Catatan Kampus Cikabayan
Akhir-akhir ini, jagat maya digegerkan oleh satu istilah yang terdengar mengerikan: “El Nino Godzilla.” Kata “Godzilla”. Monster raksasa perusak kota dari layar perak Jepang, seolah menjadi kiasan yang pas menggambarkan kekeringan panjang, gagal panen, dan kebakaran hutan yang akan melanda Indonesia. Media sosial ramai, ada yang waspada, tak sedikit pula yang panik dan berbondong-bondong menyimpan persediaan air dan beras.
Istilah ini sendiri mulai mencuat ke ruang publik pada pertengahan Maret 2026, ketika peneliti dari lembaga ternama negeri ini mempublikasikan peringatan awal melalui kanal media sosialnya. Momentum paling kuat terjadi pada 19–20 Maret 2026, saat unggahan di akun X dan Instagram menyinggung potensi kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode April–Oktober 2026. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh peneliti ternama dari lembaga beken di negeri ini , dan segera meluas setelah diberitakan media nasional pada hari berikutnya.
Dalam proses penyebaran tersebut,
istilah “Godzilla” kemudian muncul sebagai bahasa populer untuk menggambarkan
potensi kondisi iklim yang dianggap lebih ekstrem dari normal. Namun penting
dicatat, beberapa peneliti juga menegaskan bahwa istilah tersebut digunakan
dalam konteks komunikasi risiko, bukan sebagai kategori ilmiah resmi. Mereka
menekankan bahwa setiap fenomena iklim tetap harus didasarkan pada kajian
ilmiah yang ketat dan tidak boleh disederhanakan secara berlebihan dalam
istilah populer.
Dampaknya, informasi tersebut tidak berhenti di ruang wacana ilmiah dan
media. Di tingkat lapangan, ia berubah menjadi keputusan-keputusan nyata yang
sangat praktis dan mahal. Di Bojonegoro, misalnya, sejumlah petani bawang
memilih membatalkan musim tanam karena membayangkan ketersediaan air yang akan
menurun drastis. Sebagian kemudian beralih ke komoditas tembakau, dengan asumsi
lebih tahan terhadap kondisi kering. Namun keputusan itu justru berbalik
menjadi kerugian ketika hujan masih turun hingga awal Mei 2026, membuat biaya
produksi tanam tembakau yang sudah dikeluarkan menjadi tidak kembali. Di
berbagai daerah lain, pola serupa juga terjadi, petani menunda tanam, mengubah
komoditas, bahkan menghentikan musim tanam sama sekali karena kekhawatiran
terhadap “El Nino Godzilla”.
Namun benarkah monster itu akan
datang pada tahun 2026 ini? Atau jangan-jangan ini hanya cerita horor musiman
yang sengaja dibesar-besarkan? Mari kita bedah dengan jernih berdasarkan fakta
ilmiah.
Tidak Ada “Godzilla” dalam Kamus Iklim
Pertama-tama perlu diluruskan: dalam
literatur resmi ilmu iklim global, tidak pernah ada istilah “El Nino Godzilla.”
Lembaga seperti WMO (World Meteorological Organization), NOAA (National Oceanic
and Atmospheric Administration), dan BMKG hanya mengklasifikasikan El Nino
berdasarkan anomali suhu permukaan laut di Pasifik tengah, yaitu: Lemah: 0,5 –
0,9 °C di atas normal, Moderat: 1,0 – 1,4 °C, Kuat: 1,5 – 1,9 °C dan Sangat kuat: ≥ 2,0 °C.
Lalu dari mana “Godzilla” berasal? Istilah ini awalnya muncul sebagai
analogi informal oleh seorang ilmuwan NASA sekitar 2015 untuk menggambarkan El
Nino yang sangat kuat saat itu. Namun media kemudian mengangkatnya keluar dari
konteks ilmiah, membungkusnya dengan sensasi, dan menyebarkannya sebagai
seolah-olah kategori resmi. Padahal dalam rilis resmi BMKG maupun NOAA hingga
hari ini, “Godzilla” tidak pernah ada dalam klasifikasi apa pun.
Lalu bagaimana dengan prediksi El Nino tahun 2026? Apakah kita sedang
menuju bencana besar seperti yang ramai diberitakan?
Berdasarkan pembaruan berbagai pusat iklim dunia, termasuk BMKG, NOAA,
JAMSTEC (Jepang), IRI Columbia University, NASA, serta Bureau of Meteorology
(BOM) Australia, kondisi awal tahun 2026 secara umum masih berada dalam fase ENSO
netral. Artinya, tidak ada dominasi signifikan antara El Nino maupun La Nina
pada skala global.
