Sabtu, 23 Mei 2026

Nemor: Saat Kemarau Datang Membawa Kegembiraan

Catatan Kampus Cikabayan:

Siang itu, saat penulis sedang mencermati kode-kode program simulasi atmosfer di Laboratorium Terpadu, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor, perhatian penulis tiba-tiba teralihkan oleh sebuah pesan WhatsApp yang masuk. Pesan itu datang dari Mas Nanta, sahabat muda penulis yang aktif mendampingi gerakan kedaulatan pangan. Ia mengirimkan pertanyaan sederhana: “Mas, nemor itu ada hubungannya dengan angin timur ya?”

Bersamaan dengan pertanyaan itu, ia mengirimkan tautan lagu Nemor (Kemarau) dari grup band indie Madura, Lorjhu’ feat Rifan. Dari layar ponsel mengalun musik riang berbahasa Madura yang menggambarkan kemarau bukan sebagai ancaman, melainkan musim yang dinanti. Musiknya sederhana namun hangat, dekat dengan kehidupan pesisir dan pedesaan Madura, sekaligus menghadirkan sesuatu yang berbeda di tengah dominasi lagu populer yang kerap kehilangan akar lokalnya. Lorjhu’ menghadirkan bahasa Madura, laut, petani, garam, dan musim dalam musik modern yang jujur dan membumi, sehingga Nemor terasa seperti arsip kecil tentang hubungan manusia dengan iklim dan lingkungannya.

Lagu tersebut memperlihatkan cara masyarakat Madura memaknai kemarau secara berbeda. Di tengah narasi modern tentang kekeringan, krisis iklim, dan “El Niño Godzilla”, musim kering justru disambut sebagai musim penghidupan, bukan paceklik. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap iklim dibentuk oleh pengalaman ekologis dan budaya lokal, di mana satu musim dapat dimaknai berbeda antarwilayah. Dalam konteks inilah tampak bentuk adaptasi iklim masyarakat Madura yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi musim kering.

“Nyonarah arèh, ngamera dhari temmor” (Sinar mentari memerah dari ufuk timur).

Bait pembuka ini menghadirkan citra khas awal musim kemarau di Madura. Dominasi Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari selatan menuju Indonesia. Curah hujan mulai menurun, langit menjadi lebih cerah, dan masyarakat lokal mengenali perubahan itu sebagai pertanda datangnya nemor.

“Senengnga atèh, bilâ masok mosèm nemor” (Hati senang saat musim kemarau datang).

Inilah inti lagu tersebut. Bagi sebagian masyarakat Madura, terutama di kawasan pesisir dan lahan kering, kemarau justru membuka pintu kebahagian dan kehidupan. Perspektif ini berbeda dengan banyak wilayah agraris lain yang identik dengan kecemasan terhadap kekeringan.

“Terakna langè’, lebbhat ghilinah pello” (Langit yang cerah, tampak pada peluh yang mengalir).

Langit cerah bukan sekadar gambaran cuaca, tetapi penanda meningkatnya aktivitas kerja. Peluh menjadi simbol musim produktif, ketika penjemuran hasil panen berjalan baik, laut lebih bersahabat, dan masyarakat dapat bekerja lebih giat.

“Mesemma tanè, bherkat ollèna bhâkho” (Senyum para petani, berkah hasil tembakau).

Praktik pertanian masyarakat Madura berkembang sebagai bentuk adaptasi iklim terhadap karakter musim kering tropis. Curah hujan rendah dan kelembapan yang stabil sangat penting bagi kualitas tembakau. Ini adalah terapan best practice dalam agroklimatologi.

“Arosah ombhâk, nyesser dhêpâ’ ka palo” (Arus ombak menyapu hingga ke tepian pantai).

Laut menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir. Ombak dan angin bukan sekadar fenomena alam, melainkan penentu ritme ekonomi dan keselamatan nelayan.

“Du’ èbâ’ ambâ’, sè senengnga sè nyolo” (Lama menanti, nelayan bergembira menyambut musim yang datang).

Musim kemarau membawa harapan bagi masyarakat pesisir. Pengetahuan tentang arah angin dan kondisi laut menjadi bagian penting dari strategi adaptasi iklim masyarakat nelayan sejak lama. Pada periode angin timur, laut di beberapa wilayah utara Jawa dan Madura cenderung lebih bersahabat dibandingkan dengan musim barat yang identik dengan badai dan gelombang tinggi.

