Rabu, 20 Mei 2026

Gangsir: Si Tukang Gali Pengkabar Hujan

 Catatan Kampus Cikabayan


Saat libur Lebaran Maret 2026 di Kepanjen, Malang, ingatan penulis melayang ke masa kecil di kebun jagung di depan rumah. Sebelum tanah digemburkan oleh bapak dengan cangkulnya, sesungguhnya telah ada makhluk kecil yang bekerja lebih dahulu. Di permukaan tanah tampak gundukan-gundukan mungil berbentuk kerucut, melebar di bagian bawah, menyerupai gunung-gunung mini. Jejak itu ditinggalkan oleh seekor serangga yang akrab dikenal masyarakat desa sebagai gangsir.

Bagi anak-anak kampung pada masa itu, gangsir bukan sekadar penghuni tanah. Ia adalah buruan yang mengasyikkan. Dengan tangan kecil dan sepotong kayu, kami membongkar liang-liangnya, menangkapnya, lalu memanggangnya sebagai santapan tambahan yang gurih dan kaya protein. Di balik kenangan sederhana itu, tersembunyi pelajaran yang baru penulis pahami bertahun-tahun kemudian: sebelum manusia mencangkul tanah, telah ada makhluk-makhluk kecil yang bekerja diam-diam menjaga kehidupan di dalamnya.

Gangsir (Brachytrupes portentosus) adalah sejenis jangkrik tanah berukuran besar yang banyak dijumpai di lahan kering, pematang, dan kebun jagung. Tubuhnya kokoh, berwarna cokelat menyerupai warna tanah, dengan kaki depan yang kuat untuk menggali liang. Pada siang hari ia bersembunyi di bawah permukaan tanah, sedangkan pada malam hari suaranya terdengar nyaring dari berbagai sudut kebun, seolah menjadi musik latar kehidupan pedesaan.

Secara ekologis, gangsir adalah insinyur tanah alami. Liang-liang yang dibuatnya membantu menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi, dan memudahkan air hujan meresap ke dalam bumi. Gundukan kecil di mulut liangnya merupakan hasil kerja yang terus-menerus, butir demi butir tanah diangkat dari kedalaman dan ditumpuk di permukaan. Apa yang bagi anak-anak tampak sebagai “gunung mini” sesungguhnya adalah jejak aktivitas yang turut memperbaiki struktur tanah.

Sebagai penghuni liang, gangsir sangat peka terhadap perubahan kelembapan tanah. Ketika hujan-hujan pertama turun dan tanah mulai lunak, aktivitasnya meningkat. Jantan lebih sering mengeluarkan bunyi untuk memanggil pasangan dan suara itu terdengar semakin ramai pada malam hari. Tidak mengherankan jika di banyak desa, kemunculan suara gangsir menjadi pertanda bahwa musim hujan telah benar-benar datang dan waktu tanam segera dimulai.

Dalam hubungan dengan pertanian, gangsir menempati posisi yang ambigu. Di satu sisi, ia dapat memakan benih dan kecambah jagung sehingga menyebabkan beberapa lubang tanam kosong. Di sisi lain, ia juga membantu mendekomposisi bahan organik, menggemburkan tanah, dan menjadi sumber makanan bagi burung, katak, kadal, serta berbagai predator lain. Ia bukan sekadar hama, melainkan bagian dari jaring kehidupan yang lebih luas.

Pandangan ini penting di tengah kecenderungan pertanian modern yang sering membagi organisme secara hitam-putih: mana yang dianggap berguna dan mana yang harus dimusnahkan. Alam sesungguhnya bekerja dengan logika yang lebih rumit. Seekor serangga yang kadang merusak benih juga dapat menjalankan fungsi ekologis yang menopang kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem.

Dari gangsir, kita belajar bahwa tanah bukanlah benda mati yang pasif menunggu untuk diolah manusia. Di bawah permukaannya, berlangsung kehidupan yang sibuk dan teratur. Ada liang-liang kecil, butiran tanah yang dipindahkan, akar yang tumbuh, mikroorganisme yang bekerja, dan serangga-serangga yang mengikuti irama hujan dan musim.

Kenangan tentang gangsir terasa begitu membekas. Ia mengajarkan bahwa sebelum bapak mengayunkan cangkul, sebelum benih jagung dimasukkan ke dalam lubang tanam, telah ada tukang gali kecil yang lebih dahulu mempersiapkan bumi. Dan ketika malam tiba dengan suara nyaring dari balik gundukan tanah, ia seolah menyampaikan pesan lama yang telah dipahami para petani sejak dahulu: hujan telah dekat, tanah telah siap, dan kehidupan akan segera dimulai kembali.

(SiBu Bayan)