Jumat, 15 Mei 2026

Mengingat Alm. Bapak Abu Yamin di Gerbang Tol Gending

Catatan Kampus Cikabayan

Pada perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo pada minggu kedua bulan Mei, mobil yang dikendarai penulis melaju di sepanjang jalan tol Trans-Jawa dan keluar di gerbang tol Gending. Nama sebuah kecamatan di Probolinggo itu seketika mengetuk pintu ingatan, membawa penulis kembali kepada sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan cara memandang alam dengan penuh rasa hormat. Beliau adalah almarhum Bapak Abu Yamin, salah satu perintis Program Studi Agrometeorologi di Institut Pertanian Bogor, sebuah perguruan tinggi pertanian yang telah lama menjadi tempat tumbuh gagasan-gagasan penting bagi perkembangan ilmu pertanian di Indonesia.

Ingatan penulis pun melayang ke tahun kedua perkuliahan. Di ruang kuliah yang sederhana, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau menjelaskan bahwa atmosfer bukan sekadar kumpulan angka suhu, kelembapan, dan curah hujan, melainkan sistem hidup yang menentukan nasib tanaman serta kehidupan manusia. Pada suatu pertemuan, beliau mengajarkan sebuah fenomena angin lokal yang namanya terdengar puitis “Angin Gending”.

Di wilayah ini, masyarakat telah lama mengenal Angin Gending sebagai hembusan udara panas dan kering yang biasanya muncul pada musim kemarau, terutama antara Mei hingga September. Pada periode ini, wilayah Indonesia didominasi oleh angin timur hingga tenggara yang berasal dari Benua Australia. Karena Australia sedang mengalami musim dingin, massa udara yang bergerak menuju Indonesia bersifat relatif kering. Ketika aliran udara tersebut berinteraksi dengan bentang alam Probolinggo, terbentuklah fenomena lokal yang oleh masyarakat dikenal sebagai Angin Gending.

Nama “Gending” merujuk pada kecamatan di dataran rendah pesisir utara Probolinggo. Di sebelah selatan, menjulang Pegunungan Tengger dengan Gunung Bromo sebagai salah satu puncaknya yang paling dikenal. Dalam jarak sekitar lima puluh kilometer, bentang alam turun dari ketinggian lebih dari dua ribu meter hingga hampir setara dengan permukaan laut. Perbedaan elevasi ini memungkinkan udara kering bergerak turun ke dataran rendah dan memanas sepanjang perjalanannya.

Dalam meteorologi, fenomena semacam ini dikenal sebagai angin foehn. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman Föhn, yaitu nama angin panas dan kering yang bertiup dari Pegunungan Alpen menuju lembah-lembah di Swiss, Austria, dan Jerman. Ketika massa udara menaiki lereng gunung, suhunya menurun dan uap air mengembun menjadi awan atau hujan. Setelah melewati puncak, udara yang telah kehilangan sebagian besar kandungan airnya turun kembali, terkompresi, dan menjadi semakin panas serta kering.

Ketika Angin Gending bertiup, udara terasa lebih terik, debu beterbangan, dan tanaman membutuhkan lebih banyak air. Namun masyarakat Gending tidak memandangnya semata sebagai ancaman. Mereka membaca angin ini sebagai penanda musim yang memengaruhi keputusan sehari-hari.

Wilayah Gending dan sekitarnya berkembang sebagai kawasan pertanian intensif. Mangga merupakan komoditas unggulan utama Probolinggo dan telah menjadi identitas daerah. Selain itu, bawang merah juga menjadi komoditas penting yang banyak dibudidayakan di dataran rendah seperti Gending. Pada mangga, udara kering membantu merangsang pembungaan, meskipun angin yang terlalu kuat dapat menyebabkan bunga dan buah muda rontok. Pada bawang merah, kelembapan yang rendah membantu menekan penyakit, tetapi kebutuhan air meningkat akibat tingginya laju penguapan.

Petani beradaptasi dengan mengoptimalkan irigasi, sumur pompa, mulsa, dan bahan organik agar tanah tetap menyimpan air. Mereka menyesuaikan waktu tanam dengan ritme musim dan memanfaatkan udara kering untuk mempercepat pengeringan hasil panen. Dengan demikian, Angin Gending tidak hanya dipandang sebagai tantangan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi produksi.

Namun, ada ironi yang patut direnungkan. Istilah Angin Gending, yang dahulu diajarkan sebagai contoh penting dalam kuliah agroklimatologi, kini semakin jarang terdengar di kalangan mahasiswa dan ilmuwan iklim di Indonesia. Di tengah derasnya penggunaan model global, citra satelit, dan istilah teknis berbahasa Inggris, nama-nama lokal seperti ini perlahan tersisih dari ruang kelas dan percakapan akademik.

Padahal, istilah seperti Angin Gending menyimpan lebih dari sekadar pengetahuan meteorologis. Ia merekam hubungan panjang antara bentang alam, praktik pertanian, dan pengalaman masyarakat. Ketika istilah lokal menghilang, yang hilang bukan hanya satu kata, tetapi juga cara pandang yang menempatkan ilmu pengetahuan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Angin Gending mengajarkan bahwa adaptasi adalah inti dari pertanian. Alam tidak selalu menawarkan kondisi yang ideal, tetapi melalui pengetahuan, pengalaman, dan ketekunan, masyarakat mampu mengubah hembusan angin yang panas dan kering menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan kehidupan. Dan mungkin, selama nama Angin Gending masih diingat dan diceritakan kembali, hubungan antara ilmu, alam, dan budaya akan tetap terjaga. Warisan almarhum Bapak Abu Yamin akan terus hidup dalam cara murid-muridnya membaca langit, mendengarkan angin, dan memahami bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya adalah upaya untuk hidup selaras dengan alam.

(SiBu Bayan)