Catatan Kampus Cikabayan
Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau
Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam
pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman
pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi
penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik
perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan
Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai,
laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan
ekologis yang mendalam.
Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.
Di Morotai,
tradisi menangkap laor dikenal dengan istilah falo laor. Bagi masyarakat
pesisir, kegiatan ini bukan sekadar mencari bahan makanan, melainkan peristiwa
budaya yang selalu dinanti. Ketika bulan purnama telah berlalu beberapa hari
dan kondisi laut dianggap tepat, warga berbondong-bondong menuju pantai pada
malam hari dengan membawa jaring halus, ember, dan lampu penerangan sederhana.
Anak-anak, orang tua, dan kerabat berkumpul di tepi laut, saling berbagi
pengalaman tentang waktu terbaik dan lokasi kemunculan laor. Hasil tangkapan
kemudian dibawa pulang untuk diolah, dibagikan kepada keluarga, dan dinikmati
bersama. Dengan demikian, falo laor tidak hanya memperkuat ketahanan
pangan lokal, tetapi juga mempererat hubungan sosial sekaligus menjadi ruang
pewarisan pengetahuan ekologis antargenerasi.
Laor tidak muncul secara acak. Penelitian The Tradition
of Falo Laor (Sea Worm) as a Seasonal Local Food Products in the Waters of
Morotai Island mencatat bahwa laor muncul secara konsisten pada bulan
April, Mei, dan Juni. Dalam tradisi
lokal, kemunculan pada bulan April disebut masango, pada bulan Mei
disebut mangopa, dan pada bulan Juni dikenal sebagai ma’awa.
Menariknya, setiap kemunculan tersebut selalu terjadi beberapa hari setelah
bulan purnama.
Keteraturan ini
menunjukkan bahwa laor sangat erat kaitannya dengan siklus bulan, pasang surut,
dan dinamika arus laut. Masyarakat Morotai memahami bahwa kemunculan laor
terjadi ketika cahaya bulan, tinggi pasang, dan kondisi laut mencapai keadaan
tertentu yang memicu cacing-cacing ini muncul serempak ke permukaan. Dengan
mengamati fase bulan dan waktu munculnya laor, mereka membangun kalender
ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya, laor
tidak dapat secara sederhana disebut sebagai penanda datangnya musim hujan
ataupun musim kemarau. Data klimatologi menunjukkan bahwa periode April hingga
Juni di Morotai masih tergolong basah, bahkan bulan Juni kerap menjadi salah
satu puncak curah hujan tahunan. Karena itu, laor lebih tepat dipahami sebagai
penanda musiman yang konsisten, bukan indikator tunggal perubahan curah hujan.
Dalam konteks
ini, laor berfungsi sebagai “jam biologis” yang memberi tahu masyarakat bahwa
mereka telah memasuki fase tertentu dalam siklus tahunan. Seperti pranata
mangsa di Jawa yang memanfaatkan bunga, burung, dan perilaku hewan sebagai
penunjuk waktu, masyarakat Morotai menggunakan laor untuk membaca hubungan
antara bulan, laut, dan musim.
Perjalanan ke
Pulau Morotai kali ini memberikan pelajaran berharga bagi penulis. Ilmu
pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk angka, grafik, atau citra satelit.
Ia juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam percakapan sederhana,
dan dalam tradisi yang diwariskan lintas generasi. Dari laor, penulis belajar
bahwa makhluk kecil yang tampak sepele pun dapat menyimpan pengetahuan besar
tentang keteraturan alam.
Pengetahuan
seperti ini lahir dari pengamatan panjang yang dilakukan selama berabad-abad.
Tanpa satelit, radar cuaca, ataupun model komputer, masyarakat pesisir telah
menyusun sistem pengetahuan yang sangat teliti. Mereka membaca langit melalui
bulan, membaca laut melalui arus, dan membaca waktu melalui kemunculan makhluk
kecil bernama laor.
Bagi masyarakat Pulau Morotai, laor bukan sekadar anugerah
laut. Ia adalah penanda waktu, kalender hidup yang menghubungkan gerak bulan,
denyut samudra, dan pergantian musim. Dalam tubuh kecilnya, tersimpan
pengetahuan besar tentang bagaimana manusia memahami ritme bumi dan langit.
(Sibu Bayan)