Catatan Kampus Cikabayan
Beberapa hari lalu, sahabat penulis, Pak Sudargo, mengirimkan beberapa foto melalui WhatsApp. Ia bukan hanya seorang petani lahan kering di Pati Selatan, tetapi juga bagian dari jejaring AWS Komunitas, sebuah gerakan petani pengamat iklim yang tumbuh melalui gotong royong dan berbagi pengetahuan. Foto-foto yang ia kirim memperlihatkan hamparan padi yang masih tampak hijau di tengah musim kemarau.
Pada salah satu foto, ia menuliskan keterangan singkat: “Padi IPB 10, sudah 79 HST di lahan extrem kering. Saat ini hanya mengandalkan embun n keajaiban Tuhan lurr."
Pada foto berikutnya ia kembali mengirim kabar: "Ini IPB 9 luas
0,25 ha umur 88 HST. Insyaallah 100 HST kalo gak ad halangan
panen lurr."
Lalu satu kalimat pendek yang
membuat penulis berhenti sejenak: "Hujan terakhir tgl 24 Mei."
Kalimat itu menarik, bukan hanya karena datang dari seorang petani, tetapi juga dari seorang pengamat iklim yang setiap hari memantau cuaca di lahannya sendiri. Jika hujan terakhir turun pada 24 Mei, lalu dari mana tanaman-tanaman itu memperoleh air hingga mampu bertahan mendekati masa panen? Berapa banyak cadangan air yang masih tersimpan di dalam tanah? Sampai kapan tanaman mampu bertahan sebelum mulai mengalami cekaman kekeringan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu
semakin penting di tengah perubahan iklim yang membuat musim semakin sulit
ditebak. Kekeringan bekerja diam-diam, mengurangi sedikit demi sedikit cadangan
air yang tersimpan di dalam tanah jauh sebelum gejalanya tampak pada tanaman.
Selama berabad-abad petani belajar membaca perubahan musim melalui tanda-tanda
alam: arah angin, bentuk awan, perilaku serangga, atau suara burung di sekitar
lahan. Namun ketika pola musim menjadi semakin tidak menentu, sebagian tanda
itu tidak selalu mudah ditafsirkan. Karena itu diperlukan cara membaca yang
baru. Bukan untuk menggantikan pengetahuan yang telah hidup di tengah
masyarakat, melainkan untuk melengkapinya. Jika dahulu petani membaca langit
dan tanah, kini mereka juga dapat membaca data untuk memahami apa yang tidak
selalu tampak oleh mata.
Di berbagai daerah, jejaring AWS
Komunitas memasang Automatic Weather Station (AWS) di lahan pertanian
untuk merekam curah hujan, suhu udara, kelembapan, angin, dan radiasi matahari
yang benar-benar dialami tanaman. Namun data cuaca hanyalah awal dari proses
membaca. Bagi petani, pertanyaan yang paling penting bukanlah berapa milimeter
hujan yang turun kemarin, melainkan berapa banyak air yang masih tersisa di
dalam tanah untuk menopang pertumbuhan tanaman. Dari kebutuhan inilah data
cuaca diolah menjadi informasi tentang cadangan air yang dapat digunakan untuk
mengambil keputusan di lapangan.
Di berbagai daerah, jejaring AWS
Komunitas memasang Automatic Weather Station (AWS) di lahan pertanian
untuk merekam kondisi cuaca yang benar-benar dialami tanaman. Namun data cuaca
hanyalah awal dari proses membaca. Dari kebutuhan untuk mengetahui berapa
banyak air yang masih tersedia bagi tanaman, data tersebut diolah menjadi Indeks
Kelembapan Tanah atau Soil Moisture Index (SMI), yang dihitung dari
neraca air harian dengan memperhitungkan hujan sebagai pemasukan dan
evapotranspirasi sebagai pengeluaran. Sederhananya, SMI berfungsi seperti
penunjuk bahan bakar yang membantu mengetahui kapan cadangan air mulai menipis,
jauh sebelum tanaman menunjukkan gejala layu.
Kemampuan membaca lebih awal
inilah yang menjadi inti dari sistem peringatan dini kekeringan yang
dikembangkan melalui kolaborasi antara jejaring AWS Komunitas, Departemen
Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Yayasan
Patembayatan Sinau Bumi. Hasilnya disajikan melalui platform KAT Monitoring
yang dapat diakses melalui kat.awskomunitas.id dan kat.sinaubumi.org.
Keduanya merupakan bagian dari ekosistem pengetahuan yang dibangun oleh
jejaring AWS Komunitas melalui awskomunitas.id dan map.sinaubumi.org.
