Catatan Kampus Cikabayan
Di tengah arus informasi itu, penulis teringat pada satu istilah yang sedang ramai memenuhi media, El Niño Godzilla. Sebuah diksi yang terdengar seperti judul film monster, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat dan berpotensi memicu kekeringan panjang di Indonesia. Istilah itu cepat menyebar ke grup WhatsApp petani, media daring, hingga percakapan warung kopi desa. Sebagian orang panik, sebagian lain menganggapnya berlebihan. Tidak sedikit pula yang bingung. Apakah itu informasi resmi negara, hasil riset ilmiah, atau sekadar dramatisasi media?
Sejak saat itu penulis mulai merasa bahwa persoalan cuaca
dan iklim di Indonesia ternyata tidak lagi sekadar soal atmosfer. Ia juga
menyangkut otoritas, bahasa, dan cara pengetahuan disampaikan kepada publik.
Di negeri tropis seperti Indonesia, cuaca dan iklim memang
bukan urusan sederhana. Ia menentukan waktu tanam, irigasi, kesiapan waduk dan
embung, arah angin bagi nelayan, bencana hidrometeorologi, hingga ledakan
populasi hama dan penyakit di lahan pertanian. Karena itu, negara membangun
sistem pengamatan atmosfer, prakiraan musim, dan peringatan dini yang terpusat.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika bahkan menempatkan negara sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan
layanan meteorologi dan klimatologi nasional.
Dalam konteks keselamatan publik, pendekatan seperti itu
tentu sangat penting. Penerbangan, pelayaran, dan mitigasi bencana membutuhkan
satu rujukan resmi yang dapat dipercaya. Namun, persoalan terbesar layanan
iklim di Indonesia bukan hanya terletak pada akurasi prakiraan, melainkan pada
cara pengetahuan itu diterjemahkan kepada masyarakat. Setidaknya ini menurut
penulis.
Bahasa-bahasa tentang atmosfer sering kali masih terlalu
tinggi menggantung di langit birokrasi, teknokrat dan akademik. Istilah seperti
anomali curah hujan, probabilitas ENSO, atau indeks IOD mungkin mudah dipahami
di ruang seminar dan diskusi ilmiah, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan
menjadi keputusan sehari-hari di tingkat desa. Petani sebenarnya tidak terlalu
membutuhkan istilah teknis. Mereka ingin tahu kapan sebaiknya mulai menanam,
apakah embung cukup bertahan hingga akhir kemarau, atau apakah serangan wereng
berpotensi meningkat.
Perkembangan sistem pengamatan atmosfer di Indonesia
sebenarnya sudah sangat maju. Namun, di tengah kompleksitas perubahan iklim saat
ini, tantangan berikutnya tampaknya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan
data atmosfer yang akurat, melainkan bagaimana informasi cuaca dan iklim dapat
semakin mudah diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dekat dengan pengalaman
sehari-hari masyarakat. Sebab bagi sebagian warga desa, informasi cuaca sering
masih terasa sebagai istilah-istilah teknis yang menggantung jauh di atas
langit, belum sepenuhnya hadir sebagai panduan praktis yang mudah dipahami
dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Di sisi lain, peneliti dari lembaga riset dan inovasi
negara juga semakin aktif hadir dalam ruang komunikasi publik tentang iklim. Muncul
kecenderungan penggunaan diksi-diksi dramatis agar informasi iklim lebih cepat
menarik perhatian masyarakat luas. Istilah seperti El Niño Godzilla
memang mudah viral, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana komunikasi sains
perlahan bergerak mengikuti irama media yang menuntut sesuatu yang cepat
menarik perhatian publik. Komunikasi sains akhirnya tidak lagi sekadar
menyampaikan hasil kajian ilmiah, tetapi perlahan ikut memasuki ruang
komunikasi publik yang selama ini melekat pada peran lembaga resmi pengamat
cuaca dan iklim. Dalam situasi seperti itu, batas antara riset ilmiah, opini
akademik, dan informasi operasional resmi kadang menjadi semakin kabur. Publik tidak selalu mudah membedakan mana analisis akademik, mana interpretasi
ilmiah, dan mana informasi operasional yang memang ditujukan sebagai rujukan
resmi kebencanaan dan keselamatan publik.
Fenomena atmosfer yang sesungguhnya kompleks akhirnya
dipadatkan menjadi istilah-istilah bombastis yang mudah dijadikan judul berita.
Penjelasan ilmiah yang hati-hati sering kalah oleh kebutuhan untuk tampil menarik di
ruang publik. Padahal di balik istilah sensasional itu, ada masyarakat yang
menerima informasi tersebut bukan sebagai diskursus akademik, melainkan sebagai
kecemasan sehari-hari.
Penulis membayangkan seorang petani kecil yang membaca
kata Godzilla di layar telepon genggamnya. Mungkin ia tidak memahami
dinamika suhu muka laut Pasifik ekuatorial. Namun, kata itu cukup untuk
menghadirkan bayangan tentang sesuatu yang besar, menakutkan, dan sulit
dikendalikan.
Sains atmosfer modern tampaknya mulai menghadapi
persoalan baru. Bukan hanya bagaimana memahami iklim dan cuaca, tetapi juga
bagaimana menjelaskannya kepada masyarakat tanpa jatuh pada dramatisasi ataupun
birokratisasi berlebihan.
Sementara itu, masyarakat mulai membangun cara mereka
sendiri dalam membaca musim. Inisiatif AWS komunitas dan pendekatan sains
partisipatif perlahan menghadirkan bentuk baru pengamatan atmosfer yang lebih
dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sensor hujan kecil dipasang di tepi sawah.
Data suhu dan kelembapan mulai dihubungkan dengan penyakit tanaman, kebutuhan
air, hingga risiko kekeringan. Petani mulai belajar membaca grafik cuaca
melalui layar telepon genggam. Pengetahuan tentang atmosfer perlahan tidak lagi
hidup sepenuhnya di ruang-ruang birokrasi, teknokrat dan akademisi. Tetapi juga tumbuh
sebagai pengalaman kolektif masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Tentu saja pendekatan partisipatif seperti ini bukan
tanpa kelemahan. Sensor yang digunakan sering tidak terkalibrasi dengan baik.
Data bisa bias dan tidak kontinu. Namun, justru di situlah tantangan baru
klimatologi Indonesia. Bagaimana
membangun ekosistem pengetahuan yang terbuka tanpa kehilangan standar ilmiah?
Barangkali masa depan iklim dan cuaca di Indonesia memang
bukan lagi tentang siapa yang paling berhak berbicara tentang cuaca. Negara
tetap penting sebagai penjaga standar observasi dan keselamatan publik.
Komunitas ilmiah tetap penting untuk memahami dinamika atmosfer global. Tetapi
masyarakat juga semakin penting sebagai pengamat yang hidup langsung di bawah naungan
langit yang sama.
Pada akhirnya, hujan tidak hanya turun di halaman kantor
lembaga negara atau stasiun cuaca resmi. Ia juga jatuh di atap rumah petani
kecil, di lereng-lereng pegunungan, dan di sawah yang menggantungkan hidupnya
pada musim. Di tengah dinamika iklim yang semakin sulit ditebak, tantangan
terbesar kita bukan sekadar memprediksi hujan, melainkan menjaga agar
pengetahuan tentang iklim dan cuaca tetap jernih, rendah hati, dan benar-benar
berguna bagi kehidupan sehari-hari.
(SiBu Bayan)