Catatan Kampus Cikabayan
Saat
berjalan-jalan di sekitar Kepanjen, Malang, pada libur Lebaran Maret 2026,
sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Kabupaten Malang
dahulu merupakan bentang sawah luas. Hamparan kantor pemerintahan, jalan raya,
dan permukiman yang berdiri hari ini pernah dialiri air dari Saluran Molek. Di
pagi hari tertentu, ketika kabut turun dari arah Gunung Kawi dan angin membawa
aroma lumpur sawah yang baru dibajak, lanskap itu seakan masih menyimpan
ingatan lama tentang hubungan manusia dan air di lembah Brantas. Kawasan yang
kini tumbuh sebagai pusat pemerintahan tersebut pernah hidup dari aliran Sungai
Brantas dan denyut pertanian sawah. Di balik wajah modern Kepanjen hari ini,
tersembunyi kisah panjang tentang air, pertanian, teknik kolonial, serta
perubahan ruang yang perlahan menggeser fungsi tanah paling subur di lembah
Brantas.
Kisah itu bermula dari sebuah tempat bernama Blobo, sebuah kawasan di tepian Sungai Brantas yang berada di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kini Dam Blobo dikenal sebagai titik pengambilan air utama Daerah Irigasi Molek. Namun, sangat mungkin nama Blobo telah ada jauh sebelum Dam permanen dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.
Tidak ada catatan
pasti mengenai arti kata Blobo. Namun dalam masyarakat Jawa, nama tempat sering
kali lahir bukan dari keputusan administratif, melainkan dari pengalaman hidup
sehari-hari: dari suara air, bentuk tanah, pohon yang tumbuh, atau peristiwa yang
terus diingat turun-temurun. Namun secara fonetik, kata itu mengingatkan pada
bunyi air yang bergolak atau kawasan yang selalu basah dan berlumpur. Dalam
tradisi toponimi Jawa, nama tempat sering lahir dari kondisi ekologis suatu
wilayah. Karena itu, sangat mungkin Blobo sejak lama dikenal masyarakat sebagai
lokasi yang berkaitan erat dengan air.
Dugaan tersebut
menjadi menarik karena wilayah Malang sendiri memiliki sejarah agraris yang
sangat tua. Pada tahun 760 M, Prasasti Dinoyo menunjukkan bahwa kawasan Malang
telah berkembang sebagai wilayah permukiman dan pertanian pada masa Kerajaan
Kanjuruhan. Lebih dari satu abad kemudian, Prasasti Bakalan tahun 934 M
menyebut istilah dawuhan, yakni bendungan atau waduk air untuk pertanian.
Prasasti ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur telah mengenal teknologi
pengaturan air jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda.
Jejak sejarah itu
memperlihatkan bahwa pengelolaan air di Jawa Timur bukanlah sesuatu yang baru.
Dalam kebudayaan agraris Jawa, air bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga
bagian dari tatanan sosial dan spiritual. Pembagian air menentukan musim
tanam, hubungan antardesa, hingga ritme kehidupan masyarakat. Karena itu,
sangat mungkin masyarakat di sekitar Kepanjen telah lama memanfaatkan aliran
Sungai Brantas melalui Dam sederhana dari batu, tanah, atau bambu. Air kemudian
dialirkan menuju sawah melalui saluran-saluran kecil yang mengikuti kontur
lahan.
Sawah di kawasan Kepanjen, Kromengan, dan Sumberpucung
sendiri hampir pasti jauh lebih tua daripada Irigasi Molek. Wilayah ini berada
di DAS Brantas yang sejak lama menjadi salah satu kawasan agraris penting di
Jawa Timur. Tanah vulkanik yang subur, ketersediaan air, dan curah hujan yang
relatif tinggi menjadikan kawasan ini ideal untuk pertanian sawah sejak masa
kerajaan-kerajaan awal di Malang.
Selama
berabad-abad, masyarakat kemungkinan mengelola sistem pengairan lokal yang
berdiri sendiri-sendiri. Di desa-desa agraris Jawa, pengaturan air biasanya
tidak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga melalui kesepakatan sosial
yang diwariskan turun-temurun. Ada jadwal giliran air, kerja bakti membersihkan
saluran, dan berbagai pengetahuan lokal untuk membaca musim, arah angin, hingga
tanda-tanda hujan. Sawah di Kepanjen mungkin memanfaatkan pengambilan air
langsung dari Brantas, sementara wilayah lain seperti Kromengan dan
Sumberpucung bergantung pada mata air dan aliran sungai kecil dari lereng
Gunung Kawi.
Perubahan besar baru terjadi pada awal abad ke-20. Pada
tahun 1901, pemerintah Hindia Belanda memperkuat Dam Blobo menjadi weir
permanen sebagai bagian dari pembangunan Irigasi Molek. Saluran primer kemudian
dibangun untuk mendistribusikan air ke wilayah yang lebih luas. Salah satu
karya teknik paling penting dalam proyek tersebut adalah Sipon Metro, dua pipa
baja raksasa yang memungkinkan air menyeberangi lembah Sungai Metro menuju
Talangagung, Jatikerto, Slorok, hingga Sumberpucung
Bagi masyarakat sekitar, Sipon Metro bukan sekadar bangunan
teknik, melainkan penanda perubahan lanskap pertanian di lembah Brantas. Pipa-pipa baja yang membentang di atas
lembah Metro menghadirkan simbol modernitas di tengah dunia agraris yang
sebelumnya sangat bergantung pada pengetahuan lokal dan aliran air alami.
