Catatan Kampus Cikabayan
Pada perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau,
Kabupaten Berau, pada akhir Maret 2022, penulis bertemu dengan Pak Ding. Sosok
dari Dusun Long Belteq ini adalah petani yang rajin dan tekun. Beliau banyak bercerita tentang keragaman hayati
di sekitar kebunnya. “Lihat itu burung enggang yang selalu berpasangan, janji
sehidup semati, selalu setia pada pasangannya,” ujarnya sambil tersenyum. “Sebentar
lagi musim hujan akan berakhir, di hutan nanti akan banyak buah,” lanjutnya.
Bagi masyarakat Dayak Wehea, kemunculan Burung Enggang bukan sekadar kehadiran seekor burung besar yang melintas di atas tajuk hutan. Di hutan-hutan Kalimantan Timur, termasuk di Berau dan Kutai Timur, jenis yang sering dijumpai antara lain Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus), dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). Bagi masyarakat setempat, kehadiran burung-burung ini adalah pertanda bahwa alam sedang memasuki fase penting dalam siklus tahunan.
Secara
klimatologis, wilayah Berau dan pedalaman Kalimantan Timur dipengaruhi oleh
pola monsunal ekuatorial. Curah hujan tinggi berlangsung hampir sepanjang
tahun, tetapi umumnya mencapai puncak pada November hingga Januari ketika angin
baratan membawa massa udara lembap dari Laut Jawa dan Samudra Hindia. Pada
periode ini, tajuk hutan selalu basah, sungai-sungai meluap, dan vegetasi
mengalami pertumbuhan aktif. Memasuki Februari hingga April, intensitas hujan
mulai menurun, jumlah hari hujan berkurang, dan periode cerah menjadi lebih
panjang. Radiasi matahari meningkat, kelembapan udara siang hari sedikit
menurun, dan fotosintesis pohon-pohon hutan berlangsung lebih intensif. Kondisi
ini memicu pembentukan dan pemasakan buah pada berbagai pohon hutan, terutama
ara (Ficus spp.), meranti (Shorea spp.), dan aneka buah liar
lainnya.
Perubahan musim ini segera direspons oleh burung enggang.
Burung-burung ini sangat peka terhadap sinyal ekologis yang muncul dari hutan.
Ketika buah mulai melimpah, pasangan enggang memasuki musim kawin yang umumnya
berlangsung antara Februari hingga Juni. Kelimpahan buah menyediakan energi,
air, vitamin, dan mineral yang diperlukan untuk pembentukan telur, pengeraman,
dan pertumbuhan anak. Cuaca yang lebih stabil juga memungkinkan pejantan
terbang lebih efisien menjelajahi hutan untuk mengantarkan makanan ke sarang.
Dengan demikian, musim kawin enggang merupakan hasil sinkronisasi yang sangat
halus antara iklim, fenologi pohon, dan fisiologi reproduksi.
Secara morfologis, burung enggang mudah dikenali dari
tubuhnya yang besar dengan panjang 70–120 cm, paruh panjang melengkung, serta
tonjolan khas di atas paruh yang disebut casque atau balung. Pada Rhinoplax
vigil, balung ini padat menyerupai gading, sedangkan pada Buceros
rhinoceros dan Rhyticeros undulatus strukturnya lebih ringan dan
berongga. Casque berfungsi sebagai resonator yang memperkuat suara sehingga
panggilannya dapat terdengar hingga beberapa kilometer. Kepakan sayapnya
menghasilkan bunyi keras yang khas, seperti helikopter kecil yang melintas di
atas kanopi hutan.
Secara fisiologis, enggang merupakan burung frugivora dengan
sistem pencernaan yang sangat efisien. Buah ditelan utuh, sedangkan biji
dikeluarkan tanpa rusak. Adaptasi ini menjadikan enggang sebagai penyebar benih
utama di hutan hujan tropis. Seekor enggang dapat mengonsumsi ratusan buah
dalam sehari dan membawa biji hingga puluhan kilometer. Oleh sebab itu, banyak
ekolog menyebutnya sebagai “petani hutan” karena membantu menanam kembali
pohon-pohon masa depan.
Fenologi reproduksi burung enggang sangat unik. Ketika musim
berbuah tiba, pasangan enggang memilih lubang pada pohon-pohon besar seperti
ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea spp.), atau kapur (Dryobalanops
spp.) yang telah berumur ratusan tahun. Betina masuk ke dalam rongga sarang,
lalu menutup hampir seluruh pintu dengan campuran lumpur, sisa buah, dan
kotoran, menyisakan celah sempit. Di dalam ruang tertutup itu, betina bertelur
satu hingga dua butir dan mengeraminya selama sekitar 30–40 hari. Setelah telur
menetas, pejantan terus memasok buah dan serangga selama dua hingga empat bulan
hingga anak cukup kuat untuk keluar dari sarang. Kesetiaan jantan yang memberi
makan pasangan dan anaknya tanpa henti menjadikan enggang simbol kasih sayang
dan tanggung jawab.
Secara ekologis, burung enggang merupakan indikator
kesehatan hutan. Mereka membutuhkan pohon-pohon tua berdiameter besar untuk
bersarang, bentang hutan luas untuk mencari makan, serta keragaman pohon buah
sebagai sumber energi. Jika enggang masih sering terlihat dan terdengar,
berarti struktur ekosistem masih utuh. Sebaliknya, hilangnya enggang menjadi
pertanda bahwa pohon-pohon besar telah berkurang dan jaringan ekologis mulai
terganggu.
Bagi masyarakat Dayak Wehea, enggang adalah burung yang
sakral. Motifnya hadir dalam ukiran rumah adat, tenun, tarian, dan berbagai
ornamen budaya. Burung ini melambangkan kebesaran, kesetiaan, keharmonisan, dan
hubungan antara manusia dengan alam. Apa yang diamati Pak Ding sesungguhnya
merupakan bentuk pengetahuan ekologis tradisional yang sangat mendalam. Suara
enggang yang semakin sering terdengar pada akhir musim hujan menandakan bahwa
hutan sedang memasuki masa subur.
Pak Ding memandang ke arah tajuk hutan yang hijau pekat. Di
kejauhan terdengar suara kepakan Enggang Cula membelah udara. “Kalau enggang
mulai sibuk, itu tanda hutan sedang memberi makan,” katanya pelan. “Dan kalau
hutan memberi makan, manusia juga ikut hidup.”
Ucapan sederhana itu merangkum sebuah pelajaran besar. Musim
kawin burung enggang adalah peristiwa biologis yang mengikuti ritme curah
hujan, sinar matahari, dan musim berbuah. Pada saat yang sama, peristiwa itu
menjadi simbol kesetiaan dan pengingat bahwa kehidupan manusia, satwa, dan
hutan selalu terikat dalam satu siklus yang sama. Ketika enggang membesarkan
anaknya, hutan Kalimantan sesungguhnya sedang memperbarui dirinya sendiri, menjaga
kesinambungan kehidupan bagi pohon, hewan, dan manusia yang bergantung pada
rimba tropis yang lestari.
(SiBu Bayan)