Minggu, 17 Mei 2026

Jejak Hidrometeorologi 1.200 Tahun Lampau: Prasasti Harinjing dan Adaptasi Iklim

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan libur Lebaran akhir Maret 2026, penulis berkesempatan mengunjungi Desa Siman, sebuah desa di lereng barat Gunung Kelud yang menyimpan jejak panjang hubungan manusia dengan air. Di kawasan inilah Prasasti Harinjing ditemukan, sebuah batu bertulis bertarikh 726 Śaka atau 804 Masehi yang kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia. Prasasti ini mengabadikan kisah Bhagawanta Bari (sering juga ditulis Bhagawanta Dhari), tokoh yang memprakarsai pembangunan sistem pengendalian air di Sungai Harinjing. Tanggal yang tertera pada prasasti tersebut, 25 Maret 804 Masehi, kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri. Sebuah penanda bahwa sejarah daerah ini bertumpu bukan hanya pada kekuasaan, tetapi juga pada keberhasilan mengelola air demi kemakmuran masyarakat.

Prasasti Harinjing dibuat pada masa Kerajaan Medang, kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang sekitar tahun 732–1016 Masehi. Pada saat prasasti ini diterbitkan tahun 804 Masehi, kerajaan diperintah oleh Rakai Warak Dyah Manara (803–827 Masehi). Melalui prasasti tersebut, wilayah Harinjing ditetapkan sebagai “sima”. Sebuah tanah perdikan yang memperoleh pembebasan pajak dan hak istimewa tertentu. Anugerah ini diberikan kepada Bhagawanta Bari atas jasanya membangun sistem pengendalian air yang melindungi sawah dan masyarakat dari banjir.

Bagi kebanyakan orang, prasasti adalah benda sunyi yang hanya berbicara kepada sejarawan. Namun, Prasasti Harinjing menyimpan sesuatu yang jauh lebih hidup. Ia merekam sebuah momen ketika manusia berhadapan dengan kekuatan alam dan memilih untuk memahami, bukan sekadar menaklukkannya. Sungai Harinjing yang berhulu di lereng Gunung Kelud kerap meluap pada musim hujan. Air membawa pasir, kerikil, dan material vulkanik yang dapat merusak sawah. Di wilayah agraris seperti Kediri, banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ancaman terhadap pangan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Di tengah situasi itu, Bhagawanta Bari memprakarsai pembangunan sebuah sistem pengendalian air. Dalam tradisi Jawa dikenal istilah dawuhan, yaitu tempat air ditahan, ditampung, dan kemudian diatur sebelum dialirkan ke lahan pertanian. Kata ini menarik karena jejaknya masih dapat ditemukan pada banyak nama tempat di Jawa. Dari Lumajang, Situbondo, Jember, hingga Banyumas, toponim Dawuhan berulang di wilayah-wilayah pertanian yang bergantung pada irigasi. Di Madiun bahkan terdapat Waduk Dawuhan, yang memperlihatkan bahwa istilah tersebut sejak lama berkaitan dengan tempat penampungan air. Dalam pengertian itu, dawuhan dapat dipandang sebagai nenek moyang linguistik dari embung dan waduk modern.

Secara geografis, situs Prasasti Harinjing berada tidak jauh dari Waduk Siman, sebuah waduk yang diresmikan pada tahun 1972 dan hingga kini masih berfungsi sebagai sumber irigasi. Meskipun struktur fisiknya jauh lebih muda, waduk ini berdiri di lanskap hidrologi yang sama dengan yang dahulu dikelola oleh Bhagawanta Bari. Sangat mungkin kawasan tersebut mengalami perbaikan berulang dari masa ke masa, termasuk pada era Hindia Belanda, ketika jaringan irigasi di Pulau Jawa banyak ditata ulang untuk meningkatkan produksi pertanian. Jika demikian, maka Siman adalah kisah panjang tentang air yang terus diwariskan dari kerajaan kuno, kolonial, hingga Indonesia modern.

