Senin, 11 Mei 2026

"Falo Laor" Kalender Hidup dari Laut Morotai

 Catatan Kampus Cikabayan

Nama beliau adalah Tahmid Bilo, tokoh masyarakat Pulau Morotai yang telah lama berkecimpung dalam dunia pangan dan pertanian. Dalam pertemuan kami pada akhir tahun 2025, beliau banyak bercerita tentang keragaman pangan di Morotai, terutama kekayaan hasil laut yang sejak lama menjadi penopang kehidupan masyarakat kepulauan. Salah satu yang paling menarik perhatian penulis adalah laor, cacing laut musiman yang dikenal luas di kawasan Indonesia Timur sebagai sumber protein bergizi. Namun, bagi masyarakat Morotai, laor bukan sekadar makanan. Kehadirannya juga menyimpan makna budaya dan ekologis yang mendalam.

Laor adalah cacing laut dari kelompok Polychaeta yang muncul secara massal di permukaan laut pada malam hari. Tubuhnya kecil dan lunak, tetapi kemunculannya selalu ditunggu masyarakat pesisir. Di berbagai wilayah Maluku dan Indonesia Timur, laor ditangkap menggunakan jaring halus atau wadah sederhana, lalu diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Kaya protein dan mineral, laor merupakan salah satu sumber pangan musiman yang sangat berharga.

Di Morotai, tradisi menangkap laor dikenal dengan istilah falo laor. Bagi masyarakat pesisir, kegiatan ini bukan sekadar mencari bahan makanan, melainkan peristiwa budaya yang selalu dinanti. Ketika bulan purnama telah berlalu beberapa hari dan kondisi laut dianggap tepat, warga berbondong-bondong menuju pantai pada malam hari dengan membawa jaring halus, ember, dan lampu penerangan sederhana. Anak-anak, orang tua, dan kerabat berkumpul di tepi laut, saling berbagi pengalaman tentang waktu terbaik dan lokasi kemunculan laor. Hasil tangkapan kemudian dibawa pulang untuk diolah, dibagikan kepada keluarga, dan dinikmati bersama. Dengan demikian, falo laor tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga mempererat hubungan sosial sekaligus menjadi ruang pewarisan pengetahuan ekologis antargenerasi.

Laor tidak muncul secara acak. Penelitian The Tradition of Falo Laor (Sea Worm) as a Seasonal Local Food Products in the Waters of Morotai Island mencatat bahwa laor muncul secara konsisten pada bulan April, Mei, dan Juni. Dalam tradisi lokal, kemunculan pada bulan April disebut masango, pada bulan Mei disebut mangopa, dan pada bulan Juni dikenal sebagai ma’awa. Menariknya, setiap kemunculan tersebut selalu terjadi beberapa hari setelah bulan purnama.

Keteraturan ini menunjukkan bahwa laor sangat erat kaitannya dengan siklus bulan, pasang surut, dan dinamika arus laut. Masyarakat Morotai memahami bahwa kemunculan laor terjadi ketika cahaya bulan, tinggi pasang, dan kondisi laut mencapai keadaan tertentu yang memicu cacing-cacing ini muncul serempak ke permukaan. Dengan mengamati fase bulan dan waktu munculnya laor, mereka membangun kalender ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, laor tidak dapat secara sederhana disebut sebagai penanda datangnya musim hujan ataupun musim kemarau. Data klimatologi menunjukkan bahwa periode April hingga Juni di Morotai masih tergolong basah, bahkan bulan Juni kerap menjadi salah satu puncak curah hujan tahunan. Karena itu, laor lebih tepat dipahami sebagai penanda musiman yang konsisten, bukan indikator tunggal perubahan curah hujan.

Dalam konteks ini, laor berfungsi sebagai “jam biologis” yang memberi tahu masyarakat bahwa mereka telah memasuki fase tertentu dalam siklus tahunan. Seperti pranata mangsa di Jawa yang memanfaatkan bunga, burung, dan perilaku hewan sebagai penunjuk waktu, masyarakat Morotai menggunakan laor untuk membaca hubungan antara bulan, laut, dan musim.

Perjalanan ke Pulau Morotai kali ini memberikan pelajaran berharga bagi penulis. Ilmu pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk angka, grafik, atau citra satelit. Ia juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam percakapan sederhana, dan dalam tradisi yang diwariskan lintas generasi. Dari laor, penulis belajar bahwa makhluk kecil yang tampak sepele pun dapat menyimpan pengetahuan besar tentang keteraturan alam.

Pengetahuan seperti ini lahir dari pengamatan panjang yang dilakukan selama berabad-abad. Tanpa satelit, radar cuaca, ataupun model komputer, masyarakat pesisir telah menyusun sistem pengetahuan yang sangat teliti. Mereka membaca langit melalui bulan, membaca laut melalui arus, dan membaca waktu melalui kemunculan makhluk kecil bernama laor.

Bagi masyarakat Pulau Morotai, laor bukan sekadar anugerah laut. Ia adalah penanda waktu, kalender hidup yang menghubungkan gerak bulan, denyut samudra, dan pergantian musim. Dalam tubuh kecilnya, tersimpan pengetahuan besar tentang bagaimana manusia memahami ritme bumi dan langit.

(Sibu Bayan)