Kamis, 21 Mei 2026

Dam Blobo, Irigasi Molek, dan Senjakala Agraris Lembah Brantas

 Catatan Kampus Cikabayan

Saat berjalan-jalan di sekitar Kepanjen, Malang, pada libur Lebaran Maret 2026, sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini menjadi pusat Kabupaten Malang dahulu merupakan bentang sawah luas. Hamparan kantor pemerintahan, jalan raya, dan permukiman yang berdiri hari ini pernah dialiri air dari Saluran Molek. Di pagi hari tertentu, ketika kabut turun dari arah Gunung Kawi dan angin membawa aroma lumpur sawah yang baru dibajak, lanskap itu seakan masih menyimpan ingatan lama tentang hubungan manusia dan air di lembah Brantas. Kawasan yang kini tumbuh sebagai pusat pemerintahan tersebut pernah hidup dari aliran Sungai Brantas dan denyut pertanian sawah. Di balik wajah modern Kepanjen hari ini, tersembunyi kisah panjang tentang air, pertanian, teknik kolonial, serta perubahan ruang yang perlahan menggeser fungsi tanah paling subur di lembah Brantas.

Kisah itu bermula dari sebuah tempat bernama Blobo, sebuah kawasan di tepian Sungai Brantas yang berada di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kini Dam Blobo dikenal sebagai titik pengambilan air utama Daerah Irigasi Molek. Namun, sangat mungkin nama Blobo telah ada jauh sebelum Dam permanen dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Tidak ada catatan pasti mengenai arti kata Blobo. Namun dalam masyarakat Jawa, nama tempat sering kali lahir bukan dari keputusan administratif, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari: dari suara air, bentuk tanah, pohon yang tumbuh, atau peristiwa yang terus diingat turun-temurun. Namun secara fonetik, kata itu mengingatkan pada bunyi air yang bergolak atau kawasan yang selalu basah dan berlumpur. Dalam tradisi toponimi Jawa, nama tempat sering lahir dari kondisi ekologis suatu wilayah. Karena itu, sangat mungkin Blobo sejak lama dikenal masyarakat sebagai lokasi yang berkaitan erat dengan air.

Dugaan tersebut menjadi menarik karena wilayah Malang sendiri memiliki sejarah agraris yang sangat tua. Pada tahun 760 M, Prasasti Dinoyo menunjukkan bahwa kawasan Malang telah berkembang sebagai wilayah permukiman dan pertanian pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Lebih dari satu abad kemudian, Prasasti Bakalan tahun 934 M menyebut istilah dawuhan, yakni bendungan atau waduk air untuk pertanian. Prasasti ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur telah mengenal teknologi pengaturan air jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda.

Jejak sejarah itu memperlihatkan bahwa pengelolaan air di Jawa Timur bukanlah sesuatu yang baru. Dalam kebudayaan agraris Jawa, air bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari tatanan sosial dan spiritual. Pembagian air menentukan musim tanam, hubungan antardesa, hingga ritme kehidupan masyarakat. Karena itu, sangat mungkin masyarakat di sekitar Kepanjen telah lama memanfaatkan aliran Sungai Brantas melalui Dam sederhana dari batu, tanah, atau bambu. Air kemudian dialirkan menuju sawah melalui saluran-saluran kecil yang mengikuti kontur lahan.

Sawah di kawasan Kepanjen, Kromengan, dan Sumberpucung sendiri hampir pasti jauh lebih tua daripada Irigasi Molek. Wilayah ini berada di DAS Brantas yang sejak lama menjadi salah satu kawasan agraris penting di Jawa Timur. Tanah vulkanik yang subur, ketersediaan air, dan curah hujan yang relatif tinggi menjadikan kawasan ini ideal untuk pertanian sawah sejak masa kerajaan-kerajaan awal di Malang.

Selama berabad-abad, masyarakat kemungkinan mengelola sistem pengairan lokal yang berdiri sendiri-sendiri. Di desa-desa agraris Jawa, pengaturan air biasanya tidak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga melalui kesepakatan sosial yang diwariskan turun-temurun. Ada jadwal giliran air, kerja bakti membersihkan saluran, dan berbagai pengetahuan lokal untuk membaca musim, arah angin, hingga tanda-tanda hujan. Sawah di Kepanjen mungkin memanfaatkan pengambilan air langsung dari Brantas, sementara wilayah lain seperti Kromengan dan Sumberpucung bergantung pada mata air dan aliran sungai kecil dari lereng Gunung Kawi.

Perubahan besar baru terjadi pada awal abad ke-20. Pada tahun 1901, pemerintah Hindia Belanda memperkuat Dam Blobo menjadi weir permanen sebagai bagian dari pembangunan Irigasi Molek. Saluran primer kemudian dibangun untuk mendistribusikan air ke wilayah yang lebih luas. Salah satu karya teknik paling penting dalam proyek tersebut adalah Sipon Metro, dua pipa baja raksasa yang memungkinkan air menyeberangi lembah Sungai Metro menuju Talangagung, Jatikerto, Slorok, hingga Sumberpucung

Bagi masyarakat sekitar, Sipon Metro bukan sekadar bangunan teknik, melainkan penanda perubahan lanskap pertanian di lembah Brantas. Pipa-pipa baja yang membentang di atas lembah Metro menghadirkan simbol modernitas di tengah dunia agraris yang sebelumnya sangat bergantung pada pengetahuan lokal dan aliran air alami. Kehadiran Sipon Metro memungkinkan air dari Dam Blobo mengalir tanpa terputus menuju Talangagung, Jatikerto, Slorok, hingga Sumberpucung, sekaligus menyatukan beberapa kawasan pertanian yang sebelumnya dikelola secara terpisah.

