Jumat, 01 Mei 2026

Menggembala Iklim di Selasar Klinik Tanaman

 Catatan Kampus Cikabayan


Penulis memanggilnya Pakde Widodo dan Pak Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yang lebih sering ditemui di antara kebun percobaan dan percakapan petani daripada ruang kelas. Di kampus, ia dikenal sebagai akademisi, tetapi di lapangan ia lebih sering menjadi pendengar daripada pemberi ceramah.

Hari itu hujan turun pelan di Kampus Dramaga. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat selasar Klinik Tanaman menjadi tempat singgah yang nyaman. Kami bertiga duduk di sana. Kopi sudah mulai dingin, tapi percakapan justru baru menghangat.

Petani, kata beliau-beliau sore itu, sebenarnya tidak pernah berhenti membaca alam. Bukan dengan istilah ilmiah, tetapi melalui tanda-tanda yang terus berulang. Dan mungkin justru di situlah letak pengetahuan yang sering kita lupakan, bahwa membaca tanda adalah bagian dari cara manusia memahami dunia.

Percakapan sore itu tidak berhenti pada kalimat-kalimat yang diucapkan. Ia seperti berlanjut diam-diam, menyusup ke cara penulis melihat ulang hubungan manusia dengan musim. Jauh sebelum istilah prediksi cuaca dan model iklim digunakan, orang-orang di Nusantara telah hidup dalam cara membaca musim yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Di Jawa, ada Pranata Mangsa, sebuah sistem penanggalan musim dalam tradisi agraris masyarakat Jawa. Ia bukan sekadar pembagian waktu, tetapi cara mengenali perubahan alam melalui tubuhnya sendiri. Tanah yang mulai retak, rumput yang menguning, udara siang yang semakin terik, dan malam yang terasa lebih dingin menjadi tanda bahwa musim bergeser. Ketika hujan mulai datang, ia sering didahului oleh perubahan kecil, suara katak yang semakin sering, serangga yang kembali ramai, dan bau tanah yang mulai basah.

Cara membaca tanda itu juga hidup dalam bentuk yang lebih halus. Dalam Primbon Jawa, perubahan musim dikenali dari perilaku makhluk kecil: semut yang berpindah sebelum hujan, burung yang terbang lebih rendah, atau suara katak yang memenuhi malam. Dalam Serat Pawukon, waktu tidak pernah benar-benar netral. Setiap siklus membawa kecenderungan alam, ada masa basah, ada masa kering, dan manusia diminta menyesuaikan diri.

Di laut, cara membaca itu hadir dalam bentuk lain. Dalam Lontara Pelayaran dari tradisi Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan, angin dan arus laut dibaca sebagai ritme yang menentukan perjalanan. Ada musim ketika laut membuka jalan, dan ada saat ketika ia menutup diri. Perubahan warna langit, arah burung laut, hingga gelombang kecil menjadi bahasa yang harus dipahami sebelum layar dikembangkan.

Dalam La Galigo dari masyarakat Bugis, hubungan itu bahkan meluas ke tingkat kosmologis. Hujan, badai, dan angin tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari keseimbangan antara dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Ketika keseimbangan itu terganggu, alam merespons dalam bentuk yang bisa dirasakan manusia.

Cara membaca iklim yang serupa juga tumbuh di Sumatra, meskipun dengan penekanan yang berbeda.

Dalam Tambo Minangkabau dari Sumatra Barat, musim tidak selalu dibaca dari langit, tetapi dari air. Aliran sungai, kestabilan hujan di wilayah hulu, dan kondisi tanah menjadi penanda utama dalam menentukan waktu membuka sawah atau membangun pemukiman. Perubahan iklim dirasakan sebagai perubahan dalam aliran kehidupan itu sendiri.

Dalam Pustaha Batak dari masyarakat Batak di Sumatra Utara, tanda-tanda alam dibaca melalui perpaduan yang lebih luas: posisi bintang, arah angin, dan perilaku makhluk hidup. Pengetahuan ini menjadi bagian dari cara menentukan waktu tanam dan berbagai keputusan penting lainnya.

Sementara dalam Undang-Undang Tanjung Tanah dari wilayah Kerinci, Jambi, hubungan manusia dengan alam diatur melalui norma sosial. Pembukaan hutan, pengelolaan air, dan penggunaan lahan tidak dilakukan sembarangan, karena perubahan kecil pada lingkungan dapat berujung pada gangguan yang lebih besar.

Jika di Jawa musim dibaca dari tanah, dan di laut dari angin, maka di Sumatra ia sering dibaca dari air, dari bagaimana ia mengalir, meluap, atau perlahan menghilang. Sementara dalam kronik seperti Babad Tanah Jawi dari tradisi Jawa dan Hikayat Banjar dari Kalimantan Selatan, iklim muncul sebagai peristiwa yang mengubah kehidupan: kekeringan panjang, banjir besar, dan musim yang datang tidak pada waktunya. Di Bali, Wariga memperlihatkan bagaimana waktu, ritual, dan alam berjalan dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa semua cara ini tidak pernah berusaha menghilangkan ketidakpastian. Justru sebaliknya, ia menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan.

Di sisi lain, kita hari ini hidup dengan cara membaca yang berbeda. Lembaga seperti BMKG menyajikan prakiraan cuaca berbasis data pengamatan dan pemodelan. Model global seperti ECMWF menghitung dinamika atmosfer dalam skala yang jauh lebih luas. Kita bisa melihat kemungkinan hujan, suhu, dan pola angin dengan tingkat detail yang sebelumnya tidak terbayangkan. Namun pada akhirnya, semua itu tetap berbicara dalam bahasa yang sama: kemungkinan.

Di titik itu, penulis mulai melihat bahwa cara lama dan cara modern tidak benar-benar bertentangan. Keduanya bekerja pada lapisan yang berbeda.

Yang satu membaca tanda di alam secara langsung.
Yang lain membaca pola melalui data dan model.

Yang satu tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama musim.
Yang lain berkembang dari kemampuan manusia mengukur dan mensimulasikan.

Keduanya, pada dasarnya, sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dipastikan. Dari sanalah metafora itu kembali terasa masuk akal. Di Nusantara, iklim tidak pernah sekadar diprediksi. Ia digembalakan: dibaca, diikuti, dan dinegosiasikan melalui tanda-tanda alam.

“Menggembala” di sini bukan berarti menguasai, tetapi menjaga hubungan. Tidak terlalu jauh hingga kehilangan kepekaan, dan tidak terlalu dekat hingga merasa mampu mengendalikan.

Hujan benar-benar berhenti. Daun-daun basah di halaman tampak seperti catatan yang belum selesai dibaca.

Di Kampus Dramaga, percakapan seperti ini tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berpindah dari satu selasar ke selasar lain, dari satu musim ke musim berikutnya. Dan mungkin memang begitu cara kita hidup dengan iklim. Bukan dengan menaklukkannya, tetapi dengan terus belajar membacanya, lagi dan lagi.

(SiBu Bayan)