Senin, 29 Juni 2026

Wariga dan Kerta Masa: Menjaga Percakapan dengan Langit, Air, dan Gunung

 Catatan Kampus Cikabayan


Pada akhir April 2022, penulis berkesempatan mengunjungi Desa Ababi di Kecamatan Abang, Karangasem. Saat itu penulis sedang mengecek lokasi yang akan digunakan untuk pemasangan Automatic Weather Station (AWS) atau stasiun cuaca otomatis. Dari lokasi tersebut, hamparan sawah terasering terlihat membentang hingga kaki Gunung Agung. Di sela kegiatan survei, penulis berbincang dengan seorang Kelian Subak mengenai pola musim dan pengelolaan air di wilayah itu.

Percakapan kemudian mengarah pada Kartika, gugus bintang yang oleh orang Jawa dikenal sebagai Lintang Wuluh, oleh masyarakat Lombok disebut Rowot, dan dalam astronomi modern dikenal sebagai Pleiades. Menurutnya, sekitar bulan Mei gugus bintang itu mulai tampak di ufuk timur menjelang fajar. Dalam tradisi Wariga Bali, kemunculan Kartika menjadi salah satu penanda penting dalam pembacaan musim. Namun seperti pengetahuan musim tradisional lainnya, Kartika tidak dibaca secara terpisah. Kehadirannya dipahami bersama arah angin, keadaan air, dan berbagai gejala alam lain yang muncul pada waktu yang sama.

Percakapan itu mengingatkan penulis bahwa jauh sebelum masyarakat mengenal prakiraan cuaca, radar hujan, atau model iklim global, mereka telah mengembangkan cara sendiri untuk memahami perubahan musim. Sebagian memperhatikan tumbuhan dan satwa, sebagian mengamati arah angin dan keadaan air, sementara sebagian lainnya menengadah ke langit membaca pergerakan benda-benda langit yang berulang dari tahun ke tahun.

AWS membantu manusia mencatat cuaca dengan ketelitian yang semakin tinggi. Namun percakapan sore itu menunjukkan bahwa kebutuhan untuk memahami musim telah hadir jauh lebih lama daripada teknologi yang digunakan untuk mengukurnya. Yang berubah bukanlah tujuan akhirnya, melainkan cara manusia membaca tanda-tanda alam. Di Bali, salah satu warisan pengetahuan tersebut dikenal dengan nama Wariga.

Saat ini Wariga lebih sering dikaitkan dengan penentuan hari baik untuk berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, akar pengetahuan ini tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat agraris dalam memahami hubungan antara langit, musim, air, dan kehidupan sehari-hari. Wariga bukan sekadar cara menghitung waktu, melainkan cara memahami keteraturan alam.

Keteraturan itu terasa sangat nyata di Karangasem. Tidak jauh dari lokasi tempat penulis berdiri, terdapat mata air yang selama puluhan tahun menghidupi kawasan Tirta Gangga dan sawah-sawah di sekitarnya. Bahkan ketika musim kemarau mulai mengurangi debit sungai dan mengeringkan sumur di beberapa tempat, mata air tersebut tetap mengalir jernih.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan mata air itu tidak dapat dipisahkan dari hutan-hutan yang masih bertahan di lereng Gunung Agung dan perbukitan Lempuyang. Hujan yang jatuh pada musim penghujan disimpan oleh tanah dan vegetasi, kemudian dilepaskan kembali secara perlahan melalui mata air. Air yang mengalir di saluran irigasi pada musim kemarau sesungguhnya adalah hujan yang turun berbulan-bulan sebelumnya.

Di banyak tempat yang penulis kunjungi, percakapan tentang musim pada akhirnya selalu berujung pada persoalan air. Di Karangasem hubungan itu tampak sangat jelas. Musim dibaca dari langit, tetapi dampaknya dirasakan pada mata air. Apa yang diamati di cakrawala pada dini hari akan menentukan keputusan-keputusan yang dibuat di sawah beberapa bulan kemudian.

Pengetahuan tentang musim dan air itu kemudian dijalankan melalui Subak. Selama ini Subak sering dipahami sebagai organisasi pengairan. Padahal yang dijaga bukan hanya saluran air, melainkan juga kesepakatan sosial yang memungkinkan air dibagi secara adil di antara para petani. Melalui pertemuan-pertemuan Subak, petani menentukan waktu tanam, mengatur giliran air, dan berbagi informasi mengenai kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Dengan cara itulah pengetahuan tentang musim terus diwariskan, tidak hanya melalui lontar atau kalender, tetapi juga melalui percakapan sehari-hari dan pengalaman lapangan.

Namun kehidupan pertanian di Karangasem memiliki satu unsur lain yang selalu hadir dalam setiap pembicaraan tentang musim, yaitu Gunung Agung. Bagi masyarakat di lerengnya, gunung itu adalah sumber kehidupan sekaligus sumber ketidakpastian. Dari lerengnya mengalir air yang menghidupi sawah. Dari material vulkaniknya lahir tanah yang subur. Namun dari gunung yang sama pula dapat datang abu vulkanik, longsor, maupun banjir lahar.

Ketika Gunung Agung kembali meletus pada tahun 2017, banyak sawah dan jaringan irigasi mengalami kerusakan. Sebagian lahan tertutup material vulkanik, sebagian lagi terdampak aliran lahar hujan. Akan tetapi kehidupan pertanian tidak berhenti. Saluran yang rusak diperbaiki, sawah ditata kembali, dan musim tanam dilanjutkan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membaca musim tidak pernah berarti mengendalikan alam sepenuhnya. Setepat apa pun manusia memahami tanda-tanda lingkungan, selalu ada ruang bagi ketidakpastian yang tidak dapat diprediksi.

Mungkin karena itulah masyarakat Bali mengenal istilah kerta masa, keadaan ketika musim berjalan sebagaimana mestinya (iklim normal). Hujan datang pada waktunya, mata air tetap mengalir, dan tanaman tumbuh mengikuti siklus yang telah dikenal turun-temurun. Kerta masa bukan sekadar musim yang baik, melainkan keadaan ketika hubungan antara manusia dan alam berada dalam keseimbangan.

Saat meninggalkan Ababi, puncak Gunung Agung perlahan tertutup kabut. Air masih mengalir di saluran-saluran yang membelah sawah, sementara Kartika akan segera muncul di ufuk timur beberapa minggu lagi. Di Karangasem, musim tidak dibaca dari satu tanda saja. Ia dipahami melalui percakapan panjang antara langit, air, dan gunung.

Barangkali itulah makna terdalam dari Wariga dan Kerta Masa. Bukan sekadar penanggalan atau pengetahuan tentang musim, melainkan upaya untuk terus menjaga percakapan dengan alam. Sebab ketika percakapan itu terputus, manusia tidak hanya kehilangan kemampuan membaca musim, tetapi juga kehilangan sebagian dari ingatan tentang bagaimana hidup berdampingan dengan lingkungan yang menopang kehidupannya.

(SiBu Bayan)