Catatan Kampus Cikabayan
Saat penulis bersilaturahmi di Desa Wareng, Gunung Kidul,
penulis bertemu dengan Ibu Parjiyem, seorang petani perempuan yang tangguh dan
mandiri. Sore itu, beliau menyuguhkan camilan berupa irisan tipis berwarna
putih pucat, renyah saat digigit, dan gurih menemani secangkir kopi. “Keripik
gadung,” katanya singkat.
Gadung (Dioscorea hispida) adalah umbi yang akrab dengan lanskap pedesaan di Tanah Jawa. Tumbuhan ini tumbuh liar, mudah ditemukan, tetapi menyimpan racun apabila tidak diolah dengan kesabaran dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Di tangan yang terampil, gadung bertransformasi dari umbi beracun menjadi sumber pangan yang aman dan lezat. Namun, gadung bukan semata-mata soal apa yang dimakan. Ia juga menyimpan pengetahuan tentang waktu, tentang kapan tanah mulai menerima kembali air, kapan tunas-tunas muda muncul, dan kapan siklus kehidupan dimulai lagi. Dengan demikian, gadung bukan hanya bagian dari kuliner tradisional, melainkan juga penanda ekologis yang membantu masyarakat Jawa membaca pergantian musim, setidaknya di Desa Wareng, Gunung Kidul.
Sebagian orang
mengenal gadung dari rasanya yang khas, gurih dengan sedikit pahit yang tersisa
seperti jejak masa lalu. Namun, jauh sebelum ia menjadi camilan, gadung adalah
teka-teki. Umbi ini mengandung senyawa beracun seperti dioskorin dan sianida
dalam kadar tertentu yang dapat memicu pusing dan mual. Ia tidak bisa dimakan
begitu saja. Ada proses panjang: diiris tipis, direndam berhari-hari, dicuci
berulang kali, lalu dijemur hingga kering. Proses ini bukan sekadar teknik
pengolahan, melainkan bentuk teknologi lokal, cara manusia menurunkan toksisitas
melalui difusi, pelindian, dan oksidasi alami. Gadung, dengan demikian,
adalah pelajaran tentang bagaimana pengetahuan tradisional bekerja dengan
prinsip-prinsip yang juga dikenal dalam sains modern.
Secara morfologi, gadung adalah tanaman merambat dengan
sulur yang dapat memanjang beberapa meter, melilit penopang di sekitarnya.
Daunnya berbentuk menjari hingga menyerupai jantung, dengan permukaan halus dan
warna hijau tua saat kondisi optimal. Di bawah tanah, umbinya tumbuh besar dan
tidak beraturan, berkulit kasar dengan daging putih bertepung. Umbi ini
berfungsi sebagai organ penyimpan, menimbun karbohidrat sekaligus senyawa
pertahanan. Di sinilah gadung menyimpan energi untuk bertahan, sekaligus
mekanisme perlindungan dari herbivora.
Namun, kekuatan utama gadung terletak pada fisiologinya. Kemampuannya
membaca lingkungan. Pada musim kemarau, ketika kelembapan tanah menurun dan
suhu meningkat, gadung memasuki fase dormansi. Aktivitas metabolisme ditekan,
laju respirasi menurun, dan pertumbuhan berhenti. Secara fisiologis, ini adalah
strategi konservasi energi: umbi mempertahankan viabilitas dengan meminimalkan
kehilangan air dan penggunaan cadangan.
Yang menarik, kebangkitan gadung tidak selalu menunggu hujan
benar-benar turun. Dalam sistem iklim monsun tropis, fase pra-hujan ditandai
oleh perubahan halus namun konsisten: suhu tanah mulai menurun akibat
meningkatnya tutupan awan, amplitudo suhu harian mengecil, dan kelembapan udara
meningkat. Perubahan ini memengaruhi gradien energi di permukaan tanah. Di
dalam kajian biofisika, dapat dibaca sebagai perubahan sinyal termal tanah (soil
thermal signal) dan kondisi mikroklimat.
Umbi gadung merespons sinyal-sinyal ini. Penurunan suhu
tanah dapat meningkatkan aktivitas enzimatik tertentu dan memicu perubahan
keseimbangan hormon, seperti peningkatan giberelin yang berperan dalam
pematahan dormansi. Kelembapan yang mulai naik juga mengubah potensi air di
sekitar umbi, memudahkan proses imbibisi atau penyerapan air awal yang
diperlukan untuk mengaktifkan kembali metabolisme. Dalam beberapa kasus,
respons ini terjadi beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum hujan
signifikan benar-benar turun.
Maka, ketika manusia masih menunggu konfirmasi dari angka
curah hujan, gadung sudah lebih dulu mengambil keputusan untuk tumbuh. Tunas
kecil muncul dari dalam tanah, pelan tapi pasti. Ia tumbuh bukan karena hujan
telah datang, tetapi karena hujan akan datang.
Di sinilah gadung
menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia adalah sistem deteksi dini yang
hidup. Sebuah bentuk phenological forecasting yang tidak bergantung pada
instrumen, melainkan pada kepekaan biologis terhadap lingkungan. Bagi
masyarakat yang akrab dengan lanskap, kemunculan tunas gadung bukan sekadar
peristiwa botani, tetapi isyarat ekologis: bahwa tanah telah mulai pulih, bahwa
musim sedang beralih.
Pengetahuan semacam ini pernah menjadi bagian dari
keseharian. Petani membaca musim dari tanda-tanda yang tersebar: arah angin,
suara serangga, perilaku burung, hingga tumbuhan liar seperti gadung. Namun, modernitas perlahan menggeser cara
membaca itu. Kita kini mengandalkan model, satelit, dan prakiraan numerik.
Semua itu penting, bahkan esensial. Tetapi di tengah presisi tersebut, ada
jarak yang tercipta. Antara data dan pengalaman, antara prediksi dan rasa.
Gadung
mengingatkan bahwa musim bukan hanya peristiwa atmosfer, melainkan juga proses
yang dirasakan oleh tanah dan makhluk hidup di dalamnya. Ia tidak membaca
kalender, tidak pula grafik. Ia membaca perubahan energi, air, dan suhu. Parameter
yang juga menjadi dasar dalam ilmu klimatologi, tetapi diterjemahkan langsung
ke dalam respons biologis.
Namun,
seperti banyak pengetahuan lokal lainnya, gadung hidup di pinggiran. Ia bukan
komoditas utama, tidak masuk dalam statistik produksi, dan jarang
diperhitungkan dalam kebijakan pangan. Padahal, dari pinggiran itulah ia
menunjukkan ketahanan. Ia mampu bertahan di kondisi ekstrem, bangkit pada waktu
yang tepat, dan memberi manfaat bagi mereka yang memahami caranya.
Menyantap gadung di rumah Bu Parjiyem sore itu, penulis menyadari bahwa yang dihadirkan beliau bukan sekadar camilan. Ada cerita tentang racun yang dijinakkan, tentang musim yang dibaca sebelum datang, dan tentang pengetahuan yang bekerja diam-diam tanpa perlu diumumkan. Di tengah ketidakpastian iklim yang semakin kompleks, mungkin kita perlu kembali belajar dari cara-cara sederhana namun tajam seperti ini. Sebab sebelum hujan itu tercatat, sebelum model itu dijalankan, gadung sudah lebih dulu bertunas. Diam-diam, presisi, dan setia pada bahasa tanah yang jarang lagi kita dengarkan.
(SiBu Bayan)