Catatan Kampus Cikabayan
Pada April–Mei 2026, media sosial dipenuhi video sungai yang dipadati ikan sapu-sapu. Ribuan ekor ikan berzirah itu diangkut dengan jaring, ditumpuk di tepian sungai, lalu dimasukkan ke dalam karung dan truk pengangkut. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, operasi penangkapan massal itu berubah menjadi tontonan publik. Media arus utama pun ikut membangun narasi tentang “perang melawan spesies invasif” dan ancaman ikan sapu-sapu bagi sungai Jakarta.
Sejak saat itu, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis—Amazon sailfin catfish) perlahan berubah dari sekadar spesies invasif menjadi simbol politik-ekologis di Indonesia. Tubuhnya yang keras, wajahnya yang asing, serta kemampuannya bertahan hidup di air hitam penuh limbah menjadikannya representasi visual dari sungai yang tercemar sekaligus kegagalan tata kelola air. Pemerintah menyebutnya ancaman bagi ikan lokal. Warga menganggapnya hama sungai. Media menampilkan tumpukan bangkai ikan sebagai tanda bahwa negara sedang bekerja membersihkan sungai. Namun, di balik viralnya operasi pemusnahan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa justru ikan ini yang mampu bertahan hidup di sungai-sungai kita?
Pejabat tertinggi
DKI Jakarta menegaskan bahwa ikan sapu-sapu harus “dibersihkan” karena dianggap
merusak ekosistem sungai dan berbahaya bagi kesehatan manusia akibat kandungan
logam berat dari perairan tercemar. Pemerintah pun memilih jalan pengendalian
melalui penangkapan massal dan pemusnahan berkala. Secara ekologis, alasan itu
memang tidak sepenuhnya keliru. Dominasi ikan sapu-sapu dapat mengganggu
keseimbangan ekosistem sungai melalui kompetisi ruang dan sumber pakan dengan
ikan lokal, perubahan struktur habitat dasar sungai, serta kerusakan bantaran
akibat aktivitas penggalian sarang. Dalam beberapa studi, spesies ini juga
disebut berpotensi mengganggu keberhasilan reproduksi ikan lokal.
Pakar lingkungan
dari Universitas terkemuka di Indonesia, juga menyebut dominasi ikan sapu-sapu
dapat mengganggu struktur ekosistem sungai dan menyulitkan pemulihan spesies
lokal. Sebagian pegiat lingkungan mendukung pengendalian populasi karena
khawatir terhadap kerusakan habitat dan hilangnya biodiversitas sungai. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.
Sapu-sapu bukan
penyebab awal rusaknya sungai Jakarta. Sebelum ikan ini mendominasi,
sungai-sungai kota telah lebih dulu dipenuhi limbah domestik, deterjen,
plastik, sedimen, logam berat, dan air buangan industri. Oksigen menurun,
vegetasi bantaran hilang, ikan lokal perlahan mati atau menyingkir. Ketika
ekosistem kehilangan keseimbangannya, yang tersisa hanyalah spesies-spesies
tahan banting.
Dan sapu-sapu adalah juara dalam dunia yang rusak.
Ia mampu hidup di air miskin oksigen. Ia tahan terhadap
pencemaran yang mematikan banyak ikan lokal. Ia dapat bertahan di dasar sungai
yang dipenuhi lumpur dan bahan organik membusuk. Dalam bahasa ekologi,
sapu-sapu adalah spesies oportunis. Organisme yang memanfaatkan relung kosong
ketika sistem ekologis runtuh. Dalam ekologi, ruang yang ditinggalkan suatu
spesies tidak benar-benar kosong. Ketika keseimbangan rusak dan organisme asli
menghilang, selalu ada makhluk lain yang datang mengisi celah yang
ditinggalkan.
Ledakan populasi ikan ini sesungguhnya adalah alarm
ekologis. Ia memberi tahu bahwa sungai telah kehilangan kemampuan menopang
kehidupan normal. Ketika sungai sehat, spesies lokal, predator alami, dan
keseimbangan rantai makanan biasanya mampu menahan dominasi satu spesies.
Tetapi ketika kualitas air runtuh, organisme tahan polusi akan mengambil alih.
Sapu-sapu hanyalah gejala yang terlihat jelas dari penyakit yang jauh lebih
dalam.
