Catatan Kampus Cikabayan
Keluar dari gerbang Tol Cikedung
pada awal Agustus 2022, penulis seperti memasuki ruang musim yang berbeda.
Angin panas langsung menerpa wajah begitu pintu mobil terbuka. Langit tampak
pucat kebiruan tanpa awan, sementara hamparan tanah di kiri-kanan jalan
terlihat kusam, retak, dan berdebu. Pepohonan berdiri lunglai diterpa hembusan
angin kering yang datang berulang-ulang, membawa bau jerami tua, tanah panas,
dan sisa musim yang perlahan mengering.
Perjalanan siang itu menuju Kampung Darim, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, untuk bersilaturahmi dengan masyarakat sekaligus menengok mahasiswa-mahasiswa IPB yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut. Namun sepanjang perjalanan, perhatian penulis tertuju pada lanskap kemarau yang terasa begitu ganjil. Debu beterbangan melintasi jalan desa setiap kali sepeda motor lewat. Daun-daun tampak menggulung kelelahan. Udara panas seolah tidak hanya datang dari matahari di atas kepala, tetapi juga memancar dari tanah dan dinding rumah yang seolah menyimpan bara siang.
“Ini lagi angin Kumbang,” ujar Kang Dul pelan, salah satu tokoh Kampung
Darim yang siang itu menemani penulis berkeliling desa. Kalimat sederhana itu
menyimpan pengetahuan panjang masyarakat Pantura. Angin Kumbang bukan sekadar
hembusan angin musim, melainkan penanda datangnya kemarau keras di wilayah
Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Orang-orang tua
dahulu percaya angin ini membawa penyakit, kebakaran, dan gagal panen.
Dalam arsip koran Hindia Belanda Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië tahun 1911 bahkan tertulis: “Daarna brengt de
Oostmoesson dikwijls den geweldigen ‘koembang’-wind mede…” (“Kemudian
muson Timur sering kali membawa serta angin ‘koembang’ yang dahsyat.”)
Catatan itu muncul ketika wilayah
Cirebon dilanda udara panas pada musim kemarau. Angin Kumbang digambarkan
menyebabkan bibir pecah, tubuh lemas, tanaman mengering, dan api yang mudah
menjalar di lereng Gunung Ciremai. Bahkan lebih dari seabad lalu, masyarakat
Pantura sudah memahami bahwa ada hubungan erat antara angin panas, kesehatan
tubuh, dan ketahanan pangan.
Fenomena ini umumnya muncul pada
Juli hingga September, terutama Agustus sampai pertengahan September ketika
Monsun Australia mendominasi Pulau Jawa. Pada periode ini langit Pantura
biasanya sangat cerah, curah hujan turun drastis, dan kelembapan udara menjadi
sangat rendah. Dalam penanggalan musim tradisional Jawa, periode tersebut
kira-kira bertepatan dengan mangsa katiga hingga kapat, masa ketika kemarau
mencapai fase paling keras.
Angin kumbang dalam terminologi
meteorologi dapat dipahami sebagai local föhn wind atau angin jatuh
panas-kering akibat efek bayangan hujan (rain shadow effect) di sekitar
Gunung Ciremai. Fenomena ini
berkaitan dengan interaksi antara Monsun Australia dan topografi pegunungan di
Jawa Barat bagian timur.
Pada musim kemarau, massa udara kering dari tenggara bergerak menuju Pulau
Jawa. Ketika udara bertemu dengan Gunung Ciremai, udara dipaksa naik melalui
proses orographic lifting. Saat naik, udara mengalami pendinginan
adiabatik sehingga sebagian kandungan uap airnya mengembun menjadi awan atau
hujan di sisi pegunungan tertentu. Namun, setelah melewati puncak gunung, udara
yang telah kehilangan sebagian kelembapannya turun menuju dataran rendah
Pantura. Dalam proses turun itu, udara mengalami kompresi atau adiabatic
compression, sehingga suhu meningkat dengan cepat. Fenomena ini dikenal
sebagai downslope warming. Akibatnya, wilayah seperti Cirebon,
Indramayu, dan Majalengka menerima hembusan udara yang jauh lebih panas dan
kering dibandingkan dengan udara asalnya.
