026, penulis bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama di Desa Mangunrejo, sebuah desa di selatan Kepanjen yang namanya terdengar seperti harapan. Mangun berarti membangun, sedangkan rejo berarti kemakmuran. Sore itu, di beranda rumah yang menghadap hamparan sawah, kami berbincang tentang musim, tentang petani yang kini semakin sulit memahami cuaca, dan tentang pengetahuan lama yang perlahan terlupakan.

Di tengah percakapan, sahabat penulis berkata, “Orang Jawa dahulu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan agroklimatologi.” Ia lalu menunjukkan sebuah teks berbahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Kedjawen pada awal abad ke-20 berjudul Slisir Marèng Tênggèrèng. Judul itu dapat diterjemahkan sebagai “menyusuri tanda-tanda”. Bukan tanda dalam arti mistik, melainkan tênggèr (tengara atau penanda) alam seperti bintang, embun, angin, matahari, dan air.

Sabtu, 16 Mei 2026

Mengingat Alm. Bapak Abu Yamin di Gerbang Tol Gending

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo pada minggu kedua bulan Mei, mobil yang dikendarai penulis melaju di sepanjang jalan tol Trans-Jawa dan keluar di gerbang tol Gending. Nama sebuah kecamatan di Probolinggo itu seketika mengetuk pintu ingatan, membawa penulis kembali kepada sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan cara memandang alam dengan penuh rasa hormat. Beliau adalah almarhum Bapak Abu Yamin, salah satu perintis Program Studi Agrometeorologi di Institut Pertanian Bogor, sebuah perguruan tinggi pertanian yang telah lama menjadi tempat tumbuh gagasan-gagasan penting bagi perkembangan ilmu pertanian di Indonesia.

Ingatan penulis pun melayang ke tahun kedua perkuliahan. Di ruang kuliah yang sederhana, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau menjelaskan bahwa atmosfer bukan sekadar kumpulan angka suhu, kelembapan, dan curah hujan, melainkan sistem hidup yang menentukan nasib tanaman serta kehidupan manusia. Pada suatu pertemuan, beliau mengajarkan sebuah fenomena angin lokal yang namanya terdengar puitis “Angin Gending”.

Selasa, 12 Mei 2026

Sasi: Menjaga Irama Musim dan Keberlanjutan

 Catatan Kampus Cikabayan

Di sebuah kampung pesisir di Pulau Seram ada ungkapan Ale samua mau ambe hasil hari ini, cucu-cucu tong besok so tara dapa apa-apa lai. ( “Kalau semua orang ingin memanen hari ini, maka anak cucu kita besok tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.”) Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung falsafah yang telah hidup ratusan tahun di kepulauan rempah. Alam harus diberi waktu untuk bernapas.

Di Kepulauan Maluku, masyarakat telah lama mengenal sebuah sistem hukum adat yang disebut Sasi. Tradisi ini merupakan seperangkat aturan sosial yang mengatur kapan sumber daya alam boleh dimanfaatkan dan kapan harus dibiarkan pulih. Sasi tidak hanya berlaku untuk hasil laut seperti ikan, teripang, dan lola, tetapi juga diterapkan pada hasil pertanian seperti kelapa, pala, cengkih, sagu, dan berbagai tanaman kebun lainnya.

Kesetiaan Burung Enggang: Pengetahuan Dayak Wehea Membaca Musim dan Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.

"Falo Laor" Kalender Hidup dari Laut Morotai

 Catatan Kampus Cikabayan

Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai, laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan ekologis yang mendalam.

Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.

Senin, 11 Mei 2026

Gadung: Tunas Sebelum Musim Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat penulis bersilaturahmi di Desa Wareng, Gunung Kidul, penulis bertemu dengan Ibu Parjiyem, seorang petani perempuan yang tangguh dan mandiri. Sore itu, beliau menyuguhkan camilan berupa irisan tipis berwarna putih pucat, renyah saat digigit, dan gurih menemani secangkir kopi. “Keripik gadung,” katanya singkat.

