Siang itu, saat penulis sedang mencermati kode-kode program simulasi
atmosfer di Laboratorium Terpadu, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut
Pertanian Bogor, perhatian penulis tiba-tiba teralihkan oleh sebuah pesan
WhatsApp yang masuk. Pesan itu datang dari Mas Nanta, sahabat muda penulis yang
aktif mendampingi gerakan kedaulatan pangan. Ia mengirimkan pertanyaan
sederhana: “Mas, nemor itu ada hubungannya dengan angin timur ya?”
Bersamaan dengan pertanyaan itu, ia mengirimkan tautan lagu Nemor (Kemarau) dari grup band indie Madura, Lorjhu’ feat Rifan. Dari layar ponsel mengalun musik riang berbahasa Madura yang menggambarkan kemarau bukan sebagai ancaman, melainkan musim yang dinanti. Musiknya sederhana namun hangat, dekat dengan kehidupan pesisir dan pedesaan Madura, sekaligus menghadirkan sesuatu yang berbeda di tengah dominasi lagu populer yang kerap kehilangan akar lokalnya. Lorjhu’ menghadirkan bahasa Madura, laut, petani, garam, dan musim dalam musik modern yang jujur dan membumi, sehingga Nemor terasa seperti arsip kecil tentang hubungan manusia dengan iklim dan lingkungannya.
Lagu tersebut memperlihatkan cara masyarakat Madura memaknai
kemarau secara berbeda. Di tengah narasi modern tentang kekeringan, krisis
iklim, dan “El Niño Godzilla”, musim kering justru disambut sebagai musim
penghidupan, bukan paceklik. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap iklim
dibentuk oleh pengalaman ekologis dan budaya lokal, di mana satu musim dapat
dimaknai berbeda antarwilayah. Dalam konteks inilah tampak bentuk adaptasi
iklim masyarakat Madura yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi musim
kering.
“Nyonarah
arèh, ngamera dhari temmor” (Sinar mentari memerah dari ufuk timur).
Bait pembuka ini
menghadirkan citra khas awal musim kemarau di Madura. Dominasi Monsun Australia
yang membawa massa udara kering dari selatan menuju Indonesia. Curah hujan
mulai menurun, langit menjadi lebih cerah, dan masyarakat lokal mengenali
perubahan itu sebagai pertanda datangnya nemor.
“Senengnga
atèh, bilâ masok mosèm nemor” (Hati senang saat musim kemarau datang).
Inilah inti lagu
tersebut. Bagi sebagian masyarakat Madura, terutama di kawasan pesisir dan
lahan kering, kemarau justru membuka pintu kebahagian dan kehidupan. Perspektif
ini berbeda dengan banyak wilayah agraris lain yang identik dengan kecemasan
terhadap kekeringan.
“Terakna langè’, lebbhat ghilinah pello” (Langit yang
cerah, tampak pada peluh yang mengalir).
Langit cerah bukan sekadar gambaran cuaca, tetapi penanda
meningkatnya aktivitas kerja. Peluh menjadi simbol musim produktif, ketika
penjemuran hasil panen berjalan baik, laut lebih bersahabat, dan masyarakat
dapat bekerja lebih giat.
“Mesemma tanè, bherkat ollèna bhâkho” (Senyum para
petani, berkah hasil tembakau).
Praktik pertanian masyarakat Madura berkembang sebagai
bentuk adaptasi iklim terhadap karakter musim kering tropis. Curah hujan rendah
dan kelembapan yang stabil sangat penting bagi kualitas tembakau. Ini adalah
terapan best practice dalam agroklimatologi.
“Arosah ombhâk, nyesser dhêpâ’ ka palo” (Arus ombak
menyapu hingga ke tepian pantai).
Laut menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir.
Ombak dan angin bukan sekadar fenomena alam, melainkan penentu ritme ekonomi
dan keselamatan nelayan.
“Du’ èbâ’ ambâ’, sè senengnga sè nyolo” (Lama
menanti, nelayan bergembira menyambut musim yang datang).
Musim kemarau membawa harapan bagi masyarakat pesisir.
Pengetahuan tentang arah angin dan kondisi laut menjadi bagian penting dari
strategi adaptasi iklim masyarakat nelayan sejak lama. Pada periode angin
timur, laut di beberapa wilayah utara Jawa dan Madura cenderung lebih
bersahabat dibandingkan dengan musim barat yang identik dengan badai dan gelombang
tinggi.