Melalui platform ini, data cuaca
yang semula berupa deretan angka diterjemahkan menjadi informasi yang lebih
mudah dipahami. Pengguna dapat melihat kondisi curah hujan, evapotranspirasi,
neraca air, serta Indeks Kelembapan Tanah pada berbagai lokasi pengamatan. Informasi
tersebut disajikan dalam bentuk yang sederhana. Warna hijau menunjukkan kondisi
yang masih aman. Warna kuning menandakan perlunya kewaspadaan. Warna oranye
menunjukkan kondisi siaga. Sementara warna merah menjadi tanda bahwa cadangan
air telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Dengan cara ini, proses-proses yang berlangsung
diam-diam di dalam tanah dapat dibaca sebelum gejalanya muncul pada tanaman.
Platform ini dapat diakses oleh petani, penyuluh, peneliti, akademisi,
mahasiswa, pemerintah daerah, dan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap
pertanian. Data yang dikumpulkan dari lahan tidak berhenti sebagai arsip
pengamatan, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman petani
dengan dunia penelitian, pendidikan, dan pengambilan kebijakan. Bagi petani,
manfaatnya terasa langsung di lapangan. Ktika nilai SMI terus menurun, mereka
dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal, mulai dari mengatur irigasi
hingga menjaga kelembapan tanah, sehingga keputusan tidak lagi menunggu tanaman
menunjukkan gejala layu.
Yang tidak kalah penting, KAT
Monitoring bukan sekadar kumpulan sensor dan dashboard digital. Ia tumbuh dari
gotong royong antara petani, relawan, penyuluh, peneliti, akademisi, dan
pengembang sistem yang bersama-sama berupaya mengurangi risiko gagal panen
akibat kekeringan. Data yang dihasilkan AWS menjadi pengetahuan bersama yang
dapat dibaca, didiskusikan, dan dimanfaatkan oleh banyak petani dalam satu
kawasan. Dalam proses ini, pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern tidak
saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Ketika petani melihat gejala
pada tanaman, data SMI membantu menjelaskan apa yang terjadi di dalam tanah;
sebaliknya, pengalaman petani membantu menafsirkan data dan menentukan tindakan
yang paling sesuai dengan kondisi setempat. Dengan demikian, AWS Komunitas
bukan sekadar teknologi pengamatan cuaca, melainkan gotong royong pengetahuan
yang mempertemukan pengalaman petani, pembacaan data, dan kerja bersama
menghadapi ketidakpastian iklim.
Bagi Indonesia yang masih
menggantungkan sebagian besar kebutuhan pangannya pada jutaan petani kecil,
kemampuan membaca cadangan air memiliki arti yang jauh melampaui satu petak
sawah. Kekeringan yang tidak terdeteksi dapat berujung pada gagal panen, berkurangnya
pasokan pangan, hingga meningkatnya kerentanan masyarakat. Karena itu, informasi tentang kondisi air tanah
menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan. Jika jejaring AWS
Komunitas terus berkembang, data yang terkumpul dari berbagai bentang
agroekologi dapat membantu mengenali risiko kekeringan lebih awal, mendukung
penyiapan langkah-langkah adaptasi yang lebih tepat sasaran, serta menjadi
salah satu fondasi layanan iklim pertanian yang tumbuh dari bawah dan dikelola
bersama oleh masyarakat.
Pada akhirnya, sensor cuaca dan
dashboard digital hanyalah alat. Yang membuatnya bermakna adalah manusia yang
memasang, merawat, membaca, dan bertindak berdasarkan informasi yang
dihasilkannya. Sebagaimana nenek moyang kita dahulu membaca musim melalui tanda-tanda
alam, kini kita dapat melengkapinya dengan pembacaan yang lebih rinci melalui
data. Bukan untuk menggantikan kearifan yang telah lama hidup, melainkan untuk
membantu memahami perubahan-perubahan kecil yang tidak selalu tampak oleh mata,
termasuk bagaimana cadangan air di dalam tanah berkurang dari hari ke hari
sebelum gejalanya muncul pada tanaman.
Ketika Pak Sudargo menulis bahwa padinya bertahan hidup dengan embun dan keajaiban Tuhan, ia mengingatkan kita bahwa pertanian selalu berada di antara harapan, kerja keras, dan ketidakpastian alam. Teknologi mungkin tidak dapat mendatangkan hujan, tetapi dapat membantu kita memahami kapan cadangan air mulai menipis dan kapan perlu bertindak. Melalui jejaring petani pengamat iklim, AWS Komunitas menunjukkan bahwa teknologi dapat tumbuh dari kebutuhan nyata di lahan, dirawat melalui gotong royong, dan berkembang menjadi pengetahuan bersama yang terus diperkaya oleh pengalaman lapangan dan pembacaan data.
Barangkali itulah pelajaran yang dapat dipetik dari jejaring AWS Komunitas. Di tengah iklim yang semakin sulit ditebak, masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada kemampuan membaca langit, tanah, atau data, melainkan pada kesediaan untuk belajar membacanya bersama-sama.
(SiBu Bayan)