Sabtu, 16 Mei 2026

Agroklimatologi dalam Prosa Slisir Marèng Tênggèrèng (Menyusuri Tanda-Tanda)

Catatan Kampus Cikabayan

Pada ujung libur Lebaran 2026, penulis bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama di Desa Mangunrejo, sebuah desa di selatan Kepanjen yang namanya terdengar seperti harapan. Mangun berarti membangun, sedangkan rejo berarti kemakmuran. Sore itu, di beranda rumah yang menghadap hamparan sawah, kami berbincang tentang musim, tentang petani yang kini semakin sulit memahami cuaca, dan tentang pengetahuan lama yang perlahan terlupakan.

Di tengah percakapan, sahabat penulis berkata, “Orang Jawa dahulu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan agroklimatologi.” Ia lalu menunjukkan sebuah teks berbahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Kedjawen pada awal abad ke-20 berjudul Slisir Marèng Tênggèrèng. Judul itu dapat diterjemahkan sebagai “menyusuri tanda-tanda”. Bukan tanda dalam arti mistik, melainkan tênggèr (tengara atau penanda) alam seperti bintang, embun, angin, matahari, dan air.

Naskah ini kemungkinan bukan semata karya sastra orisinal, melainkan penulisan kembali pengetahuan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa. Penulisnya bertindak sebagai pencatat pengalaman kolektif para mong tani (petani) yang selama bergenerasi mengamati alam sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam pengertian itu, Slisir Marèng Tênggèrèng dapat dipandang sebagai arsip tertulis agroklimatologi tradisional Nusantara, khusus orang Jawa.

Bagian awal naskah dibuka dengan kalimat Panjurung saking ingkang sinandi (dorongan dari Yang Tersembunyi). Sesudah itu, pembaca diajak menikmati malam purnama yang hening. Anak-anak telah tidur (sirêping lare), halaman rumah lengang (nèng latar kêkadhar dhewe), dan bulan bersinar padhange kaya raina (terangnya seperti siang hari). Dalam keheningan itu, langit menjadi laboratorium terbuka. Bulan purnama (Hyang Purnama) digambarkan sebagai penguasa malam, bintang-bintang (taranggana) sebagai para punggawa, dan Milky Way (Sang Bimasakti) membentang di cakrawala.

Di tengah pupuh Dhandhanggula muncul bait yang sangat penting, kang dadya juru tuduh, pandomaning para mong tani (yang menjadi penunjuk dan pedoman bagi para petani). Sesudah itu disebutkan susunan bintang, gêlaring panangkilan (hamparan atau formasi kemunculan) yang “rinakit waluku, wuluh, wuku lan kukusan, gubug pèncèng.” Bait ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa menggunakan langit sebagai kalender pertanian.

Lintang Waluku merupakan nama Jawa untuk rasi Orion constellation. Bentuknya menyerupai waluku, bajak tradisional, sehingga kemunculannya di langit timur dipahami sebagai tanda datangnya musim hujan dan waktu untuk mengolah sawah. Lintang Wuluh kemungkinan merujuk pada gugusan Pleiades. Gubug Penceng (gubuk yang miring) berkaitan dengan rasi Crux. Dalam sejumlah tradisi etnoastronomi Jawa, Lintang Wuku dikaitkan dengan Hyades, sedangkan Lintang Kukusan, alat pengukus nasi berbentuk kerucut sering diasosiasikan dengan Coma Berenices.

Menariknya, istilah Pranata Mangsa, sistem kalender musim Jawa yang dibakukan pada tahun 1856 pada masa Pakubuwana VII di Surakarta, tidak disebut secara eksplisit dalam naskah ini. Namun, substansi dan cara berpikir yang mendasarinya hadir sangat jelas. Salah satu frasa penting, mangrèh lakuning masa (mengatur perjalanan waktu atau musim). Ini menunjukkan bahwa perubahan musim dipahami sebagai siklus yang dapat dibaca melalui tanda-tanda alam. Dengan demikian, Slisir Marèng Tênggèrèng merefleksikan prinsip dasar yang sama dengan Pranata Mangsa.

Selain rasi bintang, naskah ini memuat banyak istilah yang relevan dengan agroklimatologi modern. Embun disebut dalam frasa kênèng sawabing êbun (terkena percikan embun). Angin hadir dalam kata maruta dan bayu (udara atau hembusan angin). Awan tergambar dalam mega sinungging wungu (awan yang terlukis dengan warna ungu). Matahari disebut sebagai Hyang Surya dan Hyang Arka. Air hadir dalam kata warih (air atau sumber air). Kekeringan diungkapkan melalui frasa awis toya (langkanya air). Semua unsur tersebut merupakan variabel penting bagi pertumbuhan tanaman.

Setelah menggambarkan langit, naskah beralih ke bumi. Ayam berkokok, sawung parêng kaluruk (ayam jantan mulai berkokok), matahari terbit, dan petani mulai bekerja. Ada yang memikul hasil panen ke pasar, maring pêpasaran (menuju pasar), ada yang menuntun kerbau (kêbo), dan ada yang memegang waluku untuk membajak têgal (ladang kering) dan sawah (lahan basah). Dalam urutan ini tersirat hubungan yang sangat indah, setelah membaca tanda di langit, manusia bekerja di bumi.

Banjir, kekeringan, dan musim yang menyimpang sesungguhnya bukan pengalaman baru. Catatan kuno di China, prasasti-prasasti Jawa seperti Prasasti Harinjing, serta tradisi lisan Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat telah lama hidup berdampingan dengan ketidakpastian iklim. Kekeringan panjang, hujan terlambat, banjir, dan gagal panen sudah menjadi bagian dari sejarah masyarakat agraris selama berabad-abad.

Dalam pandangan penulis, hubungan antara tanda-tanda astronomi dan perilaku musim pada dasarnya masih tetap kuat. Rasi-rasi seperti Orion, Pleiades, dan Crux tetap muncul dengan keteraturan yang nyaris tidak berubah, sebagaimana telah diamati para mong tani sejak dahulu. Yang berubah adalah cara kita menafsirkan berbagai anomali cuaca pada masa kini. Dalam narasi kontemporer, banyak gejala atmosfer cenderung digeneralisasi sebagai dampak perubahan iklim, padahal sebagian di antaranya juga merupakan bagian dari variabilitas alami yang telah dikenal sejak lama. Karena itu, warisan Slisir Marèng Tênggèrèng tetap relevan sebagai pengingat bahwa adaptasi pertanian memerlukan pembacaan yang cermat terhadap taranggana (bintang-bintang), êbun (embun), maruta (angin), mega (awan), dan warih (air).

Perlu dicatat bahwa ketika Slisir Marèng Tênggèrèng diterbitkan, termometer, barometer, anemometer, dan penakar hujan sudah digunakan di Hindia Belanda. Namun, naskah ini menunjukkan bahwa di luar observatorium resmi, petani Jawa tetap mengandalkan sistem observasi berbasis pengalaman lokal. Mereka menengadah ke langit, merasakan embun, membaca arah angin, dan mengamati ketersediaan air sebagai dasar pengambilan keputusan.

Di situlah letak keistimewaan Slisir Marèng Tênggèrèng. Naskah ini mengingatkan bahwa agroklimatologi pada mulanya bukan sekadar kumpulan angka, grafik, dan persamaan matematis, melainkan juga laku kebudayaan. Dari pengamatan yang tekun itu lahir pengetahuan yang tidak tertulis dalam rumus, tetapi tertanam dalam ingatan kolektif dan diwariskan melalui tembang.

Di tengah zaman ketika keputusan pertanian semakin bergantung pada model numerik, citra satelit, dan kecerdasan buatan, Slisir Marèng Tênggèrèng mengajak kita untuk tidak kehilangan kepekaan dasar sebagai pembaca alam. Teknologi modern tentu memperluas kemampuan manusia, tetapi kebijaksanaan lama mengingatkan bahwa data hanya bermakna jika disertai ketekunan mengamati dan kerendahan hati untuk mendengarkan semesta. Pada akhirnya, agroklimatologi bukan semata ilmu untuk meramal musim, melainkan ikhtiar untuk memahami irama kehidupan dan menjaga harmoni antara manusia, tanah, air, dan langit. Hamamangun hayuning bawana, merawat keindahan dan keseimbangan dunia.

(SiBu Bayan)