Catatan Kampus Cikabayan
“Kembang turi yo mas tibo
lemah, mlebu omah ojo karo mlayu. Seneng ati ojo susah, timbang susah ayo podo
ngguyu.” Penggalan langgam Jawa “Ayo Ngguyu” yang dipopulerkan oleh ibu Waldjinah
itu tiba-tiba membawa ingatan penulis kembali ke masa kecil, berlarian di
pematang sawah, di antara deretan pohon turi yang tumbuh sebagai pagar hidup.
Bunganya yang putih menggantung, sesekali jatuh ke tanah, menjadi bagian dari
lanskap yang dulu terasa biasa, tetapi kini justru terasa seperti isyarat yang
pernah luput dibaca.
Di mata anak kecil, turi mungkin hanya pohon tempat berteduh atau sekadar latar bermain. Namun seiring waktu, ingatan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan: mengapa bunga turi sering bermekaran ketika sawah mulai kehilangan airnya? Mengapa ia tidak menunggu puncak musim hujan, ketika segala sesuatu tampak lebih subur? Dari sana, turi (Sesbania grandiflora) tidak lagi sekadar tanaman pagar, melainkan penanda yang diam-diam berbicara tentang peralihan musim.
Secara morfologi, turi adalah pohon kecil yang tampak sederhana, bahkan
sering dianggap remeh. Batangnya lunak dan cepat tumbuh, mudah dipangkas, lalu
kembali hidup dalam waktu singkat. Daunnya majemuk, tersusun dari
anak-anak daun kecil yang ringan dan mudah berguguran. Bunganya besar dan
menggantung, dengan kelopak melengkung menyerupai paruh burung, berwarna putih
atau merah muda, mencolok di antara dedaunan. Di bawah kesederhanaannya,
tersimpan strategi hidup yang efisien: tumbuh cepat, berumur relatif pendek,
dan responsif terhadap perubahan lingkungan.
Yang membuatnya menarik adalah
perilaku berbunga. Tidak seperti banyak tanaman yang menunggu kondisi optimal (air
cukup, tanah basah, dan cuaca stabil) turi justru kerap meningkatkan
pembungaannya ketika kondisi mulai berubah. Saat curah hujan menurun,
kelembapan tanah berangsur berkurang, dan pertumbuhan vegetatif melambat,
bunga-bunga mulai muncul lebih sering. Ini bukan kebetulan, melainkan respons fisiologis
terhadap apa yang dalam ilmu tanaman disebut sebagai mild water stress.
Dalam kondisi ini, tanaman mengalami tekanan ringan akibat berkurangnya
ketersediaan air. Responsnya bukan menyerah, melainkan beralih strategi: dari
memperbanyak daun dan batang menuju fase reproduksi. Energi dialihkan untuk
membentuk bunga dan biji, sebuah upaya memastikan keberlanjutan sebelum kondisi
menjadi lebih berat. Proses ini melibatkan perubahan keseimbangan hormon,
termasuk peningkatan peran asam absisat (ABA) yang berkaitan dengan
stres, serta penyesuaian fungsi auksin dan giberelin dalam mengatur
pertumbuhan.
Namun penting dicatat, turi tidak menandai kemarau yang telah mapan. Ia
tidak menunggu tanah retak atau daun-daun gugur total. Sebaliknya, ia hadir
pada ambang, ketika musim basah mulai surut, ketika air belum sepenuhnya
hilang, tetapi tanda-tanda pergeseran sudah terasa. Jika kekeringan menjadi
terlalu ekstrem, pembungaan justru bisa menurun, karena tanaman kembali
memprioritaskan bertahan hidup. Dengan demikian, bunga turi lebih tepat dibaca
sebagai isyarat awal peralihan menuju kemarau, bukan puncaknya.
Dalam konteks ekologi, ini menjadikan turi sebagai indikator yang halus
namun konsisten. Ia tidak dramatis, tetapi justru karena itu ia sering luput
diperhatikan. Ia tidak memberi tanda dalam skala besar, melainkan dalam detail
kecil yang hanya terbaca oleh mereka yang terbiasa memperhatikan.
Pengetahuan semacam ini dulu
hidup dalam keseharian masyarakat. Petani tidak hanya melihat langit, tetapi
juga membaca tumbuhan di sekelilingnya. Bunga turi yang mulai bermunculan bisa
menjadi isyarat bahwa pola tanam perlu disesuaikan, bahwa air tidak lagi bisa
dianggap pasti. Namun, seiring waktu, kepekaan ini perlahan memudar. Kita
semakin bergantung pada prakiraan cuaca, pada angka dan model, yang meskipun
presisi, sering kali terasa jauh dari pengalaman langsung.
Padahal, apa yang dilakukan turi
sejatinya sejalan dengan prinsip ilmiah yang kita gunakan hari ini. Ia
merespons perubahan kelembapan tanah, suhu, dan ketersediaan air, variabel yang
juga menjadi dasar dalam klimatologi dan hidrologi. Bedanya, turi tidak
menerjemahkan perubahan itu menjadi angka, melainkan menjadi tindakan:
berbunga.
Ironisnya, turi kini kian
dipinggirkan sebagai sekadar tanaman pelengkap. Ia ditanam sebagai pagar,
dipetik bunganya untuk sayur, lalu jarang lagi dibaca sebagai bagian dari
lanskap yang hidup. Peran ekologisnya perlahan terlupakan, seolah ia tak lebih
dari latar yang biasa. Padahal, di balik kesederhanaannya, turi menyimpan
kepekaan yang halus dalam membaca perubahan musim. Ia tidak menunggu
pengumuman, tidak pula membutuhkan validasi. Ia hanya merespons, diam-diam,
tetapi tepat.
Mengingat kembali bunga-bunga
turi yang jatuh di pematang sawah, penulis menyadari bahwa lanskap masa kecil
itu sebenarnya penuh dengan tanda. Dulu terasa biasa, tetapi kini justru
menjadi penting. Di tengah perubahan iklim yang membuat musim semakin sulit
ditebak, mungkin kita perlu kembali belajar membaca isyarat-isyarat kecil
seperti ini.
Sebab, sebelum kemarau
benar-benar tiba, sebelum tanah benar-benar kehilangan airnya, turi sudah lebih
dulu memberi tahu lewat bunga-bunganya yang jatuh pelan ke tanah, seolah
mengingatkan bahwa perubahan selalu datang lebih awal bagi mereka yang mau
membaca.
(SiBu Bayan)