“Nasè bhujâ cabbhi, akoa ghangang marongghi” (Nasi
garam dan cabai, berkuahkan sayur kelor).
Kesederhanaan makanan dalam bait ini memperlihatkan
bagaimana budaya pangan lokal berkembang sebagai bentuk adaptasi iklim di
wilayah lahan kering dengan sumber air terbatas. Hidangan sederhana itu
menyimpan cerita panjang tentang kemampuan bertahan hidup masyarakat pesisir.
“Bhujâna daddhi, epolong melle kalambhi” (Hasil panen
terkumpul, cukup membeli pakaian baru).
Kemarau menjadi musim penghidupan. Hasil laut, garam, dan
pertanian memberikan pemasukan ekonomi yang menghadirkan kebahagiaan sederhana
bagi masyarakat.
“Rebbhâna konèng, mara dhulih pas rao” (Rumput pun
menguning, potonglah untuk hewan ternak).
Bait ini menggambarkan bagaimana masyarakat pedesaan
memanfaatkan perubahan musim secara praktis. Rumput yang mulai menguning
dipotong dan disimpan sebagai pakan ternak. Kemarau tidak hanya dipahami
sebagai perubahan cuaca, tetapi juga momentum penting dalam strategi adaptasi
iklim masyarakat pedesaan.
“Jhuko’ èkenneng pamasok dhalem parao” (Ikan hasil
tangkapan, tampung dalam perahu).
Ikan menjadi
sumber ekonomi utama masyarakat pesisir. Laut dan musim bukan hanya bagian dari
lanskap alam, tetapi juga fondasi kehidupan sosial masyarakat Madura.
Keseluruhan lagu
memperlihatkan bahwa masyarakat Madura tidak hanya hidup di bawah pengaruh
iklim, tetapi juga membangun kebudayaan sebagai mekanisme adaptasi iklim yang
lahir dari pengalaman panjang membaca ritme atmosfer. Adaptasi ini diwariskan
melalui bahasa, musik, tradisi lisan, pola tanam, dan aktivitas ekonomi
pesisir. Mereka mengenali musim bukan melalui citra satelit atau model numerik,
melainkan dari arah angin, warna langit, perilaku laut, panas matahari, dan
perubahan aktivitas sehari-hari. Pengetahuan ini merupakan local ecological
knowledge yang tumbuh lintas generasi, sehingga Nemor dari Lorjhu’
feat Rifan dapat dipahami bukan sekadar lagu, melainkan arsip budaya dan
pengetahuan tentang cara masyarakat Madura memahami dan beradaptasi dengan
iklimnya.
Pengetahuan
semacam ini penting bagi pengembangan klimatologi modern. Di tengah kemajuan
model prediksi iklim berbasis komputasi dan satelit, pengetahuan ekologis lokal
dapat memperkaya interpretasi ilmiah, terutama pada skala mikro dan kehidupan
sehari-hari. Integrasi keduanya membuka peluang sistem prediksi dan adaptasi
iklim yang lebih kontekstual dan relevan bagi masyarakat. Dengan demikian,
klimatologi tidak hanya menjadi ilmu prediksi atmosfer, tetapi juga jembatan
antara sains modern dan cara-cara lokal dalam memahami serta merespons
perubahan iklim.
Mungkin itu
sebabnya pertanyaan sederhana dari Mas Nanta siang itu terasa begitu menarik
bagi penulis. Di tengah layar komputer yang penuh simulasi atmosfer dan
prediksi musim enam bulan ke depan, tiba-tiba hadir sebuah lagu rakyat yang
menjelaskan iklim dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari
masyarakat. Ia tidak berbicara dalam bahasa probabilitas, anomali suhu muka
laut, atau indeks monsun, tetapi dalam bahasa angin, laut, tanah, dan kebiasaan
hidup.
Ada lapisan
pengalaman yang tidak tertangkap oleh kurva prediksi, tetapi hidup dalam cara
masyarakat menyapa musim, mengatur kerja, membaca langit, dan merayakan
perubahan alam. Sains klimatologi modern dan pengetahuan ekologis lokal sesungguhnya
tidak saling meniadakan, melainkan saling mengingatkan bahwa iklim bukan hanya
sistem fisik, tetapi juga pengalaman hidup manusia. Di dalam makna yang mereka
bangun dari musim demi musim.
(SiBu Bayan)