Catatan Kampus Cikabayan
Bu Parjiyem, pegiat tanaman pangan lokal di Gunung Kidul,
menunjukkan kepada penulis pohon Gembili dan Uwi yang tumbuh di pekarangan dan
kebun lahan kering desanya. Dalam penuturannya, kedua tanaman umbi itu bukan
sekadar sumber pangan alternatif, melainkan telah lama menjadi semacam “modal
hidup” yang menopang ketahanan pangan masyarakat setempat di musim-musim yang
tidak menentu. Yang menarik, penjelasan beliau tidak berhenti pada aspek
budidaya atau konsumsi, tetapi meluas ke cara membaca alam: iklim, hujan, dan
pergeseran kualitas musim.
Gembili (Dioscorea esculenta) dan uwi (Dioscorea alata) bagi Bu Parjiyem seperti “primbon hidup” musim tanam. Perilaku tumbuhnya, kapan mulai tumbuh stabil, kapan merambat kuat, dan kapan mulai mengisi umbi, dibaca sebagai tanda-tanda alam yang membantu petani menilai apakah musim hujan benar-benar berjalan baik atau hanya datang sebentar lalu hilang.
Di lanskap kering
Gunung Kidul, di antara batu kapur yang menyimpan panas siang hari dan tanah
tipis yang cepat kehilangan air setelah hujan berhenti, kedua tanaman ini
tumbuh bukan sebagai komoditas utama, melainkan sebagai penyangga yang diam. Mereka
hidup di ruang-ruang yang sering diabaikan: tegalan, pekarangan, dan kebun
campuran yang tidak sepenuhnya tunduk pada kalender tanam modern.
Dalam cara pandang
seperti ini, tanaman tidak berdiri sebagai objek pasif, tetapi sebagai medium
komunikasi antara manusia dan iklim. Ia menyimpan jejak hujan dalam umbi,
menyimpan jeda panas dalam batang, dan menyimpan ingatan musim dalam siklus
tumbuhnya. Apa yang dalam bahasa sains disebut fenologi, dalam praktik
sehari-hari petani menjadi semacam “bahasa diam” yang dibaca tanpa alat ukur.
Jika dalam tulisan
tentang gadung terlihat bagaimana umbi dapat merespons datangnya musim hujan
melalui kemunculan tunas, maka gembili dan uwi bekerja dengan cara yang lebih
pelan dan lebih hati-hati. Mereka tidak bereaksi terhadap hujan pertama, tetapi
terhadap hujan yang sudah menetap. Bagi tanaman ini, musim bukan peristiwa singkat,
melainkan keadaan yang harus cukup lama berlangsung.
Secara sederhana, keduanya membutuhkan tanah yang benar-benar sudah menyimpan air, bukan sekadar basah sesaat. Karena itu, mereka lebih tepat dibaca sebagai penanda bahwa musim hujan telah menjadi stabil, bukan sebagai penanda awal musim. Dari sini, perannya bergeser: bukan “pembuka musim”, tetapi “penguji musim”. Dari cara hidup, keduanya memulai dari umbi yang ditanam di awal musim hujan. Tunas kemudian muncul, batang merambat, dan daun mulai membentuk kanopi kecil yang mencari cahaya di antara vegetasi lain. Fase ini berlangsung cepat dan terlihat jelas di permukaan tanah.
Namun, perubahan
penting justru terjadi ketika musim hujan mulai memasuki fase lebih matang.
Pertumbuhan ke atas melambat, sementara energi tanaman mulai dialihkan ke bawah
tanah. Di sinilah umbi mulai terbentuk dan membesar sebagai tempat penyimpanan
cadangan makanan. Seolah-olah tanaman ini sedang menulis ulang energinya dari
bentuk yang terlihat menjadi bentuk yang tersembunyi.
Secara umum,
gembili dan uwi adalah tanaman yang tidak menyukai kondisi ekstrem. Mereka
tidak tumbuh optimal pada panas yang terlalu kering, tetapi juga tidak tahan
pada genangan yang berlebihan. Mereka hidup dari keseimbangan. Cukup
air, cukup waktu, dan cukup kestabilan. Dalam bahasa sederhana, mereka bukan
tanaman yang “hebat karena cepat”, tetapi karena “mampu menyimpan apa yang
sudah terjadi”. Keunggulan mereka bukan pada kecepatan tumbuh, tetapi pada
kemampuan mengubah musim yang stabil menjadi cadangan pangan di dalam tanah.
Secara morfologi,
perbedaan keduanya cukup jelas. Gembili membentuk umbi kecil-kecil yang
bergerombol, seperti sistem cadangan yang tersebar. Uwi membentuk umbi yang
lebih besar dan lebih padat, seperti penyimpanan energi dalam satu pusat yang
kuat. Keduanya sama-sama merambat, tetapi uwi cenderung lebih kuat dan lebih
dominan dalam mencari penopang. Daunnya berbentuk hati, lebar, dan efektif
menangkap cahaya dibandingkan tanaman lain.
Perbedaan bentuk
ini juga memengaruhi cara masyarakat memaknainya. Gembili sering dianggap
sebagai cadangan cepat yang bisa dipanen lebih awal, sementara uwi dipandang
sebagai simpanan jangka panjang, sejenis tabungan pangan yang disimpan lebih
lama di dalam tanah.
Dalam pembacaan Bu
Parjiyem, seluruh siklus ini menjadi bagian dari pengetahuan musim yang tidak
tertulis. Ketika gembili tumbuh stabil tanpa gangguan, itu dibaca sebagai tanda
bahwa musim hujan tidak hanya datang, tetapi juga akan bertahan. Ketika uwi mampu membentuk
sulur kuat dan rapi, itu menjadi isyarat bahwa musim cukup panjang untuk
memungkinkan pembentukan umbi besar.
Dengan cara itu,
tanaman tidak hanya menjadi objek budidaya, tetapi juga perangkat pembacaan
iklim. Fenologi berubah menjadi bahasa ekologis yang menghubungkan air, tanah,
dan waktu dalam satu sistem yang hidup. Batas antara pengetahuan lokal dan
sains menjadi kabur. Yang satu menyebutnya pranata mangsa, yang lain
menyebutnya ekologi musim. Namun keduanya bertemu pada kesadaran yang sama, bahwa
tubuh tanaman adalah arsip iklim yang hidup, dan kebun adalah ruang pembacaan
yang tidak pernah selesai.
Jika dalam
pengalaman sebelumnya gadung menunjukkan bagaimana tunas dapat menjadi penanda
dinamika awal hujan, maka gembili dan uwi memperluas pembacaan itu menjadi
penilaian yang lebih dalam, yaitu apakah musim yang datang benar-benar menjadi musim atau hanya sekadar hujan yang lewat.
Dan mungkin, di
tengah perubahan iklim yang membuat musim semakin sulit ditebak, yang perlahan
hilang bukan hanya pola hujan itu sendiri, tetapi juga kemampuan manusia untuk
membaca bahasa halus yang dulu ditulis oleh tanaman.
(SiBu Bayan)