Catatan Kampus Cikabayan
Pada perjalanan libur Lebaran akhir Maret 2026, penulis
berkesempatan mengunjungi Desa Siman, sebuah desa di lereng barat Gunung Kelud
yang menyimpan jejak panjang hubungan manusia dengan air. Di kawasan inilah
Prasasti Harinjing ditemukan, sebuah batu bertulis bertarikh 726 Śaka atau 804
Masehi yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia. Prasasti ini
mengabadikan kisah Bhagawanta Bari (sering juga ditulis Bhagawanta Dhari),
tokoh yang memprakarsai pembangunan sistem pengendalian air di Sungai
Harinjing. Tanggal yang tertera pada prasasti tersebut, 25 Maret 804 Masehi,
kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri. Sebuah penanda bahwa
sejarah daerah ini bertumpu bukan hanya pada kekuasaan, tetapi juga pada
keberhasilan mengelola air demi kemakmuran masyarakat.
Prasasti Harinjing dibuat pada masa Kerajaan Medang, kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang sekitar tahun 732–1016 Masehi. Pada saat prasasti ini diterbitkan tahun 804 Masehi, kerajaan diperintah oleh Rakai Warak Dyah Manara (803–827 Masehi). Melalui prasasti tersebut, wilayah Harinjing ditetapkan sebagai “sima”. Sebuah tanah perdikan yang memperoleh pembebasan pajak dan hak istimewa tertentu. Anugerah ini diberikan kepada Bhagawanta Bari atas jasanya membangun sistem pengendalian air yang melindungi sawah dan masyarakat dari banjir.
Bagi kebanyakan orang, prasasti adalah benda sunyi yang
hanya berbicara kepada sejarawan. Namun, Prasasti Harinjing menyimpan sesuatu
yang jauh lebih hidup. Ia merekam sebuah momen ketika manusia berhadapan dengan
kekuatan alam dan memilih untuk memahami, bukan sekadar menaklukkannya. Sungai
Harinjing yang berhulu di lereng Gunung Kelud kerap meluap pada musim hujan.
Air membawa pasir, kerikil, dan material vulkanik yang dapat merusak sawah. Di
wilayah agraris seperti Kediri, banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan
ancaman terhadap pangan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Di tengah situasi
itu, Bhagawanta Bari memprakarsai pembangunan sebuah sistem pengendalian air.
Dalam tradisi Jawa dikenal istilah dawuhan, yaitu tempat air ditahan,
ditampung, dan kemudian diatur sebelum dialirkan ke lahan pertanian. Kata ini
menarik karena jejaknya masih dapat ditemukan pada banyak nama tempat di Jawa.
Dari Lumajang, Situbondo, Jember, hingga Banyumas, toponim Dawuhan berulang di
wilayah-wilayah pertanian yang bergantung pada irigasi. Di Madiun bahkan
terdapat Waduk Dawuhan, yang memperlihatkan bahwa istilah tersebut sejak lama
berkaitan dengan tempat penampungan air. Dalam pengertian itu, dawuhan
dapat dipandang sebagai nenek moyang linguistik dari embung dan waduk modern.
Secara geografis, situs Prasasti Harinjing berada tidak jauh
dari Waduk Siman, sebuah waduk yang diresmikan pada tahun 1972 dan hingga kini
masih berfungsi sebagai sumber irigasi. Meskipun struktur fisiknya jauh lebih
muda, waduk ini berdiri di lanskap hidrologi yang sama dengan yang dahulu
dikelola oleh Bhagawanta Bari. Sangat mungkin kawasan tersebut mengalami
perbaikan berulang dari masa ke masa, termasuk pada era Hindia Belanda, ketika
jaringan irigasi di Pulau Jawa banyak ditata ulang untuk meningkatkan produksi
pertanian. Jika demikian, maka Siman adalah kisah panjang tentang air yang
terus diwariskan dari kerajaan kuno, kolonial, hingga Indonesia modern.
