Catatan Kampus Cikabayan
Pak Sudargo, petani tadah hujan
yang tangguh dan tekun dari Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, tidak pernah
menyebut dirinya ahli iklim. Namun dari caranya bercerita tentang sawah, jelas
ia membaca musim dengan ketelitian yang tak kalah dari alat modern. Suatu hari,
ia berkisah kepada penulis tentang “runduk yuyu”, liang kecil di tanah sawah
yang digali oleh yuyu sebagai tempat berlindung. Bagi orang awam, runduk mungkin hanya tampak
seperti lubang biasa di pematang. Tetapi bagi Pak Sudargo, kemunculan runduk
dalam jumlah banyak adalah tanda yang tak pernah meleset: “kalau runduk yuyu
mulai banyak,” katanya pelan, “itu tandanya kemarau akan datang.”
Di banyak sawah tadah hujan di Pati bagian selatan, kemarau memang tidak datang sebagai tanggal di kalender. Ia muncul pelan-pelan, merambat dari tanah yang mulai mengeras, dari air yang perlahan menghilang. Dan sebelum manusia menyadarinya, seekor hewan kecil sudah lebih dulu tahu: yuyu.
Yuyu, kepiting sawah dari famili Gecarcinucidae ini termasuk dalam kelompok
kepiting air tawar yang telah beradaptasi lama dengan lingkungan darat-basah
seperti sawah. Secara morfologis, tubuhnya dilindungi karapas keras berwarna
cokelat kehitaman, dengan sepasang capit (chelae) yang kuat untuk menggali dan
mempertahankan diri, serta kaki jalan yang memungkinkan bergerak lincah di
lumpur. Insangnya tetap membutuhkan kondisi lembab untuk respirasi, sehingga
yuyu sangat sensitif terhadap perubahan kadar air di lingkungan. Secara
fisiologis, ia memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi kering dengan
menggali liang yang lebih dalam dan menjaga kelembapan mikro di dalamnya; pada
fase tertentu, aktivitasnya menurun untuk menghemat energi dan air, sebuah
strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan mulai tidak bersahabat.
Menariknya, liang-liang ini tidak muncul sembarangan. Ia muncul lebih dulu
di bagian sawah yang lebih tinggi, tempat air paling cepat menghilang. Dari
sana, pola ini perlahan “turun” mengikuti sisa-sisa kelembapan tanah. Bagi
petani yang telaten mengamati, arah munculnya runduk yuyu adalah peta tak
kasatmata tentang bagaimana air meninggalkan sawah.
Dalam bahasa ilmu tanah, ini berkaitan dengan penurunan kelembapan tanah
(soil moisture) dan meningkatnya defisit air. Namun petani tidak menyebutnya
demikian. Mereka cukup berkata: “lemah wis mulai garing”, tanah mulai
mengering.
Yang lebih halus lagi adalah cara mereka membaca “status” dari runduk itu
sendiri. Selama liang-liang yuyu masih terbuka, itu berarti tanah masih
menyimpan cukup lembab. Yuyu masih keluar masuk, masih aktif. Hujan
mungkin masih datang, walau tidak sering. Tetapi ketika liang-liang itu mulai
ditutup oleh pemiliknya (yuyu), pesan yang dibawa menjadi berbeda, kemarau
telah menetap.
Penutupan liang adalah bentuk
perlindungan. Dalam kondisi kering, yuyu masuk lebih dalam dan “mengisolasi”
dirinya dari dunia luar. Dalam biologi, ini dikenal sebagai strategi bertahan
terhadap kekeringan. Dalam bahasa
petani, ini berarti satu hal sederhana: “wis ora udan maneh”, hujan sudah
benar-benar pergi.
Namun tidak semua sawah memiliki
cerita yang sama. Di tanah lempung liat yang mampu menyimpan air lebih lama, fenomena
ini terlihat jelas. Tanahnya cukup stabil untuk digali, cukup lembab untuk
menopang kehidupan yuyu, tetapi juga cukup responsif terhadap perubahan musim.
Sebaliknya, di tanah berpasir atau “lemah gesik”, yuyu jarang ditemukan. Air
terlalu cepat hilang, tanah terlalu rapuh untuk dijadikan rumah. Maka tanda musim pun berbeda.
Di sinilah letak kekayaan pengetahuan lokal. Tidak universal, tetapi sangat
spesifik. Setiap lanskap punya bahasanya sendiri. Setiap tanah punya caranya
sendiri memberi tahu manusia tentang apa yang akan datang.
Dalam tradisi Jawa, pembacaan tanda-tanda seperti ini sejalan dengan Pranata
Mangsa. Sebuah sistem penanggalan musim yang tidak hanya bergantung pada waktu,
tetapi juga pada gejala alam. Mekarnya bunga, arah angin, perilaku hewan,
hingga perubahan rasa tanah di telapak kaki. Yuyu adalah bagian dari “kalender
hidup” itu.
Pengetahuan seperti ini pelan-pelan menghilang. Bukan karena ia tidak lagi
relevan, tetapi karena ia tidak lagi dilihat. Generasi petani muda “mungkin”
lebih akrab dengan angka prakiraan daripada tanda di lapangan. Padahal, dalam
banyak kasus, indikator seperti runduk yuyu justru lebih peka, karena ia
bekerja pada skala yang sangat lokal, bahkan pada petak sawah itu sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita kembali membumi, bahwa di bawah permukaan tanah,
ada sistem pengamatan yang telah bekerja jauh sebelum sensor modern ada. Yuyu,
dengan caranya yang sederhana, adalah pembaca musim yang setia. Ia tidak
berbicara, tetapi menggali. Dan dari galiannya, ia meninggalkan jejak yang bisa
dibaca, bagi mereka yang masih mau melihat.
Bagi Pak Sudargo, tanda-tanda itu bukan sekadar pengetahuan, melainkan
pegangan hidup. Dari runduk yuyu, ia menentukan kapan harus mulai mengurangi
tanam, kapan menahan benih, kapan bersiap menghadapi hari-hari panjang tanpa
hujan. Ketangguhan itu lahir bukan dari teori, tetapi dari kesetiaan membaca
alam yang tak pernah berbohong.
Sementara bagi penulis, kisah tentang yuyu dan liang-liangnya ini adalah
pengingat yang halus sekaligus teguran keras, bahwa di tengah kecanggihan data
dan model, ada kebijaksanaan yang tumbuh diam-diam di sawah, seringkali
terlewat karena kita terlalu sibuk melihat ke langit dan lupa menunduk ke
tanah.
Dari Pak Sudargo, penulis belajar bahwa memahami musim bukan hanya soal
menghitung, tetapi juga soal merasakan.
(Sibu Bayan)