Gadung (Dioscorea hispida) adalah umbi yang akrab dengan lanskap pedesaan di Tanah Jawa. Tumbuhan ini tumbuh liar, mudah ditemukan, tetapi menyimpan racun apabila tidak diolah dengan kesabaran dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Di tangan yang terampil, gadung bertransformasi dari umbi beracun menjadi sumber pangan yang aman dan lezat. Namun, gadung bukan semata-mata soal apa yang dimakan. Ia juga menyimpan pengetahuan tentang waktu, tentang kapan tanah mulai menerima kembali air, kapan tunas-tunas muda muncul, dan kapan siklus kehidupan dimulai lagi. Dengan demikian, gadung bukan hanya bagian dari kuliner tradisional, melainkan juga penanda ekologis yang membantu masyarakat Jawa membaca pergantian musim, setidaknya di Desa Wareng, Gunung Kidul.

Sabtu, 09 Mei 2026

Dari Srengenge (matahari) ke Musim: Pelajaran Iklim dari Desa di Pasuruan

 Catatan kampus Cikabayan

Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.

Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit dari hari ke hari.

“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)

Jumat, 08 Mei 2026

Embun Upas dan Waring: Cara Petani Pesisir Kulon Progo Membaca Mikroklimat

 Catatan Kampus Cikabayan


Bu Etik, petani perempuan tangguh di pesisir selatan Kulon Progo, mengajak penulis menyusuri kawasan pantai dari Bugel hingga Trisik. Sepanjang mata memandang, hamparan lahan pasir hitam di kawasan itu dimanfaatkan masyarakat untuk menanam beragam komoditas hortikultura seperti cabai, semangka, melon, kacang panjang, dan berbagai tanaman lainnya. Di tengah lanskap pertanian pesisir tersebut, perhatian penulis tertuju pada bentangan waring yang dipasang di antara lahan-lahan tanaman. Menurut Bu Etik, waring itu digunakan untuk melindungi tanaman dari sesuatu yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “embun upas”.

Istilah “embun upas” terdengar seperti mitos pertanian lama. Namun bagi petani pesisir selatan, gejalanya nyata, daun dapat menguning, terbakar, bahkan tanaman muda bisa mati setelah malam-malam tertentu.

Rabu, 06 Mei 2026

Membaca Kemarau dari Runduk Yuyu: Kisah Petani Tangguh di Pati Selatan

 Catatan Kampus Cikabayan


Pak Sudargo, petani tadah hujan yang tangguh dan tekun dari Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, tidak pernah menyebut dirinya ahli iklim. Namun dari caranya bercerita tentang sawah, jelas ia membaca musim dengan ketelitian yang tak kalah dari alat modern. Suatu hari, ia berkisah kepada penulis tentang “runduk yuyu”, liang kecil di tanah sawah yang digali oleh yuyu sebagai tempat berlindung. Bagi orang awam, runduk mungkin hanya tampak seperti lubang biasa di pematang. Tetapi bagi Pak Sudargo, kemunculan runduk dalam jumlah banyak adalah tanda yang tak pernah meleset: “kalau runduk yuyu mulai banyak,” katanya pelan, “itu tandanya kemarau akan datang.”

Di banyak sawah tadah hujan di Pati bagian selatan, kemarau memang tidak datang sebagai tanggal di kalender. Ia muncul pelan-pelan, merambat dari tanah yang mulai mengeras, dari air yang perlahan menghilang. Dan sebelum manusia menyadarinya, seekor hewan kecil sudah lebih dulu tahu: yuyu.

Senin, 04 Mei 2026

Dari El Nino ke “Godzilla”: Ketika Komunikasi Sains Kehilangan Arah

Catatan Kampus Cikabayan

Akhir-akhir ini, jagat maya digegerkan oleh satu istilah yang terdengar mengerikan: “El Nino Godzilla.” Kata “Godzilla”. Monster raksasa perusak kota dari layar perak Jepang, seolah menjadi kiasan yang pas menggambarkan kekeringan panjang, gagal panen, dan kebakaran hutan yang akan melanda Indonesia. Media sosial ramai, ada yang waspada, tak sedikit pula yang panik dan berbondong-bondong menyimpan persediaan air dan beras.

Istilah ini sendiri mulai mencuat ke ruang publik pada pertengahan Maret 2026, ketika peneliti dari lembaga ternama negeri ini mempublikasikan peringatan awal melalui kanal media sosialnya. Momentum paling kuat terjadi pada 19–20 Maret 2026, saat unggahan di akun X dan Instagram menyinggung potensi kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode April–Oktober 2026. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh peneliti ternama dari lembaga beken di negeri ini , dan segera meluas setelah diberitakan media nasional pada hari berikutnya.

