Catatan Kampus Cikabayan
Pada perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo pada minggu kedua bulan Mei, mobil yang dikendarai penulis melaju di sepanjang jalan tol Trans-Jawa dan keluar di gerbang tol Gending. Nama sebuah kecamatan di Probolinggo itu seketika mengetuk pintu ingatan, membawa penulis kembali kepada sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan cara memandang alam dengan penuh rasa hormat. Beliau adalah almarhum Bapak Abu Yamin, salah satu perintis Program Studi Agrometeorologi di Institut Pertanian Bogor, sebuah perguruan tinggi pertanian yang telah lama menjadi tempat tumbuh gagasan-gagasan penting bagi perkembangan ilmu pertanian di Indonesia.
Ingatan penulis pun melayang ke tahun kedua perkuliahan. Di ruang kuliah yang sederhana, dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau menjelaskan bahwa atmosfer bukan sekadar kumpulan angka suhu, kelembapan, dan curah hujan, melainkan sistem hidup yang menentukan nasib tanaman serta kehidupan manusia. Pada suatu pertemuan, beliau mengajarkan sebuah fenomena angin lokal yang namanya terdengar puitis “Angin Gending”.
Di wilayah ini, masyarakat telah lama mengenal Angin Gending
sebagai hembusan udara panas dan kering yang biasanya muncul pada musim
kemarau, terutama antara Mei hingga September. Pada periode ini, wilayah Indonesia didominasi oleh angin timur hingga
tenggara yang berasal dari Benua Australia. Karena Australia sedang mengalami
musim dingin, massa udara yang bergerak menuju Indonesia bersifat relatif
kering. Ketika aliran udara tersebut berinteraksi dengan bentang alam
Probolinggo, terbentuklah fenomena lokal yang oleh masyarakat dikenal sebagai
Angin Gending.
Nama “Gending”
merujuk pada kecamatan di dataran rendah pesisir utara Probolinggo. Di sebelah
selatan, menjulang Pegunungan Tengger dengan Gunung Bromo sebagai salah satu
puncaknya yang paling dikenal. Dalam jarak sekitar lima puluh kilometer,
bentang alam turun dari ketinggian lebih dari dua ribu meter hingga hampir
setara dengan permukaan laut. Perbedaan elevasi ini memungkinkan udara kering
bergerak turun ke dataran rendah dan memanas sepanjang perjalanannya.
Dalam
meteorologi, fenomena semacam ini dikenal sebagai angin foehn. Istilah ini
berasal dari bahasa Jerman Föhn, yaitu nama angin panas dan kering yang
bertiup dari Pegunungan Alpen menuju lembah-lembah di Swiss, Austria, dan
Jerman. Ketika massa udara menaiki lereng gunung, suhunya menurun dan uap air
mengembun menjadi awan atau hujan. Setelah melewati puncak, udara yang telah
kehilangan sebagian besar kandungan airnya turun kembali, terkompresi, dan
menjadi semakin panas serta kering.
Ketika Angin Gending bertiup, udara terasa lebih terik, debu
beterbangan, dan tanaman membutuhkan lebih banyak air. Namun masyarakat Gending
tidak memandangnya semata sebagai ancaman. Mereka membaca angin ini sebagai
penanda musim yang memengaruhi keputusan sehari-hari.
Wilayah Gending dan sekitarnya berkembang sebagai kawasan
pertanian intensif. Mangga merupakan komoditas unggulan utama Probolinggo dan
telah menjadi identitas daerah. Selain itu, bawang merah juga menjadi komoditas
penting yang banyak dibudidayakan di dataran rendah seperti Gending. Pada
mangga, udara kering membantu merangsang pembungaan, meskipun angin yang
terlalu kuat dapat menyebabkan bunga dan buah muda rontok. Pada bawang merah,
kelembapan yang rendah membantu menekan penyakit, tetapi kebutuhan air meningkat
akibat tingginya laju penguapan.
Petani
beradaptasi dengan mengoptimalkan irigasi, sumur pompa, mulsa, dan bahan
organik agar tanah tetap menyimpan air. Mereka menyesuaikan waktu tanam
dengan ritme musim dan memanfaatkan udara kering untuk mempercepat pengeringan
hasil panen. Dengan demikian, Angin Gending tidak hanya dipandang sebagai
tantangan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi produksi.
Namun, ada ironi yang patut direnungkan. Istilah Angin
Gending, yang dahulu diajarkan sebagai contoh penting dalam kuliah
agroklimatologi, kini semakin jarang terdengar di kalangan mahasiswa dan
ilmuwan iklim di Indonesia. Di tengah derasnya penggunaan model global, citra
satelit, dan istilah teknis berbahasa Inggris, nama-nama lokal seperti ini
perlahan tersisih dari ruang kelas dan percakapan akademik.
Padahal, istilah seperti Angin Gending menyimpan lebih dari
sekadar pengetahuan meteorologis. Ia merekam hubungan panjang antara bentang
alam, praktik pertanian, dan pengalaman masyarakat. Ketika istilah lokal
menghilang, yang hilang bukan hanya satu kata, tetapi juga cara pandang yang
menempatkan ilmu pengetahuan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Angin Gending
mengajarkan bahwa adaptasi adalah inti dari pertanian. Alam tidak selalu
menawarkan kondisi yang ideal, tetapi melalui pengetahuan, pengalaman, dan
ketekunan, masyarakat mampu mengubah hembusan angin yang panas dan kering
menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan kehidupan. Dan mungkin,
selama nama Angin Gending masih diingat dan diceritakan kembali, hubungan
antara ilmu, alam, dan budaya akan tetap terjaga. Warisan almarhum Bapak Abu
Yamin akan terus hidup dalam cara murid-muridnya membaca langit, mendengarkan
angin, dan memahami bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya adalah upaya untuk
hidup selaras dengan alam.
(SiBu Bayan)