Kehadiran Sipon Metro memungkinkan air dari Dam Blobo mengalir tanpa terputus
menuju Talangagung, Jatikerto, Slorok, hingga Sumberpucung, sekaligus
menyatukan beberapa kawasan pertanian yang sebelumnya dikelola secara terpisah.
Dalam konteks
itu, Dam Blobo dan Irigasi Molek dapat dipahami bukan semata sebagai pencipta
sistem pertanian baru, melainkan sebagai bentuk restrukturisasi dan integrasi
terhadap jaringan pengairan lokal yang kemungkinan telah lebih dahulu hidup di
lembah Brantas. Sejak sekitar tahun 1903, Saluran Molek mulai beroperasi secara
luas dan dalam catatan modern pernah melayani sekitar 3.971 hektare sawah di
wilayah Kepanjen, Kromengan, dan Sumberpucung. Selama lebih dari satu abad,
sistem tersebut menjadi salah satu penopang utama lanskap agraris di bagian
selatan Kabupaten Malang.
Namun ironi muncul justru ketika sistem itu masih terus
bekerja. Memasuki akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, Kepanjen berkembang
menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Pertumbuhan kawasan perkotaan
mendorong konversi lahan sawah menjadi kompleks pemerintahan, jalan,
permukiman, dan bangunan permanen lainnya. Sebagian sawah yang dahulu menerima
air dari Saluran Molek perlahan menghilang.
Paradoks pembangunan terlihat begitu jelas. Saluran Molek
masih terus mengalir membawa air ke sawah-sawah di lembah Brantas sebagaimana
telah berlangsung selama lebih dari satu abad, tetapi pada saat yang sama
sebagian lanskap agraris yang hidup dari aliran itu justru berubah menjadi
kawasan perkotaan dan fasilitas publik. Ironinya, perubahan tersebut
berlangsung melalui arah kebijakan tata ruang yang berkembang di kawasan sawah
beririgasi teknis. Negara seolah tetap menjaga Dam dan salurannya, tetapi
perlahan mengurangi ruang hidup agraris yang menjadi alasan utama sistem itu
dibangun. Airnya tetap dipertahankan, tetapi hamparan sawah yang dialirinya
terus menyusut. Perlahan, lembah Brantas menghadapi senjakala agraris. Ketika
jaringan irigasi masih bertahan, tetapi lanskap sawah yang menjadi ruhnya
perlahan menghilang dan hanya dipandang sebagai cadangan bidang lahan kosong.
Sawah beririgasi teknis bukan sekadar bidang lahan kosong.
Dalam kebudayaan Jawa, sawah adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif.
Dari sawah lahir tradisi wiwitan sebelum panen, kerja sambatan antarpetani,
hingga berbagai pengetahuan lokal tentang musim dan kesuburan tanah. Di
dalamnya tersimpan investasi hidrologi dan sosial yang sangat besar. Dam di
hulu, saluran primer dan sekunder, bangunan bagi, organisasi petani, hingga
pengetahuan lokal tentang pembagian air. Ketika sawah itu hilang, yang hilang
bukan hanya lahan produksi pangan, tetapi juga fungsi hidrologi dan sejarah
panjang pengelolaan air.
Dalam konteks
perubahan iklim saat ini, persoalan ini menjadi semakin penting. Perubahan
pola hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, dan ketidakpastian musim
membuat sistem irigasi teknis seperti Molek menjadi semakin relevan. Irigasi pada dasarnya adalah teknologi
adaptasi iklim. Ia mengubah air yang datang secara tidak menentu menjadi
pasokan yang lebih stabil bagi pertanian. Sawah beririgasi juga memiliki fungsi
ekologis yang sering dilupakan. Ia menahan limpasan permukaan, dan menjaga
keseimbangan hidrologi kawasan.
Kisah Blobo dan Molek bukan sekadar cerita tentang Dam tua
peninggalan kolonial. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia mengelola air
untuk bertahan hidup. Dari Dam tradisional para petani, modernisasi kolonial
melalui Sipon Metro, hingga tantangan perubahan iklim hari ini, semuanya
menunjukkan satu hal yang sama, yaitu peradaban agraris selalu bergantung pada
kemampuan membaca dan mengatur air.
Kini, di era digital,
model hidrometeorologi, dan pertanian presisi, warisan seperti Irigasi Molek
justru semakin penting untuk dibaca ulang. Teknologi modern mungkin mampu
memprediksi hujan dan kekeringan dengan lebih akurat, tetapi pelajaran paling
mendasar sebenarnya telah lama tersimpan di lembah Brantas, bahwa ketahanan
pangan tidak lahir dari beton semata, melainkan dari kemampuan masyarakat
menjaga hubungan antara air, tanah, dan ruang hidupnya.
Air yang mengalir
dari Blobo menuju sawah-sawah Molek selama lebih dari satu abad sesungguhnya
membawa pesan yang sederhana, yaitu mengelola air berarti mengelola masa depan.
(SiBu Bayan)