Catatan Kampus Cikabayan
Dalam perjalanan arus balik akhir Maret 2026, melalui jalan tol Malang-Surabaya, penulis menikmati pemandangan menakjubkan di sebelah kiri jalan. Gugusan pegunungan membentang megah, mulai dari Gunung Arjuno hingga Gunung Penanggungan, berdiri kokoh di bawah langit pagi. Pemandangan itu seketika membawa ingatan penulis kepada Airlangga, sosok raja-begawan yang dalam tradisi Jawa dikaitkan erat dengan Gunung Penanggungan, gunung suci yang dipandang sebagai miniatur Gunung Mahameru. Di lereng gunung itulah, menurut ingatan budaya Jawa, Airlangga menempuh laku tapa dan pada akhir hidupnya memilih meninggalkan takhta untuk menjadi pertapa bergelar Resi Gentayu. Di bentang alam inilah, hampir seribu tahun lalu, Airlangga memahami bahwa kemakmuran kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuannya menata air yang turun dari pegunungan, mengalir melalui sungai, dan menghidupi sawah-sawah di DAS Brantas.
Airlangga adalah
pendiri Kerajaan Kahuripan yang memerintah sekitar 1019–1049 Masehi. Ia naik
takhta setelah berhasil memulihkan Jawa bagian Timur dari kekacauan pasca
runtuhnya Kerajaan Medang. Kebesaran Airlangga tidak hanya tercermin
dalam keberhasilannya menyatukan wilayah, melainkan juga dalam visinya terhadap
air sebagai fondasi peradaban. Bagi seorang raja agraris, sungai bukan sekadar
bentang alam, melainkan urat nadi yang menentukan ketahanan pangan,
perdagangan, dan kesejahteraan rakyat.
Visi tersebut
terekam dalam Prasasti Kamalagyan yang bertarikh 959 Śaka atau 1037 Masehi.
Prasasti ini mencatat pembangunan bendungan dan tanggul di Waringin Sapta untuk
mengendalikan aliran Sungai Brantas. Tujuannya bukan hanya mencegah banjir,
tetapi juga memulihkan jalur pelayaran menuju Hujung Galuh, pelabuhan penting
di pesisir utara Jawa. Melalui proyek ini, Airlangga menunjukkan bahwa
pengelolaan air telah menjadi kebijakan strategis negara.
Dalam konteks
masa kini, Prasasti Kamalagyan dapat dibaca sebagai dokumen awal adaptasi
terhadap variabilitas iklim, bahkan inspirasi bagi adaptasi perubahan iklim.
Ketika curah hujan ekstrem mengancam pertanian dan jalur perdagangan,
jawabannya bukan menyerah pada nasib, melainkan membangun bendungan, memperkuat
tanggul, dan mengorganisasi masyarakat. Inilah esensi adaptasi perubahan iklim.
Mengubah pengetahuan tentang alam menjadi tindakan kolektif untuk menjaga
keberlangsungan kehidupan.
Jika Prasasti Harinjing memperlihatkan kiprah Bhagawanta Bari dalam menata aliran sungai di
wilayah hulu, maka Prasasti Kamalagyan menunjukkan tahapan berikutnya, yaitu pengelolaan
air pada skala Daerah Aliran Sungai. Dari pegunungan hingga laut, Brantas
dipahami sebagai satu sistem yang harus dijaga agar sawah tetap subur, banjir
terkendali, dan perdagangan berjalan lancar.
Dalam bahasa
modern, kebijakan Airlangga dapat dipandang sebagai bentuk awal pengelolaan
sumber daya air terpadu. Tentu, istilah DAS dan hidrometeorologi adalah
konstruksi modern. Namun, jika dibaca secara retrospektif, praktik pengelolaan
air pada masa itu memperlihatkan logika sistemik yang serupa. Dengan kata lain,
bukan konsep ilmiahnya yang hadir pada masa itu, melainkan pola pikirnya, bahwa
hulu dan hilir merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi. Hidrometeorologi
masa kini menjelaskan bahwa hujan yang turun di Penanggungan, Arjuno,
Anjasmoro, dan pegunungan sekitarnya akan menjadi aliran sungai yang
memengaruhi debit Brantas hingga ke hilir. Airlangga tentu tidak memiliki radar
cuaca, citra satelit, atau model numerik seperti ECMWF, tetapi ia memahami
prinsip dasarnya. Perubahan di hulu akan menentukan kehidupan di hilir.
Pengetahuan itu lahir dari pengamatan yang tekun. Masyarakat
pada masa itu mengenali musim hujan, banjir, pendangkalan sungai, dan perubahan
aliran air. Mereka memadukan pengalaman, pengetahuan lokal, dan gotong royong
untuk membangun infrastruktur yang mampu menahan kelebihan air dan
menyalurkannya ketika dibutuhkan. Bekas banjir, perubahan tebing sungai, dan
cerita para tetua menjadi arsip hidrologi yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Hari ini kita berbicara
tentang sistem peringatan dini, ketahanan pangan, dan perubahan iklim. Namun
prinsip dasarnya tetap sama seperti pada masa Airlangga, memahami perilaku air
dan irama alam agar kesejahteraan masyarakat dapat terjaga.
Menjelang akhir
hidupnya, Airlangga memilih meninggalkan takhta dan menjalani kehidupan sebagai
pertapa. Keputusan itu seolah menegaskan bahwa kebijaksanaan tertinggi bukanlah
menguasai manusia, melainkan memahami keteraturan alam. Sungai Brantas terus mengalir
dari pegunungan menuju laut, membawa air yang sama-sama menyuburkan sawah dan
menopang kehidupan jutaan orang hingga hari ini.
Saat kendaraan
penulis terus melaju meninggalkan jalan tol Malang-Surabaya, gugusan
Penanggungan dan Arjuno perlahan menghilang di kejauhan. Satu kesadaran
tetap tinggal. Hampir seribu tahun lalu, di bentang alam yang sama, Airlangga
telah menunjukkan bahwa masa depan sebuah negeri bergantung pada kemampuannya
menjaga keseimbangan antara gunung, sungai, teknologi, dan kebijaksanaan.
(Sibu Bayan)