Kamis, 28 Mei 2026

Sains Partisipatif di Antara Dinamika Tata Kelola Iklim dan Cuaca

Catatan Kampus Cikabayan


Beberapa tahun terakhir ini, cuaca dan iklim di Indonesia semakin ramai dibicarakan. Lembaga resmi negara mengumumkan prakiraan musim. Peneliti dari lembaga riset dan inovasi terkemuka di negara ini menjelaskan potensi bencana hidrometeorologi. Media sosial dipenuhi istilah-istilah atmosfer yang dahulu hanya dikenal di ruang seminar, El Niño, IOD, MJO, hingga cuaca ekstrem. Sementara itu, di banyak desa, mulai muncul inisiatif AWS komunitas dan gerakan sains partisipatif. Mereka mulai memasang sensor hujan dan cuaca mandiri di tepi sawah, lereng perbukitan, hingga halaman rumah warga.

Di tengah arus informasi itu, penulis teringat pada satu istilah yang sedang ramai memenuhi media, El Niño Godzilla. Sebuah diksi yang terdengar seperti judul film monster, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat dan berpotensi memicu kekeringan panjang di Indonesia. Istilah itu cepat menyebar ke grup WhatsApp petani, media daring, hingga percakapan warung kopi desa. Sebagian orang panik, sebagian lain menganggapnya berlebihan. Tidak sedikit pula yang bingung. Apakah itu informasi resmi negara, hasil riset ilmiah, atau sekadar dramatisasi media?

Sejak saat itu penulis mulai merasa bahwa persoalan cuaca dan iklim di Indonesia ternyata tidak lagi sekadar soal atmosfer. Ia juga menyangkut otoritas, bahasa, dan cara pengetahuan disampaikan kepada publik.

Di negeri tropis seperti Indonesia, cuaca dan iklim memang bukan urusan sederhana. Ia menentukan waktu tanam, irigasi, kesiapan waduk dan embung, arah angin bagi nelayan, bencana hidrometeorologi, hingga ledakan populasi hama dan penyakit di lahan pertanian. Karena itu, negara membangun sistem pengamatan atmosfer, prakiraan musim, dan peringatan dini yang terpusat. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahkan menempatkan negara sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan layanan meteorologi dan klimatologi nasional.

Dalam konteks keselamatan publik, pendekatan seperti itu tentu sangat penting. Penerbangan, pelayaran, dan mitigasi bencana membutuhkan satu rujukan resmi yang dapat dipercaya. Namun, persoalan terbesar layanan iklim di Indonesia bukan hanya terletak pada akurasi prakiraan, melainkan pada cara pengetahuan itu diterjemahkan kepada masyarakat. Setidaknya ini menurut penulis.

Bahasa-bahasa tentang atmosfer sering kali masih terlalu tinggi menggantung di langit birokrasi, teknokrat dan akademik. Istilah seperti anomali curah hujan, probabilitas ENSO, atau indeks IOD mungkin mudah dipahami di ruang seminar dan diskusi ilmiah, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi keputusan sehari-hari di tingkat desa. Petani sebenarnya tidak terlalu membutuhkan istilah teknis. Mereka ingin tahu kapan sebaiknya mulai menanam, apakah embung cukup bertahan hingga akhir kemarau, atau apakah serangan wereng berpotensi meningkat.

Perkembangan sistem pengamatan atmosfer di Indonesia sebenarnya sudah sangat maju. Namun, di tengah kompleksitas perubahan iklim saat ini, tantangan berikutnya tampaknya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan data atmosfer yang akurat, melainkan bagaimana informasi cuaca dan iklim dapat semakin mudah diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Sebab bagi sebagian warga desa, informasi cuaca sering masih terasa sebagai istilah-istilah teknis yang menggantung jauh di atas langit, belum sepenuhnya hadir sebagai panduan praktis yang mudah dipahami dalam mengambil keputusan sehari-hari.