“Nasè bhujâ cabbhi, akoa ghangang marongghi” (Nasi garam dan cabai, berkuahkan sayur kelor).

Kesederhanaan makanan dalam bait ini memperlihatkan bagaimana budaya pangan lokal berkembang sebagai bentuk adaptasi iklim di wilayah lahan kering dengan sumber air terbatas. Hidangan sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang kemampuan bertahan hidup masyarakat pesisir.

“Bhujâna daddhi, epolong melle kalambhi” (Hasil panen terkumpul, cukup membeli pakaian baru).

Kemarau menjadi musim penghidupan. Hasil laut, garam, dan pertanian memberikan pemasukan ekonomi yang menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi masyarakat.

“Rebbhâna konèng, mara dhulih pas rao” (Rumput pun menguning, potonglah untuk hewan ternak).

Bait ini menggambarkan bagaimana masyarakat pedesaan memanfaatkan perubahan musim secara praktis. Rumput yang mulai menguning dipotong dan disimpan sebagai pakan ternak. Kemarau tidak hanya dipahami sebagai perubahan cuaca, tetapi juga momentum penting dalam strategi adaptasi iklim masyarakat pedesaan.

“Jhuko’ èkenneng pamasok dhalem parao” (Ikan hasil tangkapan, tampung dalam perahu).

Ikan menjadi sumber ekonomi utama masyarakat pesisir. Laut dan musim bukan hanya bagian dari lanskap alam, tetapi juga fondasi kehidupan sosial masyarakat Madura.

Keseluruhan lagu memperlihatkan bahwa masyarakat Madura tidak hanya hidup di bawah pengaruh iklim, tetapi juga membangun kebudayaan sebagai mekanisme adaptasi iklim yang lahir dari pengalaman panjang membaca ritme atmosfer. Adaptasi ini diwariskan melalui bahasa, musik, tradisi lisan, pola tanam, dan aktivitas ekonomi pesisir. Mereka mengenali musim bukan melalui citra satelit atau model numerik, melainkan dari arah angin, warna langit, perilaku laut, panas matahari, dan perubahan aktivitas sehari-hari. Pengetahuan ini merupakan local ecological knowledge yang tumbuh lintas generasi, sehingga Nemor dari Lorjhu’ feat Rifan dapat dipahami bukan sekadar lagu, melainkan arsip budaya dan pengetahuan tentang cara masyarakat Madura memahami dan beradaptasi dengan iklimnya.

Pengetahuan semacam ini penting bagi pengembangan klimatologi modern. Di tengah kemajuan model prediksi iklim berbasis komputasi dan satelit, pengetahuan ekologis lokal dapat memperkaya interpretasi ilmiah, terutama pada skala mikro dan kehidupan sehari-hari. Integrasi keduanya membuka peluang sistem prediksi dan adaptasi iklim yang lebih kontekstual dan relevan bagi masyarakat. Dengan demikian, klimatologi tidak hanya menjadi ilmu prediksi atmosfer, tetapi juga jembatan antara sains modern dan cara-cara lokal dalam memahami serta merespons perubahan iklim.

Mungkin itu sebabnya pertanyaan sederhana dari Mas Nanta siang itu terasa begitu menarik bagi penulis. Di tengah layar komputer yang penuh simulasi atmosfer dan prediksi musim enam bulan ke depan, tiba-tiba hadir sebuah lagu rakyat yang menjelaskan iklim dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia tidak berbicara dalam bahasa probabilitas, anomali suhu muka laut, atau indeks monsun, tetapi dalam bahasa angin, laut, tanah, dan kebiasaan hidup.

Ada lapisan pengalaman yang tidak tertangkap oleh kurva prediksi, tetapi hidup dalam cara masyarakat menyapa musim, mengatur kerja, membaca langit, dan merayakan perubahan alam. Sains klimatologi modern dan pengetahuan ekologis lokal sesungguhnya tidak saling meniadakan, melainkan saling mengingatkan bahwa iklim bukan hanya sistem fisik, tetapi juga pengalaman hidup manusia. Di dalam makna yang mereka bangun dari musim demi musim.

Datangnya kemarau memang dapat membawa kegembiraan.
“Senengnga atèh, bilâ masok mosèm nemor.”

(SiBu Bayan)