Memasuki pertengahan tahun (sekitar Juni–Agustus 2026), sebagian model
prediksi mulai menunjukkan kemungkinan berkembangnya kondisi El Nino, namun
dengan ketidakpastian yang masih cukup tinggi. Secara umum, skenario yang
paling konsisten dari berbagai lembaga tersebut adalah El Nino lemah hingga
moderat, bukan kejadian ekstrem. Meski demikian, sejumlah model juga
memperlihatkan kecenderungan penguatan anomali suhu secara bertahap, sehingga
tetap diperlukan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang bisa berkembang jika
kondisi atmosfer mendukung. Dengan kata lain, arah perubahannya perlu
dicermati, meskipun skalanya saat ini belum menunjukkan sinyal menuju kejadian
ekstrem.
Dalam terminologi ilmiah, ini berarti anomali suhu permukaan laut Pasifik
cenderung berada pada kisaran rendah hingga menengah, bukan pada ambang
kejadian ekstrem. Dengan kata lain, tidak ada indikasi kuat menuju El Nino
kategori sangat kuat, apalagi sesuatu yang bisa disebut “Godzilla.”
Beberapa rilis model iklim dari lembaga seperti IRI dan NASA seasonal
outlook juga menekankan hal yang sama. Adanya potensi El Nino tidak otomatis
berarti kekeringan ekstrem, karena dampaknya sangat bergantung pada interaksi
atmosfer lain seperti angin pasat, suhu regional, dan kondisi Indo-Pasifik
secara keseluruhan.
Sementara itu, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 secara klimatologis
memang berpotensi lebih kering dibanding rata-rata 30 tahun terakhir di
sejumlah wilayah, tetapi masih dalam kisaran variabilitas iklim normal, bukan
anomali ekstrem seperti pada peristiwa 1997 atau 2015. Dengan kata lain,
membaca seluruh konsensus data dari lembaga-lembaga tersebut, maka tidak ada
dasar ilmiah yang cukup untuk menyebut El Nino 2026 sebagai “Godzilla.”
Efek “Serigala
Datang” dalam Komunikasi Sains: Harga Mahal dari Narasi Sensasional
Mungkin ada yang berpendapat: “Tapi istilah Godzilla membuat orang lebih
waspada.” Di sinilah masalahnya. Dalam komunikasi risiko, ini dikenal sebagai
efek cry wolf, serigala datang. Narasi yang terlalu dramatis
memang bisa memicu kewaspadaan sesaat, tetapi sering kali mengorbankan akurasi.
Efek jangka pendeknya mungkin
terlihat positif: orang bersiap, pemerintah bergerak, publik memperhatikan isu
iklim. Namun dampak jangka panjangnya bisa berbahaya. Ketika prediksi “monster”
ternyata tidak terjadi, kepercayaan publik akan terkikis. Masyarakat bisa
berkata: “Ah, ini cuma alarm palsu
lagi.” Dan itu masalah serius. Karena ketika El
Nino yang benar-benar kuat datang, peringatan bisa saja tidak lagi dianggap
penting. Krisis kepercayaan jauh lebih berbahaya daripada kekeringan itu
sendiri.
Selain itu, narasi monster
cenderung mendorong kepanikan, bukan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan membutuhkan
tindakan rasional seperti pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, dan mitigasi
kebakaran. Sementara kepanikan sering melahirkan reaksi irasional: penimbunan
berlebihan, keputusan ekstrem, atau bahkan fatalisme.
Matikan Godzilla, Hidupkan Logika
Sudah saatnya kita menyepakati
satu hal sederhana: “El Nino Godzilla” bukan istilah ilmiah, bukan kategori
resmi, dan bukan alat komunikasi risiko yang sehat. Yang kita hadapi bukan
monster fiksi, melainkan variasi iklim nyata yang perlu dipahami dengan data
dan konteks. Musim kemarau 2026
mungkin lebih kering dari rata-rata. Itu fakta. Tetapi mengubahnya menjadi
cerita monster hanya akan menambah kebisingan, bukan pemahaman.
Percayalah pada data BMKG, NOAA,
JAMSTEC (Jepang), IRI Columbia University, NASA dan lembaga ilmiah lainnya,
bukan pada judul-judul sensasional yang lebih dekat ke film daripada ke sains. Sebab
pada akhirnya, ancaman terbesar dalam isu iklim bukanlah El Nino itu sendiri,
melainkan disinformasi tentang El Nino.
Dan mungkin, monster yang paling
perlu kita waspadai hari ini bukanlah Godzilla, melainkan cara kita
menceritakan sains tanpa kendali.
(SiBu Bayan)