Selasa, 05 Mei 2026

Membaca Kemarau dari Runduk Yuyu: Kisah Petani Tangguh di Pati Selatan

 Catatan Kampus Cikabayan


Pak Sudargo, petani tadah hujan yang tangguh dan tekun dari Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, tidak pernah menyebut dirinya ahli iklim. Namun dari caranya bercerita tentang sawah, jelas ia membaca musim dengan ketelitian yang tak kalah dari alat modern. Suatu hari, ia berkisah kepada penulis tentang “runduk yuyu”, liang kecil di tanah sawah yang digali oleh yuyu sebagai tempat berlindung. Bagi orang awam, runduk mungkin hanya tampak seperti lubang biasa di pematang. Tetapi bagi Pak Sudargo, kemunculan runduk dalam jumlah banyak adalah tanda yang tak pernah meleset: “kalau runduk yuyu mulai banyak,” katanya pelan, “itu tandanya kemarau akan datang.”

Di banyak sawah tadah hujan di Pati bagian selatan, kemarau memang tidak datang sebagai tanggal di kalender. Ia muncul pelan-pelan, merambat dari tanah yang mulai mengeras, dari air yang perlahan menghilang. Dan sebelum manusia menyadarinya, seekor hewan kecil sudah lebih dulu tahu: yuyu.

Yuyu, kepiting sawah dari famili Gecarcinucidae ini termasuk dalam kelompok kepiting air tawar yang telah beradaptasi lama dengan lingkungan darat-basah seperti sawah. Secara morfologis, tubuhnya dilindungi karapas keras berwarna cokelat kehitaman, dengan sepasang capit (chelae) yang kuat untuk menggali dan mempertahankan diri, serta kaki jalan yang memungkinkan bergerak lincah di lumpur. Insangnya tetap membutuhkan kondisi lembab untuk respirasi, sehingga yuyu sangat sensitif terhadap perubahan kadar air di lingkungan. Secara fisiologis, ia memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi kering dengan menggali liang yang lebih dalam dan menjaga kelembapan mikro di dalamnya; pada fase tertentu, aktivitasnya menurun untuk menghemat energi dan air, sebuah strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan mulai tidak bersahabat.

Menariknya, liang-liang ini tidak muncul sembarangan. Ia muncul lebih dulu di bagian sawah yang lebih tinggi, tempat air paling cepat menghilang. Dari sana, pola ini perlahan “turun” mengikuti sisa-sisa kelembapan tanah. Bagi petani yang telaten mengamati, arah munculnya runduk yuyu adalah peta tak kasatmata tentang bagaimana air meninggalkan sawah.

Dalam bahasa ilmu tanah, ini berkaitan dengan penurunan kelembapan tanah (soil moisture) dan meningkatnya defisit air. Namun petani tidak menyebutnya demikian. Mereka cukup berkata: “lemah wis mulai garing”, tanah mulai mengering.

Yang lebih halus lagi adalah cara mereka membaca “status” dari runduk itu sendiri. Selama liang-liang yuyu masih terbuka, itu berarti tanah masih menyimpan cukup lembab. Yuyu masih keluar masuk, masih aktif. Hujan mungkin masih datang, walau tidak sering. Tetapi ketika liang-liang itu mulai ditutup oleh pemiliknya (yuyu), pesan yang dibawa menjadi berbeda, kemarau telah menetap.

Penutupan liang adalah bentuk perlindungan. Dalam kondisi kering, yuyu masuk lebih dalam dan “mengisolasi” dirinya dari dunia luar. Dalam biologi, ini dikenal sebagai strategi bertahan terhadap kekeringan. Dalam bahasa petani, ini berarti satu hal sederhana: “wis ora udan maneh”, hujan sudah benar-benar pergi.

Namun tidak semua sawah memiliki cerita yang sama. Di tanah lempung liat yang mampu menyimpan air lebih lama, fenomena ini terlihat jelas. Tanahnya cukup stabil untuk digali, cukup lembab untuk menopang kehidupan yuyu, tetapi juga cukup responsif terhadap perubahan musim. Sebaliknya, di tanah berpasir atau “lemah gesik”, yuyu jarang ditemukan. Air terlalu cepat hilang, tanah terlalu rapuh untuk dijadikan rumah. Maka tanda musim pun berbeda.

Di sinilah letak kekayaan pengetahuan lokal. Tidak universal, tetapi sangat spesifik. Setiap lanskap punya bahasanya sendiri. Setiap tanah punya caranya sendiri memberi tahu manusia tentang apa yang akan datang.

Dalam tradisi Jawa, pembacaan tanda-tanda seperti ini sejalan dengan Pranata Mangsa. Sebuah sistem penanggalan musim yang tidak hanya bergantung pada waktu, tetapi juga pada gejala alam. Mekarnya bunga, arah angin, perilaku hewan, hingga perubahan rasa tanah di telapak kaki. Yuyu adalah bagian dari “kalender hidup” itu.

Pengetahuan seperti ini pelan-pelan menghilang. Bukan karena ia tidak lagi relevan, tetapi karena ia tidak lagi dilihat. Generasi petani muda “mungkin” lebih akrab dengan angka prakiraan daripada tanda di lapangan. Padahal, dalam banyak kasus, indikator seperti runduk yuyu justru lebih peka, karena ia bekerja pada skala yang sangat lokal, bahkan pada petak sawah itu sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita kembali membumi, bahwa di bawah permukaan tanah, ada sistem pengamatan yang telah bekerja jauh sebelum sensor modern ada. Yuyu, dengan caranya yang sederhana, adalah pembaca musim yang setia. Ia tidak berbicara, tetapi menggali. Dan dari galiannya, ia meninggalkan jejak yang bisa dibaca, bagi mereka yang masih mau melihat.

Bagi Pak Sudargo, tanda-tanda itu bukan sekadar pengetahuan, melainkan pegangan hidup. Dari runduk yuyu, ia menentukan kapan harus mulai mengurangi tanam, kapan menahan benih, kapan bersiap menghadapi hari-hari panjang tanpa hujan. Ketangguhan itu lahir bukan dari teori, tetapi dari kesetiaan membaca alam yang tak pernah berbohong.

Sementara bagi penulis, kisah tentang yuyu dan liang-liangnya ini adalah pengingat yang halus sekaligus teguran keras, bahwa di tengah kecanggihan data dan model, ada kebijaksanaan yang tumbuh diam-diam di sawah, seringkali terlewat karena kita terlalu sibuk melihat ke langit dan lupa menunduk ke tanah.

Dari Pak Sudargo, penulis belajar bahwa memahami musim bukan hanya soal menghitung, tetapi juga soal merasakan.

(Sibu Bayan)