Catatan Kampus Cikabayan
Siang itu sebuah
pesan WAG masuk dari Bu Rum di Tuban. Isinya sederhana, nyaris seperti
pengumuman di grup Gerakan Petani Nusantara.
“Manganan atau
sedekah bumi pak, dilaksanakan setelah panen raya sebagai wujud syukur kepada
Allah SWT atas rejeki yg diberikan kepada masyarakat desa. Dimulai hari Kamis
tanggal 21 Mei 2025 dari punden/makam nenek moyang tertua di desa (makam Mbah
Sunan Geseng), hari ini putaran kedua di makam Mbah Menak Cenggereng, putaran
ketiga tanggal 28 Mei di makam desa, terakhir tanggal 24 Juni di sendang
desa/sumur gede.”
Pesan singkat itu
datang dari Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Awalnya penulis
menganggap pesan itu tampak seperti informasi biasa tentang tradisi sedekah
bumi masyarakat desa. Namun, semakin dibaca, susunan tempat yang disebutkan di
dalamnya justru terasa seperti sebuah peta. Ada makam leluhur, makam tokoh
desa, makam desa, lalu berakhir di sendang desa atau sumur gede. Sebuah
urutan ruang yang seolah memperlihatkan simpul-simpul utama kehidupan
masyarakat Desa Gesing.
Di tengah
berbagai diskusi modern tentang perubahan iklim, kecerdasan buatan, prediksi
cuaca, dan ketahanan pangan, masyarakat Desa Gesing ternyata telah lama
memiliki cara sendiri untuk menjaga keberlanjutan hidup mereka. Cara itu tidak
selalu hadir dalam bentuk teknologi canggih, tetapi tersimpan dalam ritual,
tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun.
Manganan adalah salah satunya.
Di banyak desa di
Tuban, Manganan atau sedekah bumi dilaksanakan setelah panen raya. Warga
membawa makanan, hasil bumi, tumpeng, dan doa bersama sebagai ungkapan syukur
atas hasil panen yang diperoleh. Tetapi jika dicermati lebih dalam, ritual ini
bukan hanya tentang rasa syukur. Ia juga merupakan mekanisme sosial untuk
menjaga hubungan manusia dengan tanah, musim, air, dan komunitasnya sendiri.
Desa Gesing berada di wilayah Semanding yang dikenal
memiliki bentang lahan kapur dan kawasan karst khas Tuban. Dalam lanskap
seperti ini, air adalah perkara yang penting. Saat musim hujan datang, air
segera mengalir masuk ke rekahan batu kapur dan sebagian sulit tertahan di
permukaan. Ketika kemarau tiba, tanah cepat mengering dan sumber air menjadi
penentu keberlangsungan hidup masyarakat desa. Fakta ini jadi menarik, ketika rangkaian Manganan justru berakhir di
sendang desa.
Dalam perspektif ekologis, titik akhir itu bukan kebetulan.
Air adalah pusat kehidupan desa. Panen hanya dapat terjadi jika hujan cukup,
tanah mampu menyimpan air, dan sumber-sumber air tetap bertahan sepanjang musim
kemarau. Maka penghormatan terhadap sendang desa sebenarnya
adalah bentuk kesadaran ekologis masyarakat desa gesing terhadap nilai penting
air bagi keberlanjutan hidup mereka.
Modernisasi sering kali memandang ritual semacam ini sebagai
folklor (tradisi lama yang diwariskan) bahkan mitos yang tidak lagi
relevan. Padahal di dalamnya tersimpan sistem pengetahuan ekologis yang sudah
menyatu dalam tulang mereka. Masyarakat desa menjaga memori tentang sumber air
bukan melalui papan informasi atau dokumen, tetapi melalui ritual kolektif yang
terus diulang setiap tahun. Cara itu membuat sendang desa tetap hadir
dalam kesadaran sosial masyarakat, bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan
bagian dari kehidupan bersama.
Ritual Manganan di Desa Gesing juga berlangsung di
ruang-ruang ekologis yang masih menyimpan jejak lanskap lama desa. Warga
berjalan menyusuri jalan tanah di bawah tegakan pepohonan menuju makam leluhur
sambil membawa makanan dan hasil bumi bersama-sama. Dalam bentang karst Tuban
yang akrab dengan musim kering, ruang-ruang seperti makam desa dan sendang
sering sekaligus menjadi kantong vegetasi dan penjaga tata air lokal. Tradisi
itu secara tidak langsung ikut merawat hubungan masyarakat dengan lanskap yang
menopang kehidupan mereka.
Rangkaian Manganan dari makam leluhur hingga sendang
desa memperlihatkan hubungan yang utuh antara manusia dan lanskapnya. Makam
leluhur menyimpan ingatan tentang asal-usul desa. Ritual bersama memperkuat
solidaritas sosial. Sedekah makanan menciptakan redistribusi hasil panen.
Sementara sendang desa/sumur gede menjadi simbol keberlanjutan ekologis.
Semua simpul itu saling terhubung membentuk sistem ketahanan desa menghadapi
ketidakpastian musim.
Saat ini, kita dengan pengetahuan modern mungkin menyebutnya
sebagai ketahanan iklim atau climate resilience. Namun, masyarakat desa
tidak mengenalnya melalui istilah akademik. Mereka merawatnya melalui doa
bersama, ziarah makam, makan bersama, dan penghormatan terhadap sumber air.
Di banyak tempat, perubahan iklim kini hadir dalam bentuk
musim yang semakin sulit diprediksi. Kemarau menjadi lebih panjang, hujan turun
lebih ekstrem, dan produksi pangan semakin rentan. Pembangunan dalam situasi
seperti itu sering hanya berfokus pada teknologi, misalnya bendungan, sensor
cuaca, aplikasi prakiraan musim, atau varietas tanaman baru. Semua itu penting.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kemampuan masyarakat menjaga
kohesi sosial dan hubungan moral dengan lingkungan hidupnya.
Manganan menunjukkan bahwa ketahanan iklim tidak
semata-mata persoalan teknologi, tetapi juga persoalan kebudayaan. Desa yang mampu
bertahan bukan hanya desa yang memiliki sumber daya alam, melainkan juga desa
yang masih memiliki solidaritas, ingatan kolektif, dan penghormatan terhadap
ruang hidupnya.
Masyarakat Desa Gesing mungkin tidak menyebut Manganan
sebagai adaptasi iklim. Namun, mereka sebenarnya sedang merawat simpul-simpul
ketahanan hidup desa, ingatan leluhur, kebersamaan warga, hasil panen, dan
sumber air yang menjaga kehidupan tetap berlangsung dari musim ke musim.
Ritual Manganan
bukan sekadar upacara tradisional, tetapi cara masyarakat desa membaca kembali
hubungan mereka dengan musim dan kehidupan. Dari makam leluhur hingga sendang
desa, menelusuri ulang peta jalan ketahanan hidup mereka sendiri.
(SiBu Bayan)