Catatan Kampus Cikabayan
Percakapan kemudian mengarah pada Kartika, gugus bintang yang oleh orang Jawa dikenal sebagai Lintang Wuluh, oleh masyarakat Lombok disebut Rowot, dan dalam astronomi modern dikenal sebagai Pleiades. Menurutnya, sekitar bulan Mei gugus bintang itu mulai tampak di ufuk timur menjelang fajar. Dalam tradisi Wariga Bali, kemunculan Kartika menjadi salah satu penanda penting dalam pembacaan musim. Namun seperti pengetahuan musim tradisional lainnya, Kartika tidak dibaca secara terpisah. Kehadirannya dipahami bersama arah angin, keadaan air, dan berbagai gejala alam lain yang muncul pada waktu yang sama.
Percakapan itu
mengingatkan penulis bahwa jauh sebelum masyarakat mengenal prakiraan cuaca,
radar hujan, atau model iklim global, mereka telah mengembangkan cara sendiri
untuk memahami perubahan musim. Sebagian memperhatikan tumbuhan dan satwa,
sebagian mengamati arah angin dan keadaan air, sementara sebagian lainnya
menengadah ke langit membaca pergerakan benda-benda langit yang berulang dari
tahun ke tahun.
AWS membantu
manusia mencatat cuaca dengan ketelitian yang semakin tinggi. Namun percakapan
sore itu menunjukkan bahwa kebutuhan untuk memahami musim telah hadir jauh
lebih lama daripada teknologi yang digunakan untuk mengukurnya. Yang berubah
bukanlah tujuan akhirnya, melainkan cara manusia membaca tanda-tanda alam. Di
Bali, salah satu warisan pengetahuan tersebut dikenal dengan nama Wariga.
Saat ini Wariga
lebih sering dikaitkan dengan penentuan hari baik untuk berbagai kegiatan adat
dan keagamaan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, akar pengetahuan ini tumbuh
dari pengalaman panjang masyarakat agraris dalam memahami hubungan antara
langit, musim, air, dan kehidupan sehari-hari. Wariga bukan sekadar cara
menghitung waktu, melainkan cara memahami keteraturan alam.
Keteraturan itu
terasa sangat nyata di Karangasem. Tidak jauh dari lokasi tempat penulis
berdiri, terdapat mata air yang selama puluhan tahun menghidupi kawasan Tirta
Gangga dan sawah-sawah di sekitarnya. Bahkan ketika musim kemarau mulai
mengurangi debit sungai dan mengeringkan sumur di beberapa tempat, mata air
tersebut tetap mengalir jernih.
Bagi masyarakat
setempat, keberadaan mata air itu tidak dapat dipisahkan dari hutan-hutan yang
masih bertahan di lereng Gunung Agung dan perbukitan Lempuyang. Hujan yang
jatuh pada musim penghujan disimpan oleh tanah dan vegetasi, kemudian
dilepaskan kembali secara perlahan melalui mata air. Air yang mengalir di
saluran irigasi pada musim kemarau sesungguhnya adalah hujan yang turun
berbulan-bulan sebelumnya.
Di banyak tempat
yang penulis kunjungi, percakapan tentang musim pada akhirnya selalu berujung
pada persoalan air. Di Karangasem hubungan itu tampak sangat jelas. Musim
dibaca dari langit, tetapi dampaknya dirasakan pada mata air. Apa yang diamati
di cakrawala pada dini hari akan menentukan keputusan-keputusan yang dibuat di
sawah beberapa bulan kemudian.
Pengetahuan tentang musim dan air itu kemudian dijalankan
melalui Subak. Selama ini Subak sering dipahami sebagai organisasi pengairan.
Padahal yang dijaga bukan hanya saluran air, melainkan juga kesepakatan sosial
yang memungkinkan air dibagi secara adil di antara para petani. Melalui
pertemuan-pertemuan Subak, petani menentukan waktu tanam, mengatur giliran air,
dan berbagi informasi mengenai kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Dengan
cara itulah pengetahuan tentang musim terus diwariskan, tidak hanya melalui
lontar atau kalender, tetapi juga melalui percakapan sehari-hari dan pengalaman
lapangan.
Namun kehidupan pertanian di Karangasem memiliki satu unsur
lain yang selalu hadir dalam setiap pembicaraan tentang musim, yaitu Gunung
Agung. Bagi masyarakat di lerengnya, gunung itu adalah sumber kehidupan
sekaligus sumber ketidakpastian. Dari lerengnya mengalir air yang menghidupi
sawah. Dari material vulkaniknya lahir tanah yang subur. Namun dari gunung yang
sama pula dapat datang abu vulkanik, longsor, maupun banjir lahar.
Ketika Gunung Agung kembali meletus pada tahun 2017, banyak
sawah dan jaringan irigasi mengalami kerusakan. Sebagian lahan tertutup
material vulkanik, sebagian lagi terdampak aliran lahar hujan. Akan tetapi
kehidupan pertanian tidak berhenti. Saluran yang rusak diperbaiki, sawah ditata
kembali, dan musim tanam dilanjutkan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membaca musim tidak
pernah berarti mengendalikan alam sepenuhnya. Setepat apa pun manusia memahami
tanda-tanda lingkungan, selalu ada ruang bagi ketidakpastian yang tidak dapat
diprediksi.
Mungkin karena itulah masyarakat Bali mengenal istilah kerta
masa, keadaan ketika musim berjalan sebagaimana mestinya (iklim normal).
Hujan datang pada waktunya, mata air tetap mengalir, dan tanaman tumbuh
mengikuti siklus yang telah dikenal turun-temurun. Kerta masa bukan sekadar
musim yang baik, melainkan keadaan ketika hubungan antara manusia dan alam
berada dalam keseimbangan.
Saat meninggalkan Ababi, puncak Gunung Agung perlahan tertutup
kabut. Air masih mengalir di saluran-saluran yang membelah sawah, sementara
Kartika akan segera muncul di ufuk timur beberapa minggu lagi. Di Karangasem,
musim tidak dibaca dari satu tanda saja. Ia dipahami melalui percakapan panjang
antara langit, air, dan gunung.
Barangkali itulah
makna terdalam dari Wariga dan Kerta Masa. Bukan sekadar penanggalan
atau pengetahuan tentang musim, melainkan upaya untuk terus menjaga percakapan
dengan alam. Sebab ketika percakapan itu terputus, manusia tidak hanya
kehilangan kemampuan membaca musim, tetapi juga kehilangan sebagian dari ingatan
tentang bagaimana hidup berdampingan dengan lingkungan yang menopang
kehidupannya.
(SiBu Bayan)