Apa yang dilakukan Bhagawanta Bari pada dasarnya adalah
praktik hidrometeorologi sebelum istilah itu dikenal. Hidrometeorologi modern
mempelajari bagaimana hujan yang turun dari atmosfer berubah menjadi limpasan,
infiltrasi, dan aliran sungai. Bhagawanta
Bari tentu tidak menuliskan persamaan neraca air, tetapi ia memahami maknanya.
Ia memahami bahwa air memiliki perilakunya sendiri. Turun sebagai hujan di
lereng Gunung Kelud, mengalir melalui sungai, lalu menentukan apakah sawah akan
subur atau justru rusak.
Hidrometeorologi modern menghitung debit andalan, curah
hujan rencana, dan periode ulang banjir dengan bantuan statistik dan komputer.
Sebaliknya, masyarakat abad ke-9 menggunakan instrumen yang lebih sederhana
tetapi tidak kalah canggih, yaitu pengamatan, pengalaman, dan ingatan kolektif.
Mereka mengenali kapan sungai mulai meluap, seberapa tinggi air mencapai
tebing, dan berapa lama genangan bertahan. Bekas banjir pada batu, cerita para tetua, dan pengalaman lintas generasi
berfungsi sebagai basis data hidrologi. Dengan kata lain, mereka telah
mengembangkan sistem observasi yang diwariskan melalui budaya.
Dalam bahasa masa kini, apa yang dilakukan Bhagawanta Bari
dapat disebut sebagai bentuk awal adaptasi terhadap variabilitas iklim. Dalam
makna yang lebih luas, inspirasi bagi adaptasi terhadap perubahan iklim. Ketika curah
hujan ekstrem menjadi ancaman, jawabannya bukan sekadar menerima nasib,
melainkan membangun infrastruktur, mengorganisasi masyarakat, dan menyelaraskan
pengetahuan dengan kondisi alam setempat.
Hari ini kita menggunakan satelit, radar cuaca, sensor
otomatis, dan model numerik seperti ECMWF untuk memprediksi hujan dan banjir. Kita berbicara tentang sistem peringatan
dini, ketahanan pangan, dan perubahan iklim. Namun sesungguhnya, esensi ilmu
itu tidak berubah. Hujan tetap turun di pegunungan, sungai tetap mengalir ke
dataran rendah, dan manusia tetap harus belajar memahami perilaku air dan irama
alam agar kehidupan dapat berlangsung.
Prasasti
Harinjing mengajarkan bahwa adaptasi terhadap risiko hidrometeorologis dan
perubahan iklim bukanlah gagasan baru. Lebih dari 1.200 tahun lalu, leluhur
Nusantara telah memahami bahwa air yang berlebihan harus ditahan, air yang
kurang harus disimpan, dan keduanya dikelola secara kolektif demi keberlanjutan
kehidupan. Pengetahuan itu diwariskan tidak hanya melalui saluran dan tanggul,
tetapi juga dalam bahasa, toponimi, dan prasasti batu. Di Desa Siman, di antara
sawah yang masih dialiri air dari Waduk Siman, gema masa lalu itu masih terasa.
Prasasti Harinjing menjadi pengingat bahwa jauh sebelum satelit dan
superkomputer digunakan untuk memprediksi cuaca, Bhagawanta Bari telah
menunjukkan bahwa dengan pengetahuan lokal, rekayasa sederhana, dan gotong
royong, manusia dapat mengubah air yang liar menjadi sumber kemakmuran. Dari
dawuhan ke waduk, dari batu ke satelit, terbentang jejak panjang
hidrometeorologi Nusantara yang sekaligus merekam tradisi adaptasi iklim sejak lebih dari dua belas abad yang lalu.
Menjelang
meninggalkan Desa Siman, penulis berdiri sejenak di tepi Waduk Siman. Permukaan
air yang tenang memantulkan siluet Gunung Kelud. Di bentang alam yang sama,
lebih dari dua belas abad lalu, Bhagawanta Bari telah menunjukkan bahwa
memahami perilaku air dan irama alam adalah kunci menjaga kehidupan. Di tengah
tantangan perubahan iklim, Siman mengingatkan bahwa masa depan ketahanan pangan
Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pada
kemampuan kita menghargai pengetahuan lokal dan gotong royong yang telah teruji
oleh waktu.
(SiBu Bayan)