Dampaknya terasa nyata di lapangan. Kelembapan udara dapat turun drastis
sehingga evaporasi tanah meningkat. Sawah lebih cepat kehilangan air, daun
tanaman menggulung karena stres kekeringan, dan tubuh manusia lebih mudah
mengalami dehidrasi. Dalam kondisi tertentu, angin yang kencang juga
mempercepat meluasnya kebakaran lahan dan hutan.
Catatan-catatan terbaru menunjukkan bahwa dampak angin Kumbang masih terus
dirasakan hingga hari ini, bahkan dalam beberapa kasus tampak semakin ekstrem.
Pada musim kemarau panjang 2023, misalnya, udara panas dan angin kering
mempercepat kebakaran di sekitar Gunung Ciremai dan wilayah Pantura. Api kecil
yang awalnya mudah dikendalikan berubah cepat menjadi kebakaran besar karena
vegetasi sangat kering dan angin terus menyuplai oksigen ke titik api.
Di sektor pertanian, petani mulai merasakan perubahan pola kemarau yang
semakin berat. Tanah lebih cepat retak, saluran irigasi kecil mengering lebih
awal, dan tanaman menjadi lebih rentan terhadap serangan hama serta penyakit
akibat stres air. Pada saat yang sama, debu meningkat di desa-desa Pantura dan
memperburuk kualitas udara, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan
terhadap gangguan pernapasan.
Namun, masyarakat Pantura sesungguhnya telah lama membangun cara beradaptasi dengan angin kumbang. Petani-petani telah berusaha mengatur kalender tanam agar
fase penting pertumbuhan padi tidak bertepatan dengan puncak angin panas pada
Agustus–September. Sebagian memilih varietas genjah atau beralih
sementara ke palawija yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Adaptasi juga hadir dalam bentuk
lanskap desa. Pohon asem, trembesi, kapuk randu dan mangga dahulu dipelihara
sebagai penahan angin dan penjaga kelembapan. Embung kecil, sumur dangkal,
serta saluran air tradisional menjadi cadangan kehidupan saat kemarau
memanjang. Orang-orang tua juga terbiasa mengurangi aktivitas berat pada tengah
hari dan mengenali pertanda datangnya angin kumbang dari langit yang sangat
cerah dan udara pagi yang terasa lebih kering. Dalam istilah saat ini, semua
itu merupakan bentuk local climate knowledge, pengetahuan iklim lokal
yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat membaca musim.
Masyarakat lama bahkan memberi dimensi mitologis pada angin ini. Sebagian
percaya angin Kumbang adalah “napas panas” Gunung Ciremai ketika hutan rusak
dan mata air mulai hilang. Ada pula yang menyebutnya sebagai pertanda paceklik
dan musim penyakit. Dalam cerita lisan tertentu, angin ini digambarkan sebagai
makhluk tak terlihat yang datang sambil membawa hawa panas dan debu. Mitos itu
memiliki jejak ekologis yang masuk akal. Ketika hutan menyusut dan sumber air
berkurang, permukaan tanah menjadi lebih panas dan kelembapan menurun. Dalam
kondisi seperti itu, sensasi kemarau ekstrem memang menjadi semakin kuat.
Kini, lebih dari seabad setelah
dicatat dalam koran kolonial, angin Kumbang masih datang menyapu tanah Pantura.
Namun dunia tempat ia bertiup telah berubah. Hutan berkurang, sawah
terfragmentasi, suhu meningkat, dan musim semakin sulit ditebak. Dalam situasi
perubahan iklim hari ini, angin Kumbang bukan lagi sekadar cerita cuaca lokal,
melainkan pengingat bahwa hubungan antara manusia, iklim, pertanian, dan
kesehatan sedang berada pada titik yang rapuh.
Mungkin karena itulah masyarakat
lama memberi nama khusus pada angin ini. Sebab bagi mereka, angin bukan sekadar
pergerakan udara. Ia adalah penanda musim, pembawa kabar zaman, sekaligus
pengingat bahwa kehidupan manusia di tanah Pantura selalu bergantung pada
keseimbangan alam.
(SiBu Bayan)