Minggu, 03 Mei 2026

“Bediding Asem Kemledak: Membaca Kemarau dari Pohon Asam”

 Catatan Kampus Cikabayan

Pada sebuah kesempatan acara kumpul petani ASEAN di Science Techno Park IPB, Kampus Taman Kencana, Bogor, penulis berkesempatan bertemu perempuan-perempuan petani tangguh di Indonesia. Salah satunya adalah Bu Rum Zaenab, petani tangguh dari Tuban, Jawa Timur. Beliau bercerita tentang buah asam yang mulai ranum hingga matang sebagai pertanda musim kemarau telah tiba, dengan istilah yang khas “Bediding Asem Kemledak”. Dengan gayanya yang lugas, ia mengisahkan bahwa di jalan masuk desanya dulu berdiri pohon-pohon asam raksasa. Kini tinggal empat pohon saja, itu pun buahnya tak lagi lebat seperti dulu, dan sebagian tumbang dimakan usia. Sambil menerawang ke masa kecilnya, ia mengenang siang hari sepulang sekolah, berteduh di bawah rindangnya asam, menunggu buah jatuh ditiup angin, lalu memungutnya dengan riang. Bagi Bu Rum, pohon asam bukan sekadar tanaman, melainkan penanda waktu, ruang bermain, sekaligus saksi perubahan desa.

Sabtu, 02 Mei 2026

Turi: Mekar Ketika Air Mulai Berkurang

 Catatan Kampus Cikabayan


“Kembang turi yo mas tibo lemah, mlebu omah ojo karo mlayu. Seneng ati ojo susah, timbang susah ayo podo ngguyu.” Penggalan langgam Jawa “Ayo Ngguyu” yang dipopulerkan oleh ibu Waldjinah itu tiba-tiba membawa ingatan penulis kembali ke masa kecil, berlarian di pematang sawah, di antara deretan pohon turi yang tumbuh sebagai pagar hidup. Bunganya yang putih menggantung, sesekali jatuh ke tanah, menjadi bagian dari lanskap yang dulu terasa biasa, tetapi kini justru terasa seperti isyarat yang pernah luput dibaca.

Di mata anak kecil, turi mungkin hanya pohon tempat berteduh atau sekadar latar bermain. Namun seiring waktu, ingatan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan: mengapa bunga turi sering bermekaran ketika sawah mulai kehilangan airnya? Mengapa ia tidak menunggu puncak musim hujan, ketika segala sesuatu tampak lebih subur? Dari sana, turi (Sesbania grandiflora) tidak lagi sekadar tanaman pagar, melainkan penanda yang diam-diam berbicara tentang peralihan musim.

Jumat, 01 Mei 2026

Menggembala Iklim di Selasar Klinik Tanaman

 Catatan Kampus Cikabayan


Penulis memanggilnya Pakde Widodo dan Pak Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yang lebih sering ditemui di antara kebun percobaan dan percakapan petani daripada ruang kelas. Di kampus, ia dikenal sebagai akademisi, tetapi di lapangan ia lebih sering menjadi pendengar daripada pemberi ceramah.

Hari itu hujan turun pelan di Kampus Dramaga. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat selasar Klinik Tanaman menjadi tempat singgah yang nyaman. Kami bertiga duduk di sana. Kopi sudah mulai dingin, tapi percakapan justru baru menghangat.

Petani, kata beliau-beliau sore itu, sebenarnya tidak pernah berhenti membaca alam. Bukan dengan istilah ilmiah, tetapi melalui tanda-tanda yang terus berulang. Dan mungkin justru di situlah letak pengetahuan yang sering kita lupakan, bahwa membaca tanda adalah bagian dari cara manusia memahami dunia.

Percakapan sore itu tidak berhenti pada kalimat-kalimat yang diucapkan. Ia seperti berlanjut diam-diam, menyusup ke cara penulis melihat ulang hubungan manusia dengan musim. Jauh sebelum istilah prediksi cuaca dan model iklim digunakan, orang-orang di Nusantara telah hidup dalam cara membaca musim yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari.