Catatan Kampus Cikabayan
Bagi anak-anak kampung pada masa itu, gangsir bukan sekadar penghuni tanah. Ia adalah buruan yang mengasyikkan. Dengan tangan kecil dan sepotong kayu, kami membongkar liang-liangnya, menangkapnya, lalu memanggangnya sebagai santapan tambahan yang gurih dan kaya protein. Di balik kenangan sederhana itu, tersembunyi pelajaran yang baru penulis pahami bertahun-tahun kemudian: sebelum manusia mencangkul tanah, telah ada makhluk-makhluk kecil yang bekerja diam-diam menjaga kehidupan di dalamnya.
Gangsir (Brachytrupes
portentosus) adalah sejenis jangkrik tanah berukuran besar yang banyak
dijumpai di lahan kering, pematang, dan kebun jagung. Tubuhnya kokoh, berwarna
cokelat menyerupai warna tanah, dengan kaki depan yang kuat untuk menggali
liang. Pada siang hari ia bersembunyi di bawah permukaan tanah, sedangkan pada
malam hari suaranya terdengar nyaring dari berbagai sudut kebun, seolah menjadi
musik latar kehidupan pedesaan.
Secara ekologis, gangsir adalah insinyur tanah alami.
Liang-liang yang dibuatnya membantu menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi,
dan memudahkan air hujan meresap ke dalam bumi. Gundukan kecil di mulut
liangnya merupakan hasil kerja yang terus-menerus, butir demi butir tanah
diangkat dari kedalaman dan ditumpuk di permukaan. Apa yang bagi anak-anak
tampak sebagai “gunung mini” sesungguhnya adalah jejak aktivitas yang turut
memperbaiki struktur tanah.
Sebagai penghuni liang, gangsir sangat peka terhadap
perubahan kelembapan tanah. Ketika hujan-hujan pertama turun dan tanah mulai
lunak, aktivitasnya meningkat. Jantan lebih sering mengeluarkan bunyi untuk
memanggil pasangan dan suara itu terdengar semakin ramai pada malam hari.
Tidak mengherankan jika di banyak desa, kemunculan suara gangsir menjadi
pertanda bahwa musim hujan telah benar-benar datang dan waktu tanam segera
dimulai.
Dalam hubungan
dengan pertanian, gangsir menempati posisi yang ambigu. Di satu sisi, ia
dapat memakan benih dan kecambah jagung sehingga menyebabkan beberapa lubang
tanam kosong. Di sisi lain, ia juga membantu mendekomposisi bahan organik, menggemburkan tanah, dan menjadi sumber makanan bagi burung, katak, kadal, serta berbagai predator lain. Ia bukan sekadar hama, melainkan
bagian dari jaring kehidupan yang lebih luas.
Pandangan ini penting di tengah kecenderungan pertanian
modern yang sering membagi organisme secara hitam-putih: mana yang dianggap
berguna dan mana yang harus dimusnahkan. Alam sesungguhnya bekerja dengan
logika yang lebih rumit. Seekor serangga yang kadang merusak benih juga dapat
menjalankan fungsi ekologis yang menopang kesuburan tanah dan keseimbangan
ekosistem.
Dari gangsir, kita belajar bahwa tanah bukanlah benda mati
yang pasif menunggu untuk diolah manusia. Di bawah permukaannya, berlangsung
kehidupan yang sibuk dan teratur. Ada liang-liang kecil, butiran tanah yang
dipindahkan, akar yang tumbuh, mikroorganisme yang bekerja, dan
serangga-serangga yang mengikuti irama hujan dan musim.
Kenangan tentang gangsir terasa begitu membekas. Ia
mengajarkan bahwa sebelum bapak mengayunkan cangkul, sebelum benih jagung
dimasukkan ke dalam lubang tanam, telah ada tukang gali kecil yang lebih dahulu
mempersiapkan bumi. Dan ketika malam tiba dengan suara nyaring dari balik
gundukan tanah, ia seolah menyampaikan pesan lama yang telah dipahami para
petani sejak dahulu: hujan telah dekat, tanah telah siap, dan kehidupan akan
segera dimulai kembali.
(SiBu Bayan)