Senin, 11 Mei 2026

Kesetiaan Burung Enggang: Pengetahuan Dayak Wehea Membaca Musim dan Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.

Secara klimatologis, wilayah Berau dan pedalaman Kalimantan Timur dipengaruhi oleh pola monsunal ekuatorial. Curah hujan tinggi berlangsung hampir sepanjang tahun, tetapi umumnya mencapai puncak pada November hingga Januari ketika angin baratan membawa massa udara lembap dari Laut Jawa dan Samudra Hindia. Pada periode ini, tajuk hutan selalu basah, sungai-sungai meluap, dan vegetasi mengalami pertumbuhan aktif. Memasuki Februari hingga April, intensitas hujan mulai menurun, jumlah hari hujan berkurang, dan periode cerah menjadi lebih panjang. Radiasi matahari meningkat, kelembapan udara siang hari sedikit menurun, dan fotosintesis pohon-pohon hutan berlangsung lebih intensif. Kondisi ini memicu pembentukan dan pemasakan buah pada berbagai pohon hutan, terutama ara (Ficus spp.), meranti (Shorea spp.), dan aneka buah liar lainnya.

Perubahan musim ini segera direspons oleh burung enggang. Burung-burung ini sangat peka terhadap sinyal ekologis yang muncul dari hutan. Ketika buah mulai melimpah, pasangan enggang memasuki musim kawin yang umumnya berlangsung antara Februari hingga Juni. Kelimpahan buah menyediakan energi, air, vitamin, dan mineral yang diperlukan untuk pembentukan telur, pengeraman, dan pertumbuhan anak. Cuaca yang lebih stabil juga memungkinkan pejantan terbang lebih efisien menjelajahi hutan untuk mengantarkan makanan ke sarang. Dengan demikian, musim kawin enggang merupakan hasil sinkronisasi yang sangat halus antara iklim, fenologi pohon, dan fisiologi reproduksi.

Secara morfologis, burung enggang mudah dikenali dari tubuhnya yang besar dengan panjang 70–120 cm, paruh panjang melengkung, serta tonjolan khas di atas paruh yang disebut casque atau balung. Pada Rhinoplax vigil, balung ini padat menyerupai gading, sedangkan pada Buceros rhinoceros dan Rhyticeros undulatus strukturnya lebih ringan dan berongga. Casque berfungsi sebagai resonator yang memperkuat suara sehingga panggilannya dapat terdengar hingga beberapa kilometer. Kepakan sayapnya menghasilkan bunyi keras yang khas, seperti helikopter kecil yang melintas di atas kanopi hutan.

Secara fisiologis, enggang merupakan burung frugivora dengan sistem pencernaan yang sangat efisien. Buah ditelan utuh, sedangkan biji dikeluarkan tanpa rusak. Adaptasi ini menjadikan enggang sebagai penyebar benih utama di hutan hujan tropis. Seekor enggang dapat mengonsumsi ratusan buah dalam sehari dan membawa biji hingga puluhan kilometer. Oleh sebab itu, banyak ekolog menyebutnya sebagai “petani hutan” karena membantu menanam kembali pohon-pohon masa depan.

Fenologi reproduksi burung enggang sangat unik. Ketika musim berbuah tiba, pasangan enggang memilih lubang pada pohon-pohon besar seperti ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea spp.), atau kapur (Dryobalanops spp.) yang telah berumur ratusan tahun. Betina masuk ke dalam rongga sarang, lalu menutup hampir seluruh pintu dengan campuran lumpur, sisa buah, dan kotoran, menyisakan celah sempit. Di dalam ruang tertutup itu, betina bertelur satu hingga dua butir dan mengeraminya selama sekitar 30–40 hari. Setelah telur menetas, pejantan terus memasok buah dan serangga selama dua hingga empat bulan hingga anak cukup kuat untuk keluar dari sarang. Kesetiaan jantan yang memberi makan pasangan dan anaknya tanpa henti menjadikan enggang simbol kasih sayang dan tanggung jawab.

Secara ekologis, burung enggang merupakan indikator kesehatan hutan. Mereka membutuhkan pohon-pohon tua berdiameter besar untuk bersarang, bentang hutan luas untuk mencari makan, serta keragaman pohon buah sebagai sumber energi. Jika enggang masih sering terlihat dan terdengar, berarti struktur ekosistem masih utuh. Sebaliknya, hilangnya enggang menjadi pertanda bahwa pohon-pohon besar telah berkurang dan jaringan ekologis mulai terganggu.

Bagi masyarakat Dayak Wehea, enggang adalah burung yang sakral. Motifnya hadir dalam ukiran rumah adat, tenun, tarian, dan berbagai ornamen budaya. Burung ini melambangkan kebesaran, kesetiaan, keharmonisan, dan hubungan antara manusia dengan alam. Apa yang diamati Pak Ding sesungguhnya merupakan bentuk pengetahuan ekologis tradisional yang sangat mendalam. Suara enggang yang semakin sering terdengar pada akhir musim hujan menandakan bahwa hutan sedang memasuki masa subur.

Pak Ding memandang ke arah tajuk hutan yang hijau pekat. Di kejauhan terdengar suara kepakan Enggang Cula membelah udara. “Kalau enggang mulai sibuk, itu tanda hutan sedang memberi makan,” katanya pelan. “Dan kalau hutan memberi makan, manusia juga ikut hidup.”

Ucapan sederhana itu merangkum sebuah pelajaran besar. Musim kawin burung enggang adalah peristiwa biologis yang mengikuti ritme curah hujan, sinar matahari, dan musim berbuah. Pada saat yang sama, peristiwa itu menjadi simbol kesetiaan dan pengingat bahwa kehidupan manusia, satwa, dan hutan selalu terikat dalam satu siklus yang sama. Ketika enggang membesarkan anaknya, hutan Kalimantan sesungguhnya sedang memperbarui dirinya sendiri, menjaga kesinambungan kehidupan bagi pohon, hewan, dan manusia yang bergantung pada rimba tropis yang lestari.

(SiBu Bayan)