Dalam konteks itu, Dam Blobo dan Irigasi Molek dapat dipahami bukan semata sebagai pencipta sistem pertanian baru, melainkan sebagai bentuk restrukturisasi dan integrasi terhadap jaringan pengairan lokal yang kemungkinan telah lebih dahulu hidup di lembah Brantas. Sejak sekitar tahun 1903, Saluran Molek mulai beroperasi secara luas dan dalam catatan modern pernah melayani sekitar 3.971 hektare sawah di wilayah Kepanjen, Kromengan, dan Sumberpucung. Selama lebih dari satu abad, sistem tersebut menjadi salah satu penopang utama lanskap agraris di bagian selatan Kabupaten Malang.

Namun ironi muncul justru ketika sistem itu masih terus bekerja. Memasuki akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, Kepanjen berkembang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Pertumbuhan kawasan perkotaan mendorong konversi lahan sawah menjadi kompleks pemerintahan, jalan, permukiman, dan bangunan permanen lainnya. Sebagian sawah yang dahulu menerima air dari Saluran Molek perlahan menghilang.

Paradoks pembangunan terlihat begitu jelas. Saluran Molek masih terus mengalir membawa air ke sawah-sawah di lembah Brantas sebagaimana telah berlangsung selama lebih dari satu abad, tetapi pada saat yang sama sebagian lanskap agraris yang hidup dari aliran itu justru berubah menjadi kawasan perkotaan dan fasilitas publik. Ironinya, perubahan tersebut berlangsung melalui arah kebijakan tata ruang yang berkembang di kawasan sawah beririgasi teknis. Negara seolah tetap menjaga Dam dan salurannya, tetapi perlahan mengurangi ruang hidup agraris yang menjadi alasan utama sistem itu dibangun. Airnya tetap dipertahankan, tetapi hamparan sawah yang dialirinya terus menyusut. Perlahan, lembah Brantas menghadapi senjakala agraris. Ketika jaringan irigasi masih bertahan, tetapi lanskap sawah yang menjadi ruhnya perlahan menghilang dan hanya dipandang sebagai cadangan bidang lahan kosong.

Sawah beririgasi teknis bukan sekadar bidang lahan kosong. Dalam kebudayaan Jawa, sawah adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif. Dari sawah lahir tradisi wiwitan sebelum panen, kerja sambatan antarpetani, hingga berbagai pengetahuan lokal tentang musim dan kesuburan tanah. Di dalamnya tersimpan investasi hidrologi dan sosial yang sangat besar. Dam di hulu, saluran primer dan sekunder, bangunan bagi, organisasi petani, hingga pengetahuan lokal tentang pembagian air. Ketika sawah itu hilang, yang hilang bukan hanya lahan produksi pangan, tetapi juga fungsi hidrologi dan sejarah panjang pengelolaan air.

Dalam konteks perubahan iklim saat ini, persoalan ini menjadi semakin penting. Perubahan pola hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, dan ketidakpastian musim membuat sistem irigasi teknis seperti Molek menjadi semakin relevan. Irigasi pada dasarnya adalah teknologi adaptasi iklim. Ia mengubah air yang datang secara tidak menentu menjadi pasokan yang lebih stabil bagi pertanian. Sawah beririgasi juga memiliki fungsi ekologis yang sering dilupakan. Ia menahan limpasan permukaan, dan menjaga keseimbangan hidrologi kawasan.

Kisah Blobo dan Molek bukan sekadar cerita tentang Dam tua peninggalan kolonial. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia mengelola air untuk bertahan hidup. Dari Dam tradisional para petani, modernisasi kolonial melalui Sipon Metro, hingga tantangan perubahan iklim hari ini, semuanya menunjukkan satu hal yang sama, yaitu peradaban agraris selalu bergantung pada kemampuan membaca dan mengatur air.

Kini, di era digital, model hidrometeorologi, dan pertanian presisi, warisan seperti Irigasi Molek justru semakin penting untuk dibaca ulang. Teknologi modern mungkin mampu memprediksi hujan dan kekeringan dengan lebih akurat, tetapi pelajaran paling mendasar sebenarnya telah lama tersimpan di lembah Brantas, bahwa ketahanan pangan tidak lahir dari beton semata, melainkan dari kemampuan masyarakat menjaga hubungan antara air, tanah, dan ruang hidupnya.

Air yang mengalir dari Blobo menuju sawah-sawah Molek selama lebih dari satu abad sesungguhnya membawa pesan yang sederhana, yaitu mengelola air berarti mengelola masa depan.

(SiBu Bayan)