Apa yang dilakukan Bhagawanta Bari pada dasarnya adalah praktik hidrometeorologi sebelum istilah itu dikenal. Hidrometeorologi modern mempelajari bagaimana hujan yang turun dari atmosfer berubah menjadi limpasan, infiltrasi, dan aliran sungai. Bhagawanta Bari tentu tidak menuliskan persamaan neraca air, tetapi ia memahami maknanya. Ia memahami bahwa air memiliki perilakunya sendiri. Turun sebagai hujan di lereng Gunung Kelud, mengalir melalui sungai, lalu menentukan apakah sawah akan subur atau justru rusak.

Hidrometeorologi modern menghitung debit andalan, curah hujan rencana, dan periode ulang banjir dengan bantuan statistik dan komputer. Sebaliknya, masyarakat abad ke-9 menggunakan instrumen yang lebih sederhana tetapi tidak kalah canggih, yaitu pengamatan, pengalaman, dan ingatan kolektif. Mereka mengenali kapan sungai mulai meluap, seberapa tinggi air mencapai tebing, dan berapa lama genangan bertahan. Bekas banjir pada batu, cerita para tetua, dan pengalaman lintas generasi berfungsi sebagai basis data hidrologi. Dengan kata lain, mereka telah mengembangkan sistem observasi yang diwariskan melalui budaya.

Dalam bahasa masa kini, apa yang dilakukan Bhagawanta Bari dapat disebut sebagai bentuk awal adaptasi terhadap variabilitas iklim. Dalam makna yang lebih luas, inspirasi bagi adaptasi terhadap perubahan iklim. Ketika curah hujan ekstrem menjadi ancaman, jawabannya bukan sekadar menerima nasib, melainkan membangun infrastruktur, mengorganisasi masyarakat, dan menyelaraskan pengetahuan dengan kondisi alam setempat.

Hari ini kita menggunakan satelit, radar cuaca, sensor otomatis, dan model numerik seperti ECMWF untuk memprediksi hujan dan banjir. Kita berbicara tentang sistem peringatan dini, ketahanan pangan, dan perubahan iklim. Namun sesungguhnya, esensi ilmu itu tidak berubah. Hujan tetap turun di pegunungan, sungai tetap mengalir ke dataran rendah, dan manusia tetap harus belajar memahami perilaku air dan irama alam agar kehidupan dapat berlangsung.

Prasasti Harinjing mengajarkan bahwa adaptasi terhadap risiko hidrometeorologis dan perubahan iklim bukanlah gagasan baru. Lebih dari 1.200 tahun lalu, leluhur Nusantara telah memahami bahwa air yang berlebihan harus ditahan, air yang kurang harus disimpan, dan keduanya dikelola secara kolektif demi keberlanjutan kehidupan. Pengetahuan itu diwariskan tidak hanya melalui saluran dan tanggul, tetapi juga dalam bahasa, toponimi, dan prasasti batu. Di Desa Siman, di antara sawah yang masih dialiri air dari Waduk Siman, gema masa lalu itu masih terasa. Prasasti Harinjing menjadi pengingat bahwa jauh sebelum satelit dan superkomputer digunakan untuk memprediksi cuaca, Bhagawanta Bari telah menunjukkan bahwa dengan pengetahuan lokal, rekayasa sederhana, dan gotong royong, manusia dapat mengubah air yang liar menjadi sumber kemakmuran. Dari dawuhan ke waduk, dari batu ke satelit, terbentang jejak panjang hidrometeorologi Nusantara yang sekaligus merekam tradisi adaptasi iklim sejak lebih dari dua belas abad yang lalu.

Menjelang meninggalkan Desa Siman, penulis berdiri sejenak di tepi Waduk Siman. Permukaan air yang tenang memantulkan siluet Gunung Kelud. Di bentang alam yang sama, lebih dari dua belas abad lalu, Bhagawanta Bari telah menunjukkan bahwa memahami perilaku air dan irama alam adalah kunci menjaga kehidupan. Di tengah tantangan perubahan iklim, Siman mengingatkan bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga pada kemampuan kita menghargai pengetahuan lokal dan gotong royong yang telah teruji oleh waktu.

(SiBu Bayan)