Catatan Kampus Cikabayan
Pada sebuah kesempatan acara kumpul petani ASEAN di Science Techno Park IPB, Kampus Taman Kencana, Bogor, penulis berkesempatan bertemu perempuan-perempuan petani tangguh di Indonesia. Salah satunya adalah Bu Rum Zaenab, petani tangguh dari Tuban, Jawa Timur. Beliau bercerita tentang buah asam yang mulai ranum hingga matang sebagai pertanda musim kemarau telah tiba, dengan istilah yang khas “Bediding Asem Kemledak”. Dengan gayanya yang lugas, ia mengisahkan bahwa di jalan masuk desanya dulu berdiri pohon-pohon asam raksasa. Kini tinggal empat pohon saja, itu pun buahnya tak lagi lebat seperti dulu, dan sebagian tumbang dimakan usia. Sambil menerawang ke masa kecilnya, ia mengenang siang hari sepulang sekolah, berteduh di bawah rindangnya asam, menunggu buah jatuh ditiup angin, lalu memungutnya dengan riang. Bagi Bu Rum, pohon asam bukan sekadar tanaman, melainkan penanda waktu, ruang bermain, sekaligus saksi perubahan desa.
Pohon asam jawa (Tamarindus
indica), memang memiliki kedudukan istimewa dalam lanskap pedesaan di Jawa.
Ia bukan hanya sumber rasa dalam dapur, tetapi juga bagian dari “kalender
ekologis” yang hidup di ingatan petani. Istilah bediding merujuk pada sensasi
dingin-kering di awal hingga pertengahan kemarau, ketika angin timur mulai
dominan dan kelembapan udara menurun. Pada fase inilah buah asam mencapai
puncak kematangannya. Kulit polong mengering, daging buah memekat, dan tangkai
mulai rapuh sehingga buah mudah rontok oleh angin. Peristiwa ini
bukan sekadar fenomena botani, melainkan bahasa alam yang dibaca dengan teliti
oleh petani.
Secara ilmiah, apa yang dibaca Bu
Rum bukanlah “ramalan” datangnya kemarau, melainkan indikasi bahwa kemarau
sedang mulai berlangsung. Pohon asam tidak memprediksi jauh ke depan. Ia merespons perubahan
lingkungan yang sudah terjadi. Dalam konteks ini, pohon asam berfungsi sebagai
bioindikator musiman, organisme yang memperlihatkan perubahan fase hidupnya
sebagai respons langsung terhadap suhu, kelembapan, dan ketersediaan air tanah.
Dalam “kalender alami” petani di desa Ibu Rum Zaenab, posisi
pohon asam dapat dibaca sebagai rangkaian tanda yang utuh. Ketika bunga muncul
di akhir musim hujan, itu menandai awal transisi. Saat buah masih muda di awal
kemarau, proses perubahan sedang berlangsung, dan ketika buah mencapai fase
matang-kering, yang oleh Bu Rum disebut “bediding asem kemledak” itulah
penegasan bahwa kemarau benar-benar telah hadir.
Kemampuan ini bukan kebetulan.
Secara morfologis, pohon asam memiliki daun majemuk kecil-kecil (pinnate) yang
efektif mengurangi kehilangan air melalui transpirasi. Tajuknya lebar, tetapi struktur
daunnya memungkinkan pengaturan penguapan yang efisien. Sistem perakarannya
dalam dan kuat, mampu menjangkau cadangan air tanah bahkan saat permukaan mulai
mengering. Buahnya berbentuk polong dengan kulit luar yang mengeras saat matang.
Sebuah adaptasi yang melindungi biji sekaligus memungkinkan proses pengeringan
alami di musim kemarau.
Dari sisi fisiologis, pohon asam menunjukkan strategi khas
ekosistem monsun. Pembungaan umumnya terjadi di akhir musim hujan, ketika
ketersediaan air masih cukup dan energi tanaman berada pada kondisi optimal.
Setelah itu, saat memasuki awal kemarau, energi dialihkan ke pembesaran dan
pematangan buah. Penurunan kelembapan udara dan meningkatnya radiasi matahari
justru mempercepat proses pemekatan gula dan pengeringan daging buah,
menghasilkan rasa asam yang lebih tajam dan khas. Pada saat yang sama, jaringan
tangkai buah mengalami penurunan kadar air, sehingga buah lebih mudah lepas. Fenomena
yang oleh Bu Rum disebut “kemledak”.
Jika ditarik lebih jauh, keberadaan pohon asam di Pulau Jawa
juga tidak lepas dari sejarah panjang pengelolaan lanskap. Pada masa kolonial,
pohon asam banyak ditanam di sepanjang jalan sebagai peneduh dan penanda jalur
distribusi. Ia menjadi bagian dari infrastruktur ekologis sekaligus sosial. Memberi
teduh bagi manusia, sekaligus menyediakan sumber pangan dan ekonomi. Dalam
waktu yang panjang, pohon ini bertransformasi dari sekadar tanaman menjadi
penanda ruang dan waktu.
Namun hari ini, seperti yang
disampaikan Bu Rum, banyak pohon asam tua yang hilang, tumbang oleh usia,
ditebang karena pelebaran jalan, atau dipangkas hingga kehilangan
produktivitasnya. Hilangnya pohon-pohon ini bukan hanya kehilangan vegetasi,
tetapi juga memudarnya sistem pengetahuan lokal. Ketika “Bediding Asem
Kemledak” tak lagi mudah diamati, maka satu lapisan pembacaan musim
ikut menghilang.
Kisah Bu Rum menghadirkan perspektif lain, bahwa lanskap
menyimpan arsip hidup tentang iklim. Pohon asam berdiri diam, tetapi tubuhnya
mencatat perubahan. Dari bunga di ujung musim hujan hingga buah yang mengering
di awal kemarau. Ia tidak berbicara dalam angka, tetapi dalam rasa,
tekstur, dan waktu. Dan bagi mereka yang terbiasa mendengarnya, itu sudah lebih
dari cukup untuk memahami kapan musim benar-benar berganti.
(SiBu Bayan)