Di sisi lain, peneliti dari lembaga riset dan inovasi negara juga semakin aktif hadir dalam ruang komunikasi publik tentang iklim. Muncul kecenderungan penggunaan diksi-diksi dramatis agar informasi iklim lebih cepat menarik perhatian masyarakat luas. Istilah seperti El Niño Godzilla memang mudah viral, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana komunikasi sains perlahan bergerak mengikuti irama media yang menuntut sesuatu yang cepat menarik perhatian publik. Komunikasi sains akhirnya tidak lagi sekadar menyampaikan hasil kajian ilmiah, tetapi perlahan ikut memasuki ruang komunikasi publik yang selama ini melekat pada peran lembaga resmi pengamat cuaca dan iklim. Dalam situasi seperti itu, batas antara riset ilmiah, opini akademik, dan informasi operasional resmi kadang menjadi semakin kabur. Publik tidak selalu mudah membedakan mana analisis akademik, mana interpretasi ilmiah, dan mana informasi operasional yang memang ditujukan sebagai rujukan resmi kebencanaan dan keselamatan publik.

Fenomena atmosfer yang sesungguhnya kompleks akhirnya dipadatkan menjadi istilah-istilah bombastis yang mudah dijadikan judul berita. Penjelasan ilmiah yang hati-hati sering kalah oleh kebutuhan untuk tampil menarik di ruang publik. Padahal di balik istilah sensasional itu, ada masyarakat yang menerima informasi tersebut bukan sebagai diskursus akademik, melainkan sebagai kecemasan sehari-hari.

Penulis membayangkan seorang petani kecil yang membaca kata Godzilla di layar telepon genggamnya. Mungkin ia tidak memahami dinamika suhu muka laut Pasifik ekuatorial. Namun, kata itu cukup untuk menghadirkan bayangan tentang sesuatu yang besar, menakutkan, dan sulit dikendalikan.

Sains atmosfer modern tampaknya mulai menghadapi persoalan baru. Bukan hanya bagaimana memahami iklim dan cuaca, tetapi juga bagaimana menjelaskannya kepada masyarakat tanpa jatuh pada dramatisasi ataupun birokratisasi berlebihan.

Sementara itu, masyarakat mulai membangun cara mereka sendiri dalam membaca musim. Inisiatif AWS komunitas dan pendekatan sains partisipatif perlahan menghadirkan bentuk baru pengamatan atmosfer yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sensor hujan kecil dipasang di tepi sawah. Data suhu dan kelembapan mulai dihubungkan dengan penyakit tanaman, kebutuhan air, hingga risiko kekeringan. Petani mulai belajar membaca grafik cuaca melalui layar telepon genggam. Pengetahuan tentang atmosfer perlahan tidak lagi hidup sepenuhnya di ruang-ruang birokrasi, teknokrat dan akademisi. Tetapi juga tumbuh sebagai pengalaman kolektif masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Tentu saja pendekatan partisipatif seperti ini bukan tanpa kelemahan. Sensor yang digunakan sering tidak terkalibrasi dengan baik. Data bisa bias dan tidak kontinu. Namun, justru di situlah tantangan baru klimatologi Indonesia. Bagaimana membangun ekosistem pengetahuan yang terbuka tanpa kehilangan standar ilmiah?

Barangkali masa depan iklim dan cuaca di Indonesia memang bukan lagi tentang siapa yang paling berhak berbicara tentang cuaca. Negara tetap penting sebagai penjaga standar observasi dan keselamatan publik. Komunitas ilmiah tetap penting untuk memahami dinamika atmosfer global. Tetapi masyarakat juga semakin penting sebagai pengamat yang hidup langsung di bawah naungan langit yang sama.

Pada akhirnya, hujan tidak hanya turun di halaman kantor lembaga negara atau stasiun cuaca resmi. Ia juga jatuh di atap rumah petani kecil, di lereng-lereng pegunungan, dan di sawah yang menggantungkan hidupnya pada musim. Di tengah dinamika iklim yang semakin sulit ditebak, tantangan terbesar kita bukan sekadar memprediksi hujan, melainkan menjaga agar pengetahuan tentang iklim dan cuaca tetap jernih, rendah hati, dan benar-benar berguna bagi kehidupan sehari-hari.

(SiBu Bayan)