Persoalannya bukan semata-mata pada benar atau salahnya
pengendalian ikan sapu-sapu, sebab dalam batas tertentu langkah itu dapat
dipahami secara ekologis. Namun, sikap itu menjadi terasa naif, bahkan hipokrit,
ketika diskursus publik berhenti hanya pada pemusnahan sapu-sapu seolah-olah
kerusakan sungai dapat diselesaikan dengan menghilangkan satu spesies semata.
Negara tampak sangat serius memburu organisme yang bertahan hidup di sungai
tercemar, tetapi jauh kurang tegas terhadap limbah domestik, pencemaran industri,
buruknya sanitasi, dan kerusakan daerah resapan yang setiap hari merusak sungai
secara sistematis. Penangkapan massal sapu-sapu jauh lebih mudah dipertontonkan
sebagai simbol kerja cepat pemerintah dibandingkan dengan upaya panjang dan mahal untuk
benar-benar memulihkan ekosistem sungai. Sapu-sapu pun diposisikan sebagai
musuh utama, seolah-olah sungai akan sehat kembali jika spesies itu
dimusnahkan, padahal ledakan populasinya justru merupakan konsekuensi logis
dari tata kelola sungai yang buruk selama bertahun-tahun. Membasmi sapu-sapu
tanpa memperbaiki kualitas air ibarat menyapu asap sambil membiarkan api tetap
menyala.
Aktivis lingkungan pun kadang ikut terjebak dalam narasi
invasif yang terlalu sederhana, tanpa cukup mengaitkannya dengan krisis tata
kelola air, sanitasi, limbah, dan rusaknya bentang ekologis sungai. Akibatnya, sapu-sapu berubah menjadi
simbol yang terlalu mudah disalahkan. Ia menjadi musuh yang kasat mata di
tengah persoalan sungai yang sebenarnya jauh lebih rumit, struktural, dan
politis.
Ada ironi yang
sulit diabaikan. Manusia menciptakan sungai yang hanya mampu dihuni spesies
tahan polusi, lalu marah ketika spesies itu benar-benar muncul dan mendominasi.
Dalam konteks itulah, operasi pemusnahan sapu-sapu terasa seperti pertunjukan
ekologis yang naif, karena mencoba membersihkan wajah sungai tanpa pernah
sungguh-sungguh menyembuhkan tubuhnya.
Ribuan kilogram ikan diangkut, dipamerkan, lalu dikubur.
Perdebatan pun bergeser, bukan lagi soal bagaimana memulihkan sungai, melainkan
bagaimana cara paling pantas membunuh ikan. Sampai di sini tragedi ekologis itu
terasa lengkap.
Sapu-sapu
akhirnya menjadi martir penanggung dosa tata kelola sungai. Ia dibenci karena
berhasil hidup di tempat yang sudah tidak layak bagi sebagian besar makhluk
lain. Ia dipersalahkan karena mendominasi ekosistem yang lebih dulu dihancurkan
manusia. Tubuhnya yang terus bertahan di air hitam penuh limbah seolah menjadi
cermin yang memantulkan kegagalan kita sendiri.
Padahal jika
suatu hari semua ikan sapu-sapu benar-benar musnah, sungai belum tentu otomatis
sehat kembali. Selama limbah masih mengalir, sedimentasi terus terjadi, dan
habitat sungai tetap rusak, relung kosong itu hanya akan diisi oleh spesies
oportunis lain. Alam tidak pernah menyukai kekosongan.
Karena itu, masa
depan sungai tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak ikan sapu-sapu berhasil
dibunuh. Masa depan sungai ditentukan oleh keberanian manusia untuk memperbaiki
dirinya sendiri. Menghentikan pencemaran, memulihkan bantaran, mengembalikan
ikan lokal, dan memperlakukan sungai sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar
saluran air kota.
Mungkin suatu hari nanti ikan sapu-sapu akan hilang dari sungai-sungai di Jakarta. Tetapi jika cara kita mengelola sungai tidak berubah, yang hilang sesungguhnya bukan hanya sapu-sapu. Yang ikut musnah adalah ingatan kita tentang bagaimana sungai yang sehat pernah hidup bersama manusia.
(SiBu Bayan)