Pada ujung libur
Lebaran 2026, penulis bersilaturahmi dengan seorang sahabat lama di Desa
Mangunrejo, sebuah desa di selatan Kepanjen yang namanya terdengar seperti
harapan. Mangun berarti membangun, sedangkan rejo berarti
kemakmuran. Sore itu, di beranda rumah yang menghadap hamparan sawah, kami
berbincang tentang musim, tentang petani yang kini semakin sulit memahami cuaca,
dan tentang pengetahuan lama yang perlahan terlupakan.
Di tengah percakapan, sahabat penulis berkata, “Orang Jawa dahulu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan agroklimatologi.” Ia lalu menunjukkan sebuah teks berbahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Kedjawen pada awal abad ke-20 berjudul Slisir Marèng Tênggèrèng. Judul itu dapat diterjemahkan sebagai “menyusuri tanda-tanda”. Bukan tanda dalam arti mistik, melainkan tênggèr (tengara atau penanda) alam seperti bintang, embun, angin, matahari, dan air.
Naskah ini
kemungkinan bukan semata karya sastra orisinal, melainkan penulisan kembali
pengetahuan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa. Penulisnya
bertindak sebagai pencatat pengalaman kolektif para mong tani (petani) yang
selama bergenerasi mengamati alam sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam
pengertian itu, Slisir Marèng Tênggèrèng dapat dipandang sebagai arsip
tertulis agroklimatologi tradisional Nusantara, khusus orang Jawa.
Bagian awal naskah dibuka dengan kalimat Panjurung saking
ingkang sinandi (dorongan dari Yang Tersembunyi). Sesudah itu, pembaca
diajak menikmati malam purnama yang hening. Anak-anak telah tidur (sirêping
lare), halaman rumah lengang (nèng latar kêkadhar dhewe), dan bulan
bersinar padhange kaya raina (terangnya seperti siang hari). Dalam
keheningan itu, langit menjadi laboratorium terbuka. Bulan purnama (Hyang
Purnama) digambarkan sebagai penguasa malam, bintang-bintang (taranggana)
sebagai para punggawa, dan Milky Way (Sang Bimasakti) membentang
di cakrawala.
Di tengah pupuh Dhandhanggula muncul bait yang sangat
penting, kang dadya juru tuduh, pandomaning para mong tani (yang menjadi
penunjuk dan pedoman bagi para petani). Sesudah itu disebutkan susunan bintang,
gêlaring panangkilan (hamparan atau formasi kemunculan) yang “rinakit
waluku, wuluh, wuku lan kukusan, gubug pèncèng.” Bait ini menunjukkan bahwa
masyarakat Jawa menggunakan langit sebagai kalender pertanian.
Lintang Waluku merupakan nama Jawa untuk rasi Orion
constellation. Bentuknya menyerupai waluku, bajak tradisional, sehingga
kemunculannya di langit timur dipahami sebagai tanda datangnya musim hujan dan
waktu untuk mengolah sawah. Lintang Wuluh kemungkinan merujuk pada gugusan Pleiades.
Gubug Penceng (gubuk yang miring) berkaitan dengan rasi Crux. Dalam
sejumlah tradisi etnoastronomi Jawa, Lintang Wuku dikaitkan dengan Hyades,
sedangkan Lintang Kukusan, alat pengukus nasi berbentuk kerucut sering
diasosiasikan dengan Coma Berenices.
Menariknya, istilah Pranata Mangsa, sistem kalender musim
Jawa yang dibakukan pada tahun 1856 pada masa Pakubuwana VII di Surakarta, tidak
disebut secara eksplisit dalam naskah ini. Namun, substansi dan cara berpikir
yang mendasarinya hadir sangat jelas. Salah satu frasa penting, mangrèh
lakuning masa (mengatur perjalanan waktu atau musim). Ini menunjukkan bahwa
perubahan musim dipahami sebagai siklus yang dapat dibaca melalui tanda-tanda
alam. Dengan demikian, Slisir Marèng Tênggèrèng merefleksikan prinsip
dasar yang sama dengan Pranata Mangsa.
Selain rasi bintang, naskah ini memuat banyak istilah yang
relevan dengan agroklimatologi modern. Embun disebut dalam frasa kênèng
sawabing êbun (terkena percikan embun). Angin hadir dalam kata maruta
dan bayu (udara atau hembusan angin). Awan tergambar dalam mega
sinungging wungu (awan yang terlukis dengan warna ungu). Matahari disebut
sebagai Hyang Surya dan Hyang Arka. Air hadir dalam kata warih
(air atau sumber air). Kekeringan diungkapkan melalui frasa awis toya (langkanya
air). Semua unsur tersebut merupakan variabel penting bagi pertumbuhan tanaman.
Setelah menggambarkan langit, naskah beralih ke bumi. Ayam
berkokok, sawung parêng kaluruk (ayam jantan mulai berkokok), matahari
terbit, dan petani mulai bekerja. Ada yang memikul hasil panen ke pasar, maring
pêpasaran (menuju pasar), ada yang menuntun kerbau (kêbo), dan ada
yang memegang waluku untuk membajak têgal (ladang kering) dan sawah
(lahan basah). Dalam urutan ini
tersirat hubungan yang sangat indah, setelah membaca tanda di langit, manusia
bekerja di bumi.
Banjir, kekeringan, dan musim yang menyimpang sesungguhnya
bukan pengalaman baru. Catatan kuno di China, prasasti-prasasti Jawa seperti
Prasasti Harinjing, serta tradisi lisan Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat
telah lama hidup berdampingan dengan ketidakpastian iklim. Kekeringan panjang,
hujan terlambat, banjir, dan gagal panen sudah menjadi bagian dari sejarah
masyarakat agraris selama berabad-abad.
Dalam pandangan
penulis, hubungan antara tanda-tanda astronomi dan perilaku musim pada dasarnya
masih tetap kuat. Rasi-rasi seperti Orion, Pleiades, dan Crux tetap muncul
dengan keteraturan yang nyaris tidak berubah, sebagaimana telah diamati para mong
tani sejak dahulu. Yang berubah adalah cara kita menafsirkan berbagai
anomali cuaca pada masa kini. Dalam narasi kontemporer, banyak gejala atmosfer
cenderung digeneralisasi sebagai dampak perubahan iklim, padahal sebagian di
antaranya juga merupakan bagian dari variabilitas alami yang telah dikenal
sejak lama. Karena itu, warisan Slisir Marèng Tênggèrèng tetap relevan
sebagai pengingat bahwa adaptasi pertanian memerlukan pembacaan yang cermat
terhadap taranggana (bintang-bintang), êbun (embun), maruta
(angin), mega (awan), dan warih (air).
Perlu dicatat
bahwa ketika Slisir Marèng Tênggèrèng diterbitkan, termometer,
barometer, anemometer, dan penakar hujan sudah digunakan di Hindia Belanda.
Namun, naskah ini menunjukkan bahwa di luar observatorium resmi, petani Jawa
tetap mengandalkan sistem observasi berbasis pengalaman lokal. Mereka
menengadah ke langit, merasakan embun, membaca arah angin, dan mengamati
ketersediaan air sebagai dasar pengambilan keputusan.
Di situlah letak keistimewaan Slisir Marèng Tênggèrèng.
Naskah ini mengingatkan bahwa agroklimatologi pada mulanya bukan sekadar
kumpulan angka, grafik, dan persamaan matematis, melainkan juga laku kebudayaan.
Dari pengamatan yang tekun itu lahir pengetahuan yang tidak tertulis dalam
rumus, tetapi tertanam dalam ingatan kolektif dan diwariskan melalui tembang.
Di tengah zaman
ketika keputusan pertanian semakin bergantung pada model numerik, citra
satelit, dan kecerdasan buatan, Slisir Marèng Tênggèrèng mengajak kita
untuk tidak kehilangan kepekaan dasar sebagai pembaca alam. Teknologi modern
tentu memperluas kemampuan manusia, tetapi kebijaksanaan lama mengingatkan
bahwa data hanya bermakna jika disertai ketekunan mengamati dan kerendahan hati
untuk mendengarkan semesta. Pada akhirnya, agroklimatologi bukan semata ilmu
untuk meramal musim, melainkan ikhtiar untuk memahami irama kehidupan dan
menjaga harmoni antara manusia, tanah, air, dan langit. Hamamangun hayuning
bawana, merawat keindahan dan keseimbangan dunia.
(SiBu Bayan)