Catatan Kampus Cikabayan
Penulis sedang menyiapkan bahan
kuliah klimatologi. Di salah satu slide presentasi, terdapat potongan video
suasana kota Bergen, Norwegia, sebuah kota di pesisir barat Skandinavia yang
terkenal sebagai salah satu kota paling basah di Eropa. Hujan turun hampir
sepanjang tahun dan perlahan membentuk budaya masyarakatnya. Di sana ada ungkapan,
“Det finnes ikke dårlig vær, bare dårlige klær.” Tidak ada cuaca buruk,
yang ada hanya pakaian yang buruk. Tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari
sahabat muda penulis, Mas Elvara, seorang aktivis muda pertanian dan kehutanan.
“Pak, besok kita ke Situbondo.”
Pesan singkat itu segera mengalihkan ingatan penulis pada satu tradisi lama di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, “Ojhung”, termasuk di Situbondo. Sebuah ritual rakyat ketika dua lelaki saling mencambuk menggunakan rotan di tengah lapangan desa, diiringi kendang dan sorak warga yang berharap hujan segera datang.
Tradisi serupa sebenarnya juga dikenal di berbagai
bagian lain di Pulau Jawa, meskipun dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda.
Di kawasan Situbondo, Bondowoso dan Probolinggo, tradisi ini dikenal
sebagai Ojhung atau Ojung, sementara di beberapa wilayah Jawa Tengah seperti
Temanggung dan Magelang masyarakat mengenalnya dengan sebutan Ujungan. Di
berbagai tempat tersebut, ritual rakyat ini umumnya muncul sebagai ekspresi
kolektif masyarakat agraris dalam menghadapi kemarau panjang dan ketidakpastian
musim. Seketika penulis menyadari bahwa iklim ternyata tidak hanya membentuk
bentang alam, tetapi juga membentuk cara manusia memaknai kehidupan. Di Bergen
maupun di Situbondo.
Kemarau memang selalu punya cara sendiri untuk mengubah suasana desa. Tanah
mengeras. Daun-daun pisang menggulung seperti menahan panas yang turun dari
langit. Di pematang sawah, retakan tanah memanjang seperti guratan tua di kulit
bumi. Orang mulai menghitung sisa air di sumur. Petani mulai lebih sering
menengadah ke langit. Barangkali karena itulah Ojhung lahir.
Menjelang sore, warga desa berkumpul di lapangan tanah. Dua lelaki
bertelanjang dada berdiri saling berhadapan sambil memegang rotan panjang.
Seorang tua memukul kendang perlahan, lalu suara cambuk pertama pecah di udara
kering. Anak-anak berteriak riuh, orang-orang tua mengawasi dari pinggir arena,
sementara debu beterbangan dari tanah yang lama tak disentuh hujan. Di tengah
sorak warga, tersimpan harapan sederhana agar hujan segera datang.
Cak Irfan dan Cak Rosi, petani tangguh yang dijumpai di Situbondo
menceritakan, bahwa di banyak desa, Ojhung juga menjadi bagian dari rangkaian
selamatan desa yang berkaitan dengan musim dan tolak bala. Bagi sebagian
masyarakat, Ojhung dipercaya dapat memanggil hujan, sementara bagi yang lain ia
dipandang sebagai tradisi warisan leluhur. Di sana, keyakinan, pengalaman musim,
dan kehidupan sosial sering kali menyatu menjadi satu kesadaran kolektif dalam
menghadapi kemarau panjang.
Dari sudut pandang meteorologi modern, Ojhung tentu tidak dapat dipahami
sebagai penyebab hujan karena atmosfer bekerja melalui proses fisika yang
kompleks, mulai dari penguapan air laut, kelembapan udara, pergerakan massa
udara, pembentukan awan, hingga kondensasi di langit. Tidak ada cambukan rotan
yang mampu mengubah dinamika atmosfer. Jika dicermati lebih jauh, Ojhung
barangkali bukan semata persoalan benar atau salah secara ilmiah, melainkan
bagian dari cara masyarakat desa mengekspresikan pengalaman kolektif mereka
dalam menghadapi kemarau dan ketidakpastian musim.
Ojhung hampir selalu dilakukan ketika kemarau mulai melewati puncaknya atau
menjelang pancaroba, saat udara terasa lebih lembap, arah angin berubah, dan
awan mulai tumbuh di kejauhan. Masyarakat desa membaca tanda-tanda musim itu
dengan caranya sendiri. Mereka mungkin tidak mengenal istilah ilmiah seperti
kelembapan relatif atau dinamika monsun, tetapi mengenali perubahan panas
tanah, bau udara, dan arah angin dari hari-hari sebelumnya.
Di situlah tumbuh kesadaran kolektif masyarakat desa terhadap fenomena
iklim, bahwa kemarau bukan sekadar pengalaman individual, melainkan persoalan
bersama yang menyangkut sawah, sumber air, ternak, dan keberlangsungan hidup
desa. Ojhung tidak pernah menjadi ritual yang dilakukan sendirian. Ia selalu
menghadirkan kerumunan. Orang berkumpul, berbicara tentang musim, membaca
tanda-tanda langit, dan merasakan kecemasan yang sama. Dalam suasana seperti
itu, ritual perlahan berubah menjadi ruang kohesi sosial di tengah
ketidakpastian iklim.
Saat ini, ketika kekeringan datang, kita memiliki kemampuan yang jauh lebih maju untuk memahami atmosfer. Radar cuaca, citra satelit, model numerik, hingga teknologi modifikasi cuaca memungkinkan manusia membaca dinamika awan dan hujan dengan jauh lebih akurat dibanding masa lalu. Pesawat diterbangkan untuk menyemai partikel higroskopis ke dalam awan potensial agar peluang hujan meningkat. Teknologi ini lahir dari perkembangan panjang ilmu meteorologi modern dan menjadi salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam menghadapi kekeringan. Namun, bahkan dengan teknologi modern sekalipun, manusia tetap tidak sepenuhnya dapat mengendalikan atmosfer. Penyemaian awan hanya dilakukan ketika kondisi atmosfer memang mendukung dan awan potensial telah terbentuk.
Ada benang merah yang menarik.
Baik Ojhung maupun Teknologi Modifikasi Cuaca sama-sama lahir dari kesadaran
manusia terhadap pentingnya hujan (iklim) bagi kehidupan. Perbedaannya terletak pada cara memahami dan
merespons atmosfer. Yang satu lahir dari pengalaman kolektif masyarakat
agraris yang hidup sangat dekat dengan musim. Yang lain berkembang melalui
pengamatan ilmiah, pengukuran atmosfer, dan kemajuan teknologi modern.
Keduanya tidak harus
dipertentangkan. Justru di tengah tantangan perubahan iklim hari ini,
pendekatan ilmiah modern akan menjadi lebih kuat ketika hadir bersama
keterlibatan sosial masyarakat. Teknologi membutuhkan komunikasi yang baik agar
dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Penulis berimajinasi, bagaimana
jika sebelum operasi Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan, masyarakat terlebih
dahulu menggelar Ojhung? Bukan karena cambukan rotan dipercaya mampu membentuk
awan. Bukan pula untuk mencampurkan ritual dengan sains. Tetapi sebagai ruang
budaya yang mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan iklim modern.
Bayangkan di sebuah lapangan desa
menjelang operasi penyemaian awan. Warga berkumpul menyaksikan Ojhung sebagai
bagian dari tradisi lokal mereka. Setelah itu, ahli meteorologi menjelaskan kondisi atmosfer, prakiraan musim, dan cara kerja teknologi modifikasi cuaca kepada masyarakat. Dalam suasana seperti itu, tradisi tetap hidup sebagai
identitas budaya kesadaran iklim, dan sains hadir sebagai pengetahuan bersama
yang dapat dipahami masyarakat secara lebih dekat.
Krisis iklim saat ini tentu
membutuhkan sains dan teknologi
atmosfer. Namun, hubungan manusia dengan iklim tidak hanya dibangun melalui data
dan model, melainkan juga melalui pengalaman sosial dan budaya yang hidup di
masyarakat. Ojhung dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi budaya masyarakat
desa terhadap kemarau panjang, sekaligus ruang kohesi sosial dan kesadaran
kolektif atas fenomena iklim yang kini dapat menjadi jembatan komunikasi antara
tradisi lokal dan sains atmosfer modern.
Pada akhirnya, baik masyarakat
desa maupun ilmuwan atmosfer sama-sama sedang belajar memahami langit yang
selalu menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.
(SiBu Bayan)