Jumat, 08 Mei 2026

Dari Srengenge (matahari) ke Musim: Pelajaran Iklim dari Desa di Pasuruan

 Catatan kampus Cikabayan

Di hamparan sawah Pasuruan, Ibu Cholifah berdiri sebagai sosok perempuan tani yang tangguh. Tangannya akrab dengan lumpur sawah, tetapi pikirannya terbuka seperti cakrawala yang setiap pagi ia tatap. Ia bukan ahli klimatologi, bukan pula astronom yang meneliti pergerakan benda langit dengan teleskop. Namun seperti banyak petani yang hidup dekat dengan tanah dan musim, ia memiliki kepekaan yang diasah oleh pengalaman panjang, kemampuan membaca tanda-tanda kecil di langit dan menerjemahkannya menjadi keputusan penting bagi tanaman.

Setiap pagi ia menatap ufuk Timur, memperhatikan tempat matahari terbit dari hari ke hari.

“Nek arep ketigo, srengenge metuhe rada condhong neng lor. Nek arep rendheng, srengenge mojok neng kidul.” (Kalau mau masuk musim kemarau, matahari terbitnya agak condong ke Utara. Kalau mau masuk musim hujan, matahari bergeser ke Selatan)

Ungkapan itu terdengar sederhana, nyaris seperti percakapan biasa di pematang sawah. Namun di balik kalimat singkat tersebut tersimpan pengetahuan yang lahir dari pengamatan panjang terhadap langit dan musim. Apa yang dibaca Ibu Cholifah bukan sekadar arah matahari, melainkan hubungan antara gerak benda langit, angin musiman, dan ketersediaan air di lahan pertanian.

Pasuruan terletak sekitar 7,5 derajat di Selatan khatulistiwa. Di lintang seperti ini, titik terbit matahari tidak pernah tetap. Sepanjang tahun, posisinya bergeser di sepanjang cakrawala Timur mengikuti gerak semu tahunan matahari, konsekuensi dari kemiringan sumbu bumi sekitar 23,5 derajat.

Bagi orang yang berdiri menghadap Timur, arah kiri adalah Utara dan arah kanan adalah Selatan. Sekitar pertengahan tahun, terutama dari Mei hingga Agustus, titik terbit matahari bergeser ke kiri, semakin condong ke Utara. Pada saat yang sama, Monsun Australia membawa massa udara yang relatif kering dari benua Australia. Hujan mulai berkurang, embun pagi menipis, dan sawah perlahan memasuki musim kemarau.

Sebaliknya, menjelang akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, matahari tampak “mojok” ke kanan, ke arah Selatan. Bersamaan dengan itu, Monsun Asia membawa udara lembap dari lautan menuju kepulauan Indonesia. Awan tumbuh lebih sering, hujan turun lebih teratur, dan petani mulai menyiapkan lahan untuk musim tanam.

Pada posisi lintang di Pasuruan, pergeseran titik terbit matahari dapat mencapai sekitar dua puluh empat derajat ke Utara maupun ke Selatan dari arah Timur sejati. Bagi petani yang setiap hari memandang cakrawala dengan patokan gunung, pohon, atau ujung galengan, perubahan itu sangat mudah dikenali. Langit menjadi kalender, dan matahari menjadi jarum penunjuk musim.

Bagi Ibu Cholifah, pengetahuan ini bukan teori astronomi, melainkan alat untuk mengambil keputusan. Ketika matahari mulai condong ke Utara, ia memahami bahwa cadangan air akan semakin terbatas. Saat matahari bergeser ke Selatan, itu pertanda bahwa hujan akan kembali dan tanah siap menerima benih. Dari pengamatan sederhana tersebut, petani menentukan kapan mengolah lahan, memilih varietas, dan memperhitungkan risiko.

Namun Ibu Cholifah tidak berhenti pada pengetahuan yang diwariskan leluhur. Bersama kelompok GKT Tani Makmur, ia juga memanfaatkan Automatic Weather Station (AWS) yang dipasang di wilayah mereka. Alat ini merekam curah hujan, suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan berbagai parameter cuaca lainnya secara otomatis. Data tersebut membantu petani memverifikasi tanda-tanda alam yang selama ini mereka amati, sekaligus memberikan informasi yang lebih rinci untuk menyusun strategi budidaya.

Di tangan Ibu Cholifah, tradisi dan teknologi tidak saling menggantikan, melainkan saling menguatkan. Pengamatan terhadap matahari memberi konteks ekologis yang kaya, sementara AWS menyediakan data kuantitatif yang dapat dianalisis. Keduanya berpadu menjadi sistem pengetahuan yang tangguh, kearifan lokal yang diperkaya sains modern.

Apa yang dilakukan Ibu Cholifah mengingatkan kita bahwa agroklimatologi tidak hanya lahir dari laboratorium atau citra satelit. Ia juga tumbuh di pematang sawah, dalam pengamatan yang sabar, dan dalam kemampuan petani membaca tanda-tanda kecil di cakrawala. Di Jawa ada Pranata Mangsa, di Bali ada Wariga, dan di Pasuruan ada petani yang memadukan arah terbit matahari dengan sensor cuaca otomatis.

Di tengah perubahan iklim yang membuat pola hujan semakin sulit ditebak, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting. Teknologi modern memberi data yang rinci, tetapi pengalaman petani menyediakan tafsir yang kontekstual. Sensor dapat mencatat angka, tetapi petani memahami maknanya bagi tanah, air, dan tanaman.

Pada akhirnya, kisah dari Pasuruan ini menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak harus memilih antara tradisi dan teknologi. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Setiap pagi, ketika matahari sedikit bergeser di ufuk Timur, Ibu Cholifah membaca tanda-tanda musim dengan mata yang diasah pengalaman, lalu mengonfirmasinya dengan data dari AWS. Dari pertemuan langit dan sensor itulah lahir pengetahuan yang memungkinkan petani tetap tangguh menghadapi iklim yang terus berubah.

Di ujung percakapan itu, penulis menyadari bahwa pengetahuan tidak selalu lahir di ruang kuliah, laboratorium, atau observatorium. Kadang-kadang ia tumbuh dari tangan yang akrab dengan lumpur, dari mata yang tekun menatap cakrawala, dan dari keberanian untuk memadukan warisan leluhur dengan teknologi modern. Ibu Cholifah menunjukkan bahwa seorang petani dapat sekaligus menjadi pengamat langit, pembaca musim, dan ilmuwan di lahannya sendiri. Penulis berterima kasih kepadanya, karena melalui kesederhanaan tutur dan ketajaman pengamatannya, penulis kembali diingatkan bahwa langit selalu berbicara kepada mereka yang sabar memperhatikan, dan bahwa ilmu pengetahuan sering kali tumbuh paling subur di pematang sawah.